Penghujung Kemarau (1:1)

131 5 0
                                        

Penghujung kemarau. November, 2017

Surya mulai beranjak dari peraduan. dengan mata berat dan muka kumal, aku berperang dengan pasukan malas yang kuat menerjang benteng diriku. Terjang melintang seolah medan perang yang terkukus rapi dalam konflik individu yang tak menemukan ujung damai.

Sejenak aku melihat sudut waktu yang tergambar dalam lingkaran jam dinding bergambar pegunungan yang asri. Detik yang mendetak mengkombinasi pada sudut hening dimensi sunyi.

"Ah.. Sudah terang rupanya." Aku beranjak dari singgasana nyamanku menuju satu jelmaan terowongan waktu yang kupanggil 'Jendela' itu.

Mata nanar melihat pada hingar orkestra alam yang tiada tandingan keangkuhan megahnya. Berseruling burung yang nyaring, bercampur gesek pohon pagi dan berbumbu lalu-lalang pejalan kaki yang mulai bergegas menjemput rezeki.

Sejenak aku terhenyak, dalam dimensi khayal yang berkalang rantai abadi duniawi. Jamku mulai bersuara seraya menyapa, mendentang menunjukkan waktu yang membuatku terpaku membatu, Pukul 07.00.

"Ah.. Tai. Aku lupa lagi kalau ada kuliah pagi hari ini."

Memang, untuk bangun lebih pagi seringkali sangat berat kulakukan. Lebih berat dari ribuan kontainer yang diturunkan dari kapal-kapal tongkang dipelabuhan selepas pengembaraanya di tengah ombak lautan.

Bahkan untuk memasang alarm sebelum aku beranjak mimpi pun aku seringkali terlupa.

"Hmm.. Lagi-lagi kena marah nanti karena telat." Gumam batinku dalam nurani.

Memang, Aku memang sering bahkan sudah menjadi langganan kalau berkisah masalah terlambat masuk kuliah. Lebih sering daripada sapaan senja dipenghujung tawa sang surya, atau dari nyanyian burung yang setiap pagi selalu sedia membuat tampilan orkestra dalam membangunkanku dari dunia tanpa batas untuk masuk kembali ke logika zona waras.

Kaki lemas beranjak melewati batas ruangan kesayanganku, ruangan yang menjadi saksi bisu kehidupanku beberapa tahun belakangan ini.

Ya, Aku adalah seorang Utopian kelas kakap yang menjelma jadi mahasiswa semester 4 pada salah satu kampus di Surabaya. Kawan-kawan yang notabenya masih mau berteman denganku biasa memanggilku Andri si 'Presiden Mimpi'.

Seperti ada tali tak terlihat yang seolah menarikku kedalam kamar mandi untuk segera bergegas menuju ceramah yang bagiku sangat membosankan. Apalagi jika alur pelajaran kelas berjalan seolah setapak yang dipetak sedemikian rupa hingga kita sendiri hanya harus bungkuk menunduk untuk mengikutinya. Tanpa ada warna, tanpa ada kebebasan manusia untuk mengarungi lautan ilmu pengetahuan.

Selepas kubersihkan tubuhku dari noda-noda masa lalu, aku mulai bersiap untuk melakukan rutinitas membosankanku. Kubuka lemari kusam dalam kamarku. Berantakan!. Sangat berantakan. Lebih berantakan dari komposisi sampah dalam dunia kotor dalam sajian kubangan lumpur.

Segera kuambil kemeja biru lusuh yang seolah tak pernah terjamah panas setrika. Kupakai sembari sedikit kurapikan meski terkesan tak rapi sama sekali.

Sedikit kubasuh tangan dengan gemilau minyak hijau dalam wadah kaca untuk kulangitkan pada ikal rambutku. Kata orang tak lurus, pun tak keriting. Aku sendiri tak mampu untuk mendefinisi secara pasti.

Cermin yang penuh debu itu tak sedikitpun menambah gairah diriku untuk merapikan kelusuhan yang menyelimuti wajahku.

Bahka aku sendiri tak kuasa melihat wajahku yang menyerupai tembok batu yang datar tanpa sedikit seringai suka maupun duka seperti wajah manusia pada umumnya.

Kembali kulihat lingkaran waktu di dindingku, tepat pukul 07.30 . "Sudah telat 30 menit, tak begitu buruk dari biasanya." Segera kuambil isi otakku yang terbungkus dalam wadah hitam yang sudah menemaniku semenjak duduk di bangku SMA dulu.

Antologi Hitam Stories to obsess over. Discover now