×××
Orang-orang berjas, rasanya semakin memenuhi bangunan hotel. Atau lebih tepatnya bapak-bapak berjas. Hahaha, Ervan dan Papa bisa-bisa mengutuk ku jika mereka tahu aku berkata seperti barusan.
Malam sialan ini, Ya! Atas paksaan Papa, aku dan Ervan, atau lebih tepatnya hanya aku yang dipaksa, harus turut menghadiri acara para pengusaha-pengusaha sukses yang isinya pria dewasa semua. Terdengar lebih sopan, bukan?
Aku dan Ervan harus berdiri menunggu di lobby hotel, menunggu seorang gadis yang sama sekali kami tak kenal. Lagi-lagi atas paksaan Tuan El. Namun, aku merasa hanya aku yang keberatan disini. Coba lihatlah pria berjas biru navy disebelah ku, terlihat sangat santai dan tenang. Entahlah, sedari tadi menebar senyum kepada pria-pria dewasa yang melewati kami.
"Ervan! Tuh, orang mana sih? Lama banget, gak tau diri. Udah ditungguin juga, lama lagi!"
"Sabar sebentar. Dari luar kota, habis dari bandara langsung pulang siap-siap buat kesini. Butuh waktu, Vanthan."
"Ah, lagian ngapain juga om Rangga ngajak dia?"
"Papa aja ajak kita, kenapa om Rangga enggak?"
"Yaelah, kita juga dipaksa. Kalo gitu, kenapa harus banget kita yang jemput gini?"
Ervan melirik tajam kepada Vanthan, yang dilirik mengerutkan dahi, "Kenapa lo, hah?"
"Bisa diam, gak?"
"Ah, Lo sih mau aja di suruh-suruh!"
Kali ini Ervan memilih tak merespon saudara kembarnya itu, membiarkan Vanthan merasa kesal sendiri.
"Mukanya jangan dicemberutin gitu, makin jelek lo."
"Sodara kembar macam apa Lo?" Vanthan menatapnya kesal, sedangkan Ervan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah saudara kembarnya itu.
Tak lama, tak jauh dari tempat Ervan dan Vanthan berdiri terlihat seorang gadis yang mengenakan dress merah selutut yang sedang kebingungan.
Atas inisiatif dari Ervan, Ervan dan Vanthan menghampirinya. "Selamat malam, Bianca?" Sapa Ervan walaupun agak ragu, didampingi Vanthan disebelahnya dengan raut wajah kesal.
Gadis itu membalikkan badannya, melirik Ervan lalu Vanthan, mengangkat satu alisnya, "Hey, Ervan? Vanthan?"
"Yes." Jawab Ervan Ramah.
Gadis bernama Bianca itu menyodorkan tangannya kepada Ervan, "Bianca."
Dengan cepat Ervan membalas dengan ramah, "Ervan."
Selanjutnya Vanthan, "Bianca."
"Udah tau." Jawab Vanthan dingin, kedua tangannya ia masukkan kedalam saku.
Buset, songong! -Bianca
Ervan melotot, menyenggol lengan saudara kembarnya. Memberi kode untuk menerima jabat tangan Bianca.
"Vanthan."
"Oh, yes."
"Sorry, Bianca. Vanthan agak gak enak badan malam ini." Ervan merasa tak enak.
Bianca terkekeh, "Oh my God, no prob."
"Okay, let's join." Ervan mempersilahkan Bianca jalan masuk terlebih dahulu.
"Gue sehat sehat aja, bego!"
"Coba bersikap ramah sedikit ke orang yang baru kenal. Lo bawa nama papa disini." Ervan memperingati, Vanthan memutar bola matanya malas.
KAMU SEDANG MEMBACA
The ErVanthan's
Teen FictionDisini, kita membicarakan tentang The ErVanthan's. Jadi? Harus hati-hati. Si kembar Ervan dan Vanthan. Ervan Cakrawala Claraing, sosok kalem, ramah, berprestasi, bijaksana, berhati mulia dan lembut, calon pewaris Claraing Group. Vanthan, Vanthan Sya...
