Hening.
Disaat keramaian sedang melanda.
Disaat orang orang sibuk berlalu lalang.
Disaat kendaraan saling beradu suara.
Hening.
Hanya lelaki ini yang merasakannya. Matanya tidak bisa berhenti menatap ke depan. Menatap kedalam kaca jendela restaurant terkenal di daerahnya.
Bola mata hazel yang biasa menatap dengan tajam dan lugas, saat ini berbeda. Sayup. Redup. Itu yang menggambarkannya saat ini.
Pandangannya hanya terpaku kepada gadis didepannya. Gadis yang sedang mengukir senyuman hangat.
Senyuman yang slalu ia dapat. Senyuman yang slalu membuatnya bahagia saat melihatnya.
Tapi kali ini berbeda. Senyuman itu. Senyuman hangat yang slalu ia dapatkan bukan untuknya. Melainkan lelaki di hadapan gadis itu, tersenyum hangat. Sama seperti gadis di hadapannya. Membuat siapa saja yang melihat merasa bahagia.
Harusnya lelaki ini bahagia melihat gadis itu Tersenyum, melihat kebahagiaan di mata gadis itu. Tetapi entah kali ini ia merasa salah jika harus bahagia.
Bahkan sekarang ia tengah berdiam diri di kerumunan orang yang sedang memancarkan kebahagiaan.
Ia hanya diam terpaku. Tidak menyadari salju yang turun dari kelamnya langit.
Salju pertama di tahun ini. Hingga satu butir salju terjatuh di pipinya yang terasa dingin jika disentuh. Membuat ia mengadahkan kepalanya keatas langit. Memperlihatkan betapa kelamnya langit, sama seperti hatinya saat ini.
Ia pun menatap kembali ke depan, melihat gadis itu kembali. Senyum miris terukir.
Untuk apa aku berdiam disini?, Batinnya. Bahkan jika gadis itu memilih lelaki lain. Untuk apa dia memikirkannya.
Ia pun melanjutkan berjalan. Meninggalkan restoran yang sedang riuh dengan bermacam kebahagiaan.
Ia mencoba tidak memikirkannya. Slalu begitu. Sebaliknya, hatinya menolak. Ingin ia bertindak sesuatu, mengatakan sejujurnya. Tapi, kenyataan menolak.
Dan bagaimanapun ia harus menerima kenyataan.
Menerima kenyataan bahwa gadis itu adalah saudaranya sendiri.
-Ares
