Rumah tua di sudut desa Ottery St. Catchpole berdiri dengan kesunyian yang menyelimutinya. Dinding batu yang mulai rapuh, cat kayu yang terkelupas, dan jendela yang selalu tertutup rapat menyiratkan cerita masa lalu yang terlupakan. Angin musim panas berhembus lembut, membuat lantai kayu berderak seolah mengeluh akan usianya yang sudah lama. Namun, meskipun rumah ini hampir tak terjamah oleh waktu, di dalamnya masih ada kehidupan, meski dipenuhi bayangan masa lalu yang kelam.
Di sudut ruang makan yang temaram, seorang gadis kecil duduk dengan hati yang terombang-ambing. Aileen Charlotte Prewett, yang baru berusia sebelas tahun, memandang surat kuning yang tergeletak di meja di depannya. Jari-jarinya yang ramping sedikit gemetar saat menyentuh tepi surat itu. Lilin merah dengan segel Hogwarts di atasnya mengingatkannya pada dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, dunia yang penuh dengan sihir dan rahasia.
Aileen menatap surat itu dengan mata biru cerahnya, mata yang sering kali menjadi sumber kebencian dan sindiran dari neneknya, Muriel Prewett. Namun, kali ini, mata biru itu berkilauan, penuh dengan harapan yang jarang ia rasakan. Ia menarik napas dalam, mencoba memahami makna dari surat tersebut.
"Jadi... aku benar-benar seorang penyihir?" bisiknya dengan suara hampir tak terdengar.
Di sudut ruang dekat perapian yang jarang digunakan, Muriel mendengus pendek. Wanita tua itu mengenakan gaun gelap yang sudah lusuh, selendang rajutan terpasang di bahunya. Rambut putih keperakannya disanggul rapi, namun wajahnya yang penuh kerut memancarkan kelelahan yang dalam. Suaranya yang tajam dan penuh sindiran segera menyambut kata-kata Aileen.
"Tentu saja kau penyihir, anak bodoh," jawabnya kasar tanpa menoleh. "Kau pikir kenapa aku repot-repot memberimu tempat tinggal selama ini? Aku bisa saja menyerahkanmu ke panti asuhan Muggle kalau kau tak punya darah sihir."
Aileen menggigit bibirnya, menahan rasa sakit. Ia tahu bahwa Muriel tidak menyukainya, tapi tetap ada rasa sayang yang tersembunyi dalam setiap perlakuannya. Sebuah perasaan yang sulit dijelaskan.
"Nenek," panggil Aileen dengan suara pelan, mencoba menahan rasa takut. "Ibuku... Dia juga sekolah di Hogwarts, kan?"
Muriel terdiam sejenak. Tangannya yang semula sibuk membetulkan selendang berhenti. Ia menatap perapian kosong di depannya, lalu ekspresinya melembut, hanya sekejap, sebelum kembali menjadi dingin. Aileen bisa melihat itu, meskipun Muriel berusaha menutupinya.
"Iya," jawab Muriel akhirnya, suara rendah dan tegas. "Dia Gryffindor. Sama keras kepala seperti dirimu."
Aileen menunggu, berharap ada penjelasan lebih lanjut, tapi hanya keheningan yang datang sebagai jawaban.
"Dia baik, kan? Ibuku..." Aileen mencoba lagi, suara penuh harap.
Muriel mengangkat wajah perlahan, matanya yang buram menatap Aileen dengan tajam. "Dia pemberani," katanya pelan. "Lebih pemberani dari kebanyakan orang yang kukenal. Maka, dia mati sia-sia."
Kata-kata itu seperti pisau yang menyayat hati Aileen. Dia tahu bahwa di balik kata-kata itu tersembunyi rasa sakit yang lebih dalam, sesuatu yang tidak pernah Muriel ungkapkan sepenuhnya. Aileen merasa sesak, merasa seperti ada bagian dirinya yang hilang, yang tak akan pernah bisa ia temukan.
"Tapi jangan tanya apa pun soal dia lagi. Kau tak perlu tahu," tambah Muriel dengan nada yang tajam, menghentikan percakapan lebih lanjut.
YOU ARE READING
"Aileen Charlotte Prewett X Fred Weasley"
FantasyAileen Charlotte Prewett, merupakan cucu dari Muriel Prewett. Aileen tidak pernah benar2 mengenal kedua orangtuanya. Aileen memasuki dunia Hogwarts dengan tekad untuk membuktikan dirinya. Namun, ketika perasaan rumit tumbuh untuk Fred Weasley. Ailee...
