CINTA MONYET

69 6 0
                                        


Cinta monyet atau monyet jatuh cinta?

Kau tau rasanya jatuh cinta? Rasanya menggila, membahagiakan rasa, melambungkan angan, dan membahana dalam kalbu untuk terus membayangkannya. Can't stop thinking about him.

Yaa, aku jatuh cinta, disaat umurku tak genap 17 tahun. Dan ini pertama kalinya. Jika katamu cinta itu buta, tapi aku masih tetap melihatnya, tetap seatap dengan tujuan yang sama dengannya meraih cita.

Mengaguminya dengan diam, memandangnya dengan hati2, pastinya tanpa kau tau aku terus memantaumu sampai waktu berdering memisahkan kita. Setiap hari. Di ruang yang sama, lagi lagi tanpa kau tau.

Senyum ini merekah tatkala kau memberiku secarik kertas bertuliskan nama lengkapmu dan tentunya bukan hanya namamu saja semua orang di ruangan itu menyetorkan namanya padaku karena itu memang tugasku.

Tapi kau tau apa yang membuat ini istimewa? Jawabannya karena aku bisa lebih banyak tau tentangmu. Seperti penculik yang mengintai, ya diam diam aku selalu mengintaimu dari dekat dan kejauhan. Hanya hati yang bicara dengan mulut yang terkunci rapat untuk mengungkapkan.

Jika cinta itu tak salah aku tak akan setakut ini. Aku menikmatinya, masa masa hanya melihatmu, masa masa hanya ingin tau semua tentangmu, lagi lagi tanpa kau tau.

Putih abu-abu, masa dimana kau akan tau bahwa masa depanmu dapat kau planing dari titik ini. Alur apa yang kau ambil, majukah? Atau kau memilih mundur atau juga jalan di tempat. Dan dari sinilah awal mula aku mengenalmu.

Di kelas ini, karena sebelumnya tak pernah menyangka bahwa kita dipersatukan kembali dalam kelas yang gaduh.

Aku Keysa Putri Syalsabila

Dan hari ini pun ceritaku di mulai. Pagi pagi bener, rasanya melangkahkan kaki di sekolah seakan takut. Serasa aliran air es mengalir di sekujur tubuh. Entahlah, apa mungkin cuaca yang tak mendukung atau memang hatiku yang memikirkan hal hal yang sebenarnya enggan aku pikirkan.

Aku menelusuri lorong demi lorong deretan kelas menuju ruang BK untuk memgambil absensi. Ya ini rutinitas yang setiap hari aku jalani sebagai sekretaris kelas. Setelah sampai akupun bergegas untuk segera kembali ke kelas.

Suasana kelas masih sunyi, hanya Rani, Ria, dan Anisya yang berada di kelasku. Jangan tanya yang lain, mereka takkan datang sepagi ini. Beberapa menit kemudian satu persatu kelas dipadati dengan penghuni yang lain, dan lagi lagi mataku tertuju pada satu nama.

Ya, tatapanku tak sengaja berhenti padanya. Sosok yang mungkin ku kagumi saat ini, dari wajahnya terpancar aura nyaman jika aku melihatnya. Tak jarang aku dibuatnya tersenyum tanpa tau apa yang aku rasa. Tuhan, mungkinkah seperti ini yang dinamakan cinta?

"Sya!! Liat apaan sih?"
(sambil clingak clinguk melihat apa yang sekiranya ku lihat) Si Riri mengagetkanku.

"Ririi, kamu ngagetin ih" jawabku.

"Apanya yang ngagetin sya,lah aku dari tadi manggil kamu, nyapa kamu, malah kamu tetep g ngereken. Eh ternyata kamu ngelamun" terangnya nyerocos.

Aku hanya nyengir kuda dan minta maaf padanya.

Riri adalah sahabatku, dan juga sebangku denganku. Sifatnya yang ceria mengimbangi sifatku yang pendiam. Bukan pendiam lebih tepatnya kurang percaya diri.

Waktu berlalu, pelajaranpun usai. Pulang kerumah adalah prioritas. Aku buru buru pergi ke parkiran dengan menyusuri lorong yang sudah sepi. Tiba2 teringat, sesuatu tertinggal di meja. Tanpa pikir panjang akupun putar arah dan kembali ke kelas dengan tergesa gesa.

Gubrakkkkk

Aku menabrak seseorang.
Semua buku yang ku pegang berhamburan di lantai. Belum sempat terucap kata maaf aku langsung membereskan bukuku.

"Maaf... Aku g liat tadi" jawab seseorang itu.

"Iya gak apa apa kok. Aku yang salah.

Aku juga minta maaf" jawabku tanpa menoleh padanya.

"Ini sya novelmu" sambil menyodorkan buku novel yang biasa ku bawa.

"Iya" dan betapa terkejutnya aku, rasanya kulitku seperti mati rasa.

Lagi dan lagi seakan aku dilambungkan pada tempat dimana badanku bisa menari dan terbang dengan entengnya.

MasyaAllah, orang di depanku Sony. Aku tertegun melihatnya. Tingginya yang semampai, sorot tajam matanya, hidungnya yang mancung, dan bibir tipisnya dengan warna bibir yang indah.

Sempurna.

Aku tertegun untuk beberapa saat, sampai dia berkata.

"Kamu mau ngambil ini?" Dia mengeluarkan kacamataku dari dalam tasnya.

"Iya, kok kamu tau?" Tanyaku kikuk.

"Kebetulan tadi aku pulang terakhir, dan melihat kacamatumu di atas meja. Jadi aku bawakan saja" jelasnya.

"Makasih, maaf merepotkan" jawabku.

"Kamu mau ke parkiran? Ayo bareng." Ajaknya.

Oh God, mimpi apa aku semalam. Memikirikan saja rasanya tak pernah. Apalagi mengalami ini dengan kenyataan. MasyaAllah. Sungguh rencanamu diluar batas nalarku. Tanpa sadar akupun mengangguk mengiyakan.

Sesampainya di parkiran motorku tak bisa kukeluarkan karena terapit dua motor disamping motorku yang jaraknya terlalu berdekatan.

Memalukan!!. Disaat bersamanya, aku mesti mejadi selemah ini.
Dia mendorong motornya mendekati motorku.

"Kenapa?"

"Suli ngambil motornya, terlalu sempit" jawabku

"Biar aku aja yang ngambilin"
Tanpa pikir panjang ku serahkan kontak motorku. Dengan mudah dia mengekuarkan motorku dari apitan motor yang lain.

"Trimakasih Son. maaf lagi lagi aku merepotkanmu"

"G kok sya"
Aahhh suaranya membuatku nyaman.

"Ayo jalan, dengan mengisyaratkan aku untuk di depan"

Kami pun berpisah di pintu pagar depan. Wajahku tak berhenti tersenyum saking bahagianya. Hari ini benar benar istimewa. Tuhan maafkan aku, aku salah jika hari ini aku mencintainya. Tapi aku janji biarkan cinta ini tetap ada sampai Kau benar benar merestui cintaku, agar aku selalu dalam jalur ridhomu.

HAI kamu. aku RINDU!!Stories to obsess over. Discover now