Taisetsu na Little Candle

17 4 4
                                        

Mentari tertidur. Hawa dingin seakan menembus lapisan tipis kulit. Suara jangkrik dan burung hantu bernyanyi memecah kesunyian malam. Angin pun berjalan dengan santainya di antara dedaunan serta ranting pohon. Rembulan bersinar menembus kegelapan. Namun semua itu tak berarti di hadapan mata itu. Mata yang seolah mencurahkan seluruh penyampaian dari hatinya pada para bintang di langit.

Malam semakin larut. Jarum jam menunjuk angka sebelas lewat sepuluh menit.

Tepat di atas balkon sebuah rumah megah dengan ukiran bunga pada daun pintunya, seorang laki-laki berdiri mendongah menghadap langit malam. Tubuh tinggi dengan setelan kemeja kantor berdasi biru panjang menandakan bahwa ia seorang karyawan. Kulit putih menambah kesan paras yang rupawan. Yuto namanya.

Di balik pintu balkon, seorang wanita terlihat berbincang dengan orang lain melalui sambungan telepon rumah.

"Kalau gitu, nanti kutelepon lagi ya sayang, selamat malam." Kata wanita cantik dengan kulit putih mulus bagaikan bengkuang yang baru saja dikupas kulitnya.

"Haru-chan, aku pulang dulu ya!" Suara Yuto yang mengagetkan Haruna memecah suasana sepi di rumah itu.

"Eh, kamu sudah mau pulang? Padahal belum aku buatin makan malam."

Yuto menggeleng, dan langsung berpamitan pulang.

"Jaa, mata na..."

-----------------------

Ceklek...

Suara kunci pintu diikuti Yuto yang masuk ke dalam apartemennya. Ia berjalan menuju kamarnya. Lampu meja ia nyalakan satu persatu membuat pencahayaan dalam ruangan yang semula gelap menjadi terang. Kini ia berada di dalam kamarnya. Perhatiannya tertuju pada dua buah foto yang terpajang dengan bingkai berwarna kuning bergaris cokelat di pinggirnya. Terlihat dua orang anak kecil sedang berpose di dalamnya. Itu adalah foto Yuto dan Haruna sewaktu kecil.

Pikiran Yuto melayang melewati waktu saat ia masih menjadi bocah ingusan. Saat-saat di mana ia tertawa dan menangis bersama haruna. Semakin ia mengingat akan hal itu, semakin hatinya sakit bagai tertusuk duri yang teramat panjang.

Lalu ia mengambil foto satunya. Foto di mana saat itu haruna masih kelas 2 SMA.

Saat ketika mereka menonton pertandingan marathon bersama

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Saat ketika mereka menonton pertandingan marathon bersama. Saat itu ia teringat tentang haruna yang menjatuhkan takoyaki kesukaannya. Ia ingat betul Haruna sampai menangis gara-gara cuma kegilangan satu takoyaki saja. Hingga akhirnya Yuto membelikannya takoyaki lagi. Padahal takoyaki Haruna yang tidak jatuh masih belum ia makan. Ia sangat senang, dan tentunya Yuto juga sangat senang melihat Haruna tersenyum.

Tak terasa air mata mulai menetes melewati pipinya. Mengetahui kenyataan bahwa ada orang lain yang akan bersamanya sekarang.

"Eh, kenapa aku nangis?" Pikir Yuto

Ia melamun kembali. Pikirannya kembali saat Haruna datang dengan wajah sangat gembira.

------
Dua bulan yang lalu

"Yutoooo!! lamaarr! Aku dilamar!"

Yuto yang saat itu sedang asyik bermain game langsung kaget mendengarnya.

"HA? LAMAR? KERJAAN? Akhirnya temenku gak nolep lagi."

"PALELU NOLEP, MAKANYA PUNYA KUPING JANGAN DITINGGAL DI RUMAH!"

"Dih dateng dateng nge gas." Yuto kesal.

"AKU DILAMAR BAMBANK!" Haruna mulai gas pol.

"HA?! BAMBANG NGELAMAR ELU?" Tanya Yuto kaget

"AU AH, BUNDIR NIH!" Haruna benar benar kesal dengan ketidak pekaan yuto

"Yaudah, jelasin gimana yang bener." Yuto mulai serius.

"Aku dilamar yut, sama pacarku." Mendengar hal itu, yuto kaget bukan main.

"SERIUS? Kok kamu gak pernah cerita kalo punya pacar?"

"LU AJA YANG BUDEG KALO GUA CURHAT SOAL DIA."

"Hehe, iya iya maaf."

---------

Kring... Kring....

Lamunannya terganggu saat telepon genggamnya berdering.

"Halo, Yuto? Kamu udah sampai rumah?" Suara Haruna dari balik telepon.

"Iya, emangnya kenapa?" Tanya Yuto.

"Cepetan tidur sana, besok ikut aku nyobain gaun pengantin di butik yang kuceritakan kemarin itu ya!" Terdengar suara Haruna tampak bersemangat. Yuto meng-iyakan ajakannya.

---------------------------------------------->>>>>>>>

Keesokan harinya...

Siang itu sekitar pukul satu tepat, dua orang sedang berjalan bersama menuju sebuah butik pengantin yang tak jauh dari sebuah gereja.

"Kenapa kamu ngajak aku sih? Kenapa gak ngajak calon suamimu aja? Oh iya, calon suamimu itu namanya siapa? Aku lupa." Tanya Yuto.

"Iih, kalau tanya satu-satu dong, kayak wartawan aja kamu." Haruna mengerutkan dahinya sedikit. Kesal dengan pertanyaan Yuto.

"Idih marah-marah, ntar cepet tua lho." Mendengar hal itu, Haruna tertawa sedikit sambil menyilangkan tangannya. Yuto terlihat bingung dengan tingkah Haruna. Haruna pun menjawab pertanyaan Yuto dengan pipi yang mulai memerah di wajahnya.

"Namanya Yamada, dia orang yang baik kok. Kali ini dia punya banyak kerjaan, jadi gak bisa ikut buat nyobain setelan pengantinnya. Tapi nanti dia pasti bakalan nyusul."

Melihat Haruna begitu senangnya saat membicarakan Yamada, hati Yuto merasa sakit. Namun bagaimana lagi, Haruna, teman kecil kesayangannya itu hanyalah seorang teman. Tidak lebih.

Sesampainya di butik, satu demi satu gaun pengantin dicoba oleh Haruna. Yuto menunggu sekitar satu jam lamanya. Kemudian Haruna keluar mengenakan gaun yang ia pilih.

"Cantik"

Ucap Yuto tanpa berkedip memandangi Haruna dari ujung kaki hingga ujung rambut.

"Padahal aku belum tanya pendapatmu lho, tapi udah dikomentarin aja." Ucap Haruna sambil tertawa kecil. Yuto tersipu malu. Wajah tampannya itu jadi merah padam.

"Haruna !" Terdengar suara seorang pemuda dengan kemeja hitam membawa tas jinjing berlari memasuki ruangan.

"Yamada !"



>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<

Yuhuu,, my first story at wattpad >0<
Awalnya pengen bikin cerita yang lucu-lucu kayak aku//plakk

Tapi endingnya malah bikin cerita yang serius. Udah gitu pendek lagi :"D

*maapkan author yang lagi curhat

Maapin yah kalo ada salah nulis atau apalah itu,, diriku masih pemula kalo urusan nulis hwehehehe

Silahkan like dan comment ya!!

ARIGATOUU!! \(>0<)/

Taisetsu na Little CandleWhere stories live. Discover now