Malam itu hujan begitu lebat. Ara melanjutkan langkahnya, gusar.
"Sewot banget sihh, rese. Kalau gini caranya mending gua cabut aja dah" kakinya menyentak genangan air. Seluruh badan Ara sudah basah, terkena hujan.
Ara berhenti di halte. Menunggu bus lewat.
"Arghh...ngapain sih gue pake mau di pesantren-pesantrenin segala. Kaya yang nggak tau anaknya kayak gimna aja" Ara terus menerus mengupat sendiri. Sesekali ia membenarkan ransel yang ia gendong di bahunya.
Tak lama selang beberapa waktu bus terlihat mendekati halte. Ara bergegas naik begitu bus telah sempurna berhenti. Ia memilah-milih tempat duduk yang kosong juga pas untuk ia yang sedang ingin menyendiri. setelah semua penumpang duduk dengan rapi, tak lama Bus itupun kembali melaju. Ia memandang gemerlap gedung ibu kota yang terlapis air hujan dari jendela bus. Bus KP. Rambutan-cianjur segera melesat cepat.
Telah dua jam Ara duduk di dalam bus. Pertanda sebentar lagi ia turun. "Bogor!!! Bogor!!! Bogor!!!" Suara kenek bus menyadarkan ara. Dan ia pun segera bersiap untuk turun.
Begitu bus berhenti ara turun mengantri dengan penumpang yang lainnya. Baju ara yang tadinya basah kuyup kini mengering. Mungkin efek dari AC bus tadi. Tapi karena dua jam dengan basah kuyup terkena AC , badan Ara menjadi menggil dan kepalanya benar-benar terasa sangat pusing.
Ara melompat dari tangga terakhir bus. Tapi pendaratannya tak seimbang membuat tubuhnya oleng. Tepat sebelum tubuhnya jatuh penunpang yang berjalan didepannya menopang tubuh ara hampir seperti mendekapnya.
"Astaghfirullah !!!" Seraya melapaskan kedua tangannya. Gumam nya pelan hampir tidak terdengar orang. Begitu dirinya menyadari bersentuhan dengan wanita. Sepontan tubuh ara terjatuh ke aspal karena lengan yang sebelumnya menopang telah terlepas.
"Aduuuhhhh!!!... teriak Ara kalap. Terjatuhnya membuat Ara tersadar sekaligus kesakitan yang ia rasakan kian bertambah.
"Eh, mba, mba maaf ya. Serius saya benar-benar tidak sengaja" pria itu memelas memohon maaf.
"Lo niat nolong nggak sihh" Ara memandang keatas dari posisinya yang tergeletak di aspal. Sekilas ia melihat pria yang sedang berurusan dengannya itu memakai celana hitam, dengan baju koko biru langit serta dikepala terdapat peci hitam. Pada lengan kirinya melingkar jam tangan pria hitam dan di punggungnya bersender ransel coklat muda. Postur badan pria itu tinggi berkulit putih langsat. Meski belum tahu sifat aslinya sekilas terlihat rama dan juga baik. Ara benar-benar terpana. Ditambah percikan sinar lampu-lampu di malam hari membuat pria itu semakin terlihat sempurna di mata Ara.
Orang-orang membatu Ara bangun. Sementara pria itu risau merasa bersalah, tapi tak ada yang bisa ia lakukan.
"Aduh mbak maaf ya, saya benar banar tidak sengaja. Mbak mau kemana sekarang udah jam satu malam wanita nggak baik keluyuran malem-malem." Ujarnya .
"Orang gue mau ke rumah nenek, Apanya yang keluyuran. Yang ada ini kemaleman. nah lo sendiri mau kemana malem malem bawa ransel segala?" Ara bertanya balik dengan berdehem di akhir kalimatnya. Mata Ara mengisyaratkan bahwa Ara tertarik untuk tahu soal pria ini.
"Ohh iya, nama saya Yusuf mba." kedua telapak tangannya dirapatkan didepan dada. Berbeda dengan Ara yang malah sigap mengulurkan tangannya.
"Saya mau ke pondok . Habis liburan di rumah. Tapi saya ke rumah pak de dulu yang di Jakarta makannya kemaleman. Sekali lagi maaf ya bak maaf...saya pamit duluan. Maaf juga saya nggak bisa anter mbak. hati-hati saja dari saya. permisi mbak" Yusuf pegi dengan kepala yang masih menunduk. Dari awal bercakap hinggak akhir Yusuf tak sekali pun memandang Ara.
"Heh!!!heh!! Lo mau kmna? Lah terus gua gmna? iss..." untuk kesekian kalinya Ara berdecak benar benar kesal.
⸙⸙⸙⸙
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Yusuf
Teen FictionFollow dulu aja, jangan lupa tinggalkan jejak mu ya... LIKE AND COMENT... Arti kebersamaan Arti ketulusan Arti cinta Arti persahabatan Arti melepaskan
