Part 1

9 2 0
                                        

Tk

Tk

Tk

Bunyi jarum jam mengisi kesunyian di sebuah kelas. Jarum panjang yang sudah menunjuk angka 5 dan jarum pendek yang berada diantara angka 2 dan 3 menjadi tanda kalau jam belajar-mengajar hampir habis. Tidak semua murid menaruh fokus penuh pada pelajaran. Beberapa murid di deretan ketiga saling berbisik merencanakan acara makan mereka sepulang sekolah. Beberapa murid laki-laki bahkan terang-terangan menyamankan kepala mereka diatas meja, sembari mata tertutup dan pikiran menjelajah dunia mimpi penuh delusi. Beberapa sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya tersisa beberapa orang di barisan paling depan yang masih mendengar apa yang diterangkan guru.

Seorang pemuda di deretan ketiga paling ujung mengabaikan penuh penjelasan sang guru. Manik kelamnya terpaku pada langit biru di luar sana. Langit cerah, hanya sedikit awan yang berjalan pelan mengikuti tiupan angin. Suhu cukup hangat mengingat sekarang sedang musim panas.

Bel tanda pelajaran berakhir telah berdentang. Sang guru mengakhiri penjelasannya kemudian berpamitan pada seluruh murid. Dia berjalan keluar kelas mendahului semua muridnya. Tentu saja, dia guru.

Ketika seluruh penghuni kelas mulai beranjak untuk pulang, si pemuda masih setia di tempatnya, menatap langit biru di luar sana dengan begitu khusyu'.

"Bay," panggilan kecil dari arah samping sukses mengalihkan pandangan si pemuda. Bayu menoleh dan mendapati teman sebangkunya, Galang, tengah menatapnya dengan pandangan khas orang bangun tidur.

"Ya? Baru bangun? Udah puas tidurnya? Tidur terus,"

Gilang mencebik sebentar sebelum meregangkan tubuhnya. Kedua matanya melirik sekeliling hanya untuk mendapati kalau hanya dirinya dan Bayu saja yang tinggal di kelas. "Udah pada pulang ya?"

Ah, tolol sekali. "Iya, Lang. Udah pada pulang. Makanya kalau tidur itu jangan lama-lama," Bayu berdiri setelah membereskan buku-bukunya yang masih berada di kolong meja.

"Iya, Bay, iya. Bawel banget,"

"Bacot,"

"Hih,"

Setelah itu mereka meninggalkan ruang kelas untuk menuju ke kantin. Lorong-lorong sekolah relatif sepi karena ini memang sudah waktunya pulang. Bel tanda akhir pelajaran sudah berbunyi hampir tiga puluh menit yang lalu. Andai Bayu tidak berangkat bersama Gilang tadi, sudah bisa dipastikan kalau dirinya sekarang pasti sudah rebahan di kamarnya sambil main game online.

"Bu, beli ini, ini sama ini," Bayu memperhatikan Gilang yang sedang membeli jajanan di ibu kantin. Merasa bosan, Bayu mengalihkan kedua maniknya ke arah langit, menatap langit biru di musim panas tanpa ada hambatan berarti dari para awan.

"Wah, langitnya cerah."

Seseorang berkata di sampingnya. Dengan senyuman yang terbentuk, Bayu mengiyakan perkataan orang tersebut.

Namun saat dia menoleh, tidak ada siapa-siapa disana. Dia tertegun. Untuk sesaat bayangan seseorang muncul di tempat duduk disampingnya.

"Biru. Tanpa awan. Keren,"

Satu senyuman tercipta dari kedua sudut bibir si bayangan. Tanpa sadar Bayu juga kembali tersenyum. Ah, entah kenapa tiba-tiba rasanya begitu tenang.

"Bay!" Suara lain yang muncul dari arah berlawanan sukses mengagetkan Bayu. Dia melihat Gilang yang sedang menatapnya dengan tatapan heran. "Ngapain bengong? Ayok pulang!"

"Hah? Eh.. Iya, ayok," Bayu berdiri, namun tidak mengikuti Gilang yang sudah berada beberapa langkah di depannya. Dia menoleh ke belakang, kosong. Tidak ada siapa-siapa. Bayangan yang tadi dilihatnya pun sudah menghilang. Ugh, entah kenapa sudut hatinya terasa sedikit sakit.

"Ayok, Bay! Panas ini," Gilang kembali berteriak untuk menyuruh Bayu agar segera mengikutinya.

"Iya.. Iya," Setelah beberapa saat menatap ke kursi yang masih saja kosong, Bayu mengikuti Gilang. Otaknya berbisik kalau itu hanya bayangan yang tidak akan menjadi nyata, namun lain hal dengan hatinya yang berharap kalau hal itu bisa menjadi kenyataan.

Aah, aku rindu Runa.

//--^--//

silakan tinggalkan jejak jika kalian suka.. :)

DISTRACTWhere stories live. Discover now