Suatu Malam

19 5 3
                                        




Disini aku berdiri, didepan sebuah rumah sakit yang terlihat sudah sangat tua, minimnya cahaya membuatku harus menyipitkan mata agar segalanya terlihat jelas, terdapat gerbang besar yang berdiri kokoh didepan rumah sakit ini.

Perlahan aku mendorong gerbang tersebut, aku berjalan pelan menuju sebuah pintu, pintu itu terlihat sangat tua dengan warna kayu yang sudah memudar. Dengan didorong keinginan memasuki rumah sakit ini, perlahan aku membuka pintu tersebut, hingga menampakkan seorang pria tua sedang membaca sebuah laporan yang aku tak tahu itu apa.

Pria tersebut menoleh kearah dimana aku sedang berdiri, tubuhku membeku seketika saat pandangan kami bertemu, dia terlihat seperti seorang dokter belanda, dan juga dia terlihat tidak suka dengan kehadiranku.

Entah apa yang mendorong diriku untuk masuk lebih dalam, dengan segala keberanian yang sudah kukumpulkan sebelumnya, aku melangkahkan kaki memasuki ruangan tersebut, "Permisi," ujarku ketika melewati pria tua tersebut. Demi apapun, rasanya jantungku mau berhenti saat berjalan didekatnya, bulu kudukku merinding, hatiku berteriak. Auranya sangat mengangguku.

Setelah melewati pria tersebut, aku sekarang berada disebuah lorong yang gelap, hanya ada beberapa lampu yang bisa dibilang benar-benar redup itu.
Jujur, ini membuatku takut. Aku tak tahu pasti apa tujuanku berada disini.

Aku berjalan perlahan, mendengar suara-suara orang yang terus memanggilku dari sisi kiri dimana terdapat jalan juga disebelah sana, bedanya disana sangat gelap tanpa pencahayaan. Aku tak tahu siapa yang memanggilku, yang aku tahu.. aku sendirian disini.

Tanpa memedulikan suara itu, aku terus memantapkan langkahku menuju ujung lorong ini.

Hingga tiba diujung, ada sebuah pintu.. mirip dengan pintu pertama yang aku masuki tadi diawal, dengan keraguan aku membukanya perlahan.. terlihat sebuah lorong putih bersih dengan banyak pintu dikiri-kanannya, aku yakin itu sebuah ruangan.

Aku melangkahkan kakiku memasuki lorong itu, seketika terlihat banyak sekali pasien sakit jiwa berlarian disekitarku. Hell, jujur ini mengerikan, mereka berlari tanpa arah dan aku kebingungan
Wajah mereka lebih mirip zombie daripada manusia biasa

Aku tetap berjalan, berusaha tak memerdulikan segala keributan disekitarku hingga aku bertemu seorang pemuda yang terlihat seperti perawat, "Mari, ikuti saya," ujarnya sembari menunjukkan jalan.

Aku hanya bisa mengangguk dan menurutinya, dibawanya aku menuju sebuah ruang tunggu. Disana terlihat ada beberapa pasien yang seperi sedang menunggu namanya dipanggil. Walaupun aku yakin, mereka adalah 'penunggu' disini

Ruangan ini, sungguh membuatku merinding. Orang-orang yang berada disini seperti sudah tak bernyawa, mirip zombie. Penerangan yang minim membuatnya makin mengerikan, aku tak mengerti.. mengapa aku kesini, "Hati-hati, dia sedang kerasukan," ujar perawat tadi yang mengantarku sembari menunjuk seorang anak perempuan diujung lorong.

Gadis tersebut memakai baju putih panjang dengan rambut yang acak-acakan, jelas terlihat mirip seperti kuntilanak. Terlihat gadis itu seperti kejang-kejang, dengan dua orang pria yang menahan tangannya.

"Dimana kamar ibunya?" Ujarku tiba-tiba sembari menunjukkan gadis itu, perawat yang tak bisa ku lihat wujud aslinya ini segera membawaku menuju sebuah kamar, melewati gadis yang mengerikan ini.


Didepan pintu ini aku berdiri, pintu dengan warna coklat yang sudah memudar, berserta angka kamar yang sudah dicabut.

Seketika, muncul kilas waktu diotakku, menunjukkan wajah gadis yang tadi kerasukan bersama sang ibu sedang duduk bersama diatas kasur, lalu berganti dengan adegan dimana sang ibu menggantung dirinya didepan anaknya sendiri, anaknya diam membeku melihat kondisi sang ibu dan segera mengambil sebuah pisau dan menusuk pisau tersebut ketenggorokannya, lalu menariknya mengitari leher, membuat kepalanya tergantung. Terlihat seperti dia mendapatkan sebuah perintah, hingga mampu membuat hal seperti itu.

Aku masih berdiri mematung didepan pintu, "Ibunya meninggal, bersama dengannya." Ujarku datar, akupun ditarik paksa oleh perawat yang masih berdiri disebelahku menuju ruangan dimana tadi aku melihat gadis itu kejang-kejang. Dan ternyata kepalanya sudah menggantung.

Seketika, pandanganku menghitam, hanya rasa sakit yang aku rasakan, tepat ketika pisau menancam dijantungku.



















































Dan, akupun terbangun dengan keringat diseluruh tubuhku, jujur.. itu mimpi yang well, sangat buruk menurutku.. bagaimana malammu?

NightmareStories to obsess over. Discover now