Gulali Merah

23 0 0
                                        

Di sore itu, apakah kau masih mengingat warna langit di sore itu, sinta, apakah kau mengingat debur ombak dengan buih putih yang menyertai nya, serta hembusan angin laut asin yang sejuk itu, kita berdua memandang langit yang sama, bersamaan mengiringi surya untuk berganti kepada rembulan malam.
Saat itu, tak sepatah kata keluar dari bibir kita, mulutmu asik memakan gulali merah yang ada ditanganmu, begitu santai dengan musik antara tabrakan ombak dengan karang, nyiur pohon kelapa, dan kadang koloni burung camar menghiasi nada-nada itu, oh, begitu indah bila saat-saat seperti itu untukku kenang, aku hanya bisa terdiam, bukan terdiam untuk melihat langit yang berwarna keemasan ataupun mega mega yang begitu indah bertebar, aku terdiam karna parasmu yang cantik, lekuk antara mata dan hidung mu mirip orang barat, tak bisa berhenti sampai disitu, matamu yang ikut berwarna keemasan karna cahaya langit itu juga sangat mempesona, sudah sejak satu jam kita duduk bersama, kau tetap memakan gulali merahmu itu tanpa mengucapkan sepatah kata, terlebih lagi aku sedang menunggumu mengucapkan nya, kata yang penuh arti dan makna buatku,
Oh sinta, kau tau apa yang terjadi kepadaku setelah itu, aku tak bisa tidur semalaman karna terus mengingat wajahmu yang begitu menawan.

Rahvana Where stories live. Discover now