Part 1

1.7K 35 1
                                        

Saya kini tengah duduk dihadapan televisi sambil sesekali mengambil keripik tempe yang terletak diatas meja lalu memakannya.

Kini saya tengah menyaksikan berita siang yang sudah ditonton dari setengah jam yang lalu. Saya hanya memalingkan mata ketika iklan hadir ditengah acara berita tersebut.

Saya merogoh ponsel ketika suara notifikasi berbunyi. Dilihatnya layar ponsel itu.

Bintang Hierofani menjadi pemeran utama dalam serial drama Muslimah Berhijrah

"Ah ternyata hanya berita," saya bergumam.

Saya pun kembali melihat layar televisi yang kini acaranya sudah berganti menjadi 'Infotainment Seleb'.

Disana terlihat seorang wanita berparas cantik tengah diwawancarai oleh para wartawan.

"Bagaimana perasaan anda menjadi pemeran utama dalam serial drama muslimah berhijrah?"

"Ya..saya merasa sangat antusias dan senang bisa ikut berkontribusi dalam serial drama ini,"

"Bagaimana kesiapan anda untuk mengenakan hijab dalam serial drama ini?"

"Ya Inshaa Allah saya sudah siap,walaupun sebenarnya saya kurang nyaman dalam mengenakan hijab,"

Saya kembali membuka layar ponsel lalu menyamakan wajah wanita yang ada di televisi dengan wanita diponsel saya.

Oh ini...Bintang Hierofani.

Saya melirik jam yang tertempel di dinding.

11:30

Setelah mematikan televisi dan berganti pakaian, saya pun bergegas mengambil wudhu dan lanjut pergi ke sebuah masjid yang terletak tidak jauh dari rumah.

Sesampainya dihalaman masjid, saya dihampiri oleh seorang santri laki-laki yang segera mengambil sepasang sandal saya ketika kaki saya mulai melangkah masuk. Santri itu kemudian menyimpan sepasang sandal saya di halaman pintu keluar masjid.

Saya pun memasuki masjid. Situasi didalam masjid penuh dengan santri laki-laki yang duduk dan menundukan kepala ketika saya melewati mereka menuju tempat Imam shalat.

Saya melakukan shalat tahiyatul masjid lalu duduk ketika adzan dikumandangkan oleh salah satu santri laki-laki.

Saya pun memimpin shalat dzuhur dan menjadi Imam bagi seluruh santri baik laki-laki maupun perempuan.

Santri perempuan yang berada dilantai dua mulai berdiri ketika qomat mulai dikumandangkan.

Shalat dzuhur pun dilaksanakan dengan khusyu' dan khidmat.

Seusai shalat, seluruh santri Putri turun menuju lantai satu yang kini sudah dipasangi pembatas oleh santri laki-laki, sehingga tak ada kontak mata antara santri laki-laki dan perempuan.

Acara pengajian pun dimulai. Saya mulai membuka kitab kuning dan membaca tulisan Arab gundul didalamnya. Setelah itu, saya pun membahas isi dari kitab kuning tersebut.

Satu jam telah berlalu. Pengajian dzuhur telah usai. Seluruh santri baik laki-laki maupun perempuan berhamburan meninggalkan masjid menuju asrama masing-masing.

Sama halnya dengan saya yang kini berjalan menuju rumah.

Sesampainya dirumah, saya disuguhkan dengan kehadiran ibu saya yang kini sedang duduk di ruang tamu. Spontan saya menghampiri ibu dan mencium tangan orang yang paling saya sayangi.

"Ibu sudah lama disini?kok ibu gak telfon dulu Aidar, mau kesini,"

"Nggak, baru sebentar kok, kan kamunya lagi dimesjid, masa ibu harus telfon kamu dulu ketika lagi pengajian."

"Bapak kok gak ikut bu?"

"Bapak lagi tidur. Ibu mau bangunkan tapi kasihan, tidurnya pulas,"

Saya pun tersenyum lalu duduk disebelah ibu.

"Ada apa bu kemari?"tanya saya kemudian.

"Oh..jadi ibu gak boleh nih kalo cuma main kesini?"

"Nggak,maksudnya.."

"Ibu cuma bercanda kok.."

Saya tersenyum.

"Ada yang perlu ibu bicarakan ke kamu,"

Saya melihat wajah ibu yang mulai serius.

"Gini...apa tidak sebaiknya kamu segera menikah, umur kamu kan sudah cukup untuk menikah,"

Saya terdiam.

"Kalo masalah calonnya ibu sudah pilihkan untukmu."

Ucapan ibu itu membuat saya mangangkat kepala lalu memandang wajah ibu.

"Kamu tau kan pak Amir?orang kepercayaan bapak dulu.."lanjut ibu.

Saya mengangguk pelan.

"Dia punya anak gadis lima tahun lebih muda dari kamu,"

Saya masih menyimak serius perkataan ibu.

"Ibu ingin kamu menikah dengannya."

"Anak pak Amir?maksudnya pak Amir yang sudah meninggal?kenapa Aidar harus menikah dengan anaknya pak Amir?" saya akhirnya angkat bicara.

"Kamu tau kan, pak Amir itu adalah salah satu orang kepercayaan bapak dari dulu hingga akhirnya beliau meninggal karena kecelakaan bersama bapak lima tahun lalu. Bapak sangat menyayangi beliau hingga bersikeras untuk menjaga anaknya dan menikahkannya dengan kamu."

"Tapi, bukannya pak Amir tidak mempunyai anak perempuan?"

"Ada..pak amir punya anak perempuan, namanya Fani. tapi dia sudah lama tinggal dijakarta."

Saya mengangguk paham.

"Tapi kamu siap kan' untuk menikah?"

Saya tertegun. Saya sendiri pun bingung. Kenapa harus mendadak seperti ini?

Saya memainkan kedua jari sambil tertunduk melakukan penolakkan terhadap pikiran saya yang enggan untuk dijodohkan.

Sebenarnya saya belum siap jikala harus dijodohkan. Saya ingin menikahi perempuan pilihan saya sendiri. Namun, ketika teringat pesan dari ayah dan teringat pak Amir yang juga pernah mengasuh saya dulu mau tidak mau saya harus menerima perjodohan ini.

"Inshaa Allah bu, Aidar siap." jawab saya sambil tersenyum.

"Yasudah, besok Fani dengan ibunya akan datang kesini menemui kamu. Berhubung ibu dan bapak harus menyambut kedatangan mereka, jadi ibu akan menginap disini."

"Lantas, bapak kapan kemari bu?"

"Bapak kemari bersama Fani dan ibunya besok,"

"Oh..yasudah, Aidar antarkan ibu kekamar."

Saya dan ibu lalu bergegas menuju kamar yang terletak dipinggir taman.

Dear ImamkuWhere stories live. Discover now