Violenne mengangguk. Dia sangat takut, tapi pikirannya kosong. Semua yang dimilikinya sudah tidak utuh. Kini ia sedang mencoba berlari. Jauh, sejauh mungkin dari pria yang memiliki hatinya.
"Apakah kau yakin? Ini akan teramat menyakitkan"
"Sebelum melakukan prosesnya, kita akan menyimpan semua memori itu direkaman ini. Tolong ceritakan apapun secara detail. Jika nanti pengobatannya berhasil kau bisa mencari potongan ingatanmu yang hilang. Tapi itu adalah pilihan, bukan keharusan. Mengerti?"
*** April 2030
Sebuah cafe ditengah kota Seoul, bangunan minimalis, dindingnya berwarna putih dengan gradasi abu-abu. Seorang gadis tengah menikmati secangkir teh. Manis sungguh manis. Gadis itu sesekali bermain dengan kameranya. Mata indahnya fokus pada viewfinder.
Nice shoot!
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Beberapa saat wajahnya membeku, tubuhnya mematung, namun hatinya bergetar hebat.
"Vien, maaf kakak baru bisa menjemputmu"
Pria itu kini tepat berhenti di depan mejanya. Ia datang bersama kakaknya, Valery.
"Vien?" Ia masih melebur bersama lamunan. Perasaan apa ini? Ia belum pernah merasakan hal seperti ini. Begitu asing tapi menyenangkan?
"Tak apa eonnie. Aku baru sampai"
"Oh iya ini adalah teman sekaligus bos ku. Kim Taehyung" valery sangat antusias mengenalkan sosok pria yang tengah berdiri tepat disampingnya. Mengenalkannya dengan bangga.
"Violenne"
"Kim Taehyung"
Keduanya saling menjabat tangan. Kini empat bola mata itu bertemu. Saling memberi senyum. Menghangatkan hati masing-masing pada sebuah peristiwa perkenalan.
Semenjak perkenalan di cafe, hari-hari Violenne berubah. Taehyung adalah bos sekaligus teman kakaknya. Teman? Mungkin lebih dari sekedar teman. Itulah yang terlintas dipikiram Violenne tentang hubungan Taehyung dan kakaknya. Taehyung sering mengantar Valery jika mereka pulang larut malam. Violenne tidak pernah berani menanyakan perihal itu pada Valery. Bagi Violenne, jika Taehyung bisa menjaga dan membuat Valery sering tersenyum seperti sekarang itu adalah kebahagian untuknya.
Rasa kagum yang dimiliki Violenne menjalar semakin luas dilubuk hatinya. Ia sering abai, meskipun setiap pagi Violenne tanpa permisi dari jendela kamar membidikkan kamera pada pria tampan yang keluar dari Rolls Royce hitamnya.
Taehyung adalah objek sempurna bagi lensanya. Semua dalam diri Taehyung adalah masterpiece, yang menjadi candu bagi Violenne.
*** Sore itu, Violenne menghabiskan waktunya di tempat pertama ia bertemu dengan Taehyung. Ia berencana untuk mengabadikan sunset kota Seoul setelah membereskan kameranya.
"Violenne?"
Kim Taehyung. Apakah senja yang mengirimmu kemari? Kenapa kau begitu egois tak mengizinkan kamera ini berhenti mencandui gambarmu?
"Oppa? Bukankah kau harusnya dikantor bersama Valery?"
"Ah aku sedang istirahat hari ini. Valery menggantikan tugasku dikantor"
"Ah, begitu" Violenne mengangguk canggung.
"Kau suka fotografi?"
"Iya oppa, aku juga mengambil jurusan fotografi"
"Apakah kita bisa mengambil foto bersama? Aku juga menyukai fotografi"
"Tentu saja oppa. Aku akan memotret sunset sore ini. Oppa mau ikut?"
"Sure, Vien"
Violenne berpikir apakah ini sebuah kebaikan dari senja atau sebuah penghianatan untuknya. Alam semesta membiarkan dirinya tersiksa bersama rasa yang semakin mengembang bebas diruang hatinya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Vien?"
"Ya oppa?"
"Aku menyukai senja" kalimat itu terucap dari bibir Taehyung. Matanya menatap dalam seorang wanita yang tengah berada di sampingnya.
"Aku juga"
Violenne merasa darahnya berdesir menemukan tatapan Taehyung tepat dimatanya. Logikanya masih cukup sadar untuk mengingat bahwa pria disampingnya adalah pemilik hati Valery, kakak yang sangat ia cintai.
Tepat pada detik kelima setelah kedua pasang mata itu bertemu, Taehyung memberikan senyum hangatnya.
Violenne sangat suka saat ia menerima senyuman Taehyung dalam jarak yang begitu dekat.
Senyuman itu, senyuman yang ia akui adalah miliknya, Violenne.