Pertemuan Pertama

22 2 0
                                        

"Diza pamit ya mi.",diza mencium lembut tangan uminya.

"Iya sayang hati-hati ya! Jangan ngebut-ngebut kalo nyetir. Dan nanti kalo udah sampe jangan lupa hubungin ummi ya!", diza mengangkat kepalanya menatap umminya, lalu ia mengangguk pasti.

"Assalamu'alaikum".

"Wa'alaikumussalam".Husnul hafidzah mengangguk memberi sesimpul senyuman manis untuk anaknya.

Diza pun menuju ke arah mobilnya yang terparkir di pekarangan rumahnya. Kemudian ia masuk ke dalam mobil tepatnya di kursi kemudi.
Ia mulai menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan kota kelahirannya menuju jakarta, tempatnya menuntut ilmu saat ini. Sebenarnya diza bisa saja memilih kuliah di Bandung, namun entah kenapa ia ingin menempuh pendidikannya di kota lain. Ia ingin merasakan hidup mandiri tanpa umminya. Walaupun sebenarnya ia berat meninggalkan umminya sendiri di Bandung. Karena sejak masih SMP dulu abinya meninggal dunia saat sedang melaksanakan ibadah haji di mekkah. Jenazahnya di makamkan disana. Ia sedih tak bisa melihat abinya untuk yang terakhir kali,namun ia juga bersyukur abinya berpulang dengan keadaan sedang beribadah kepada Allah di tempat suci dan rumah peristirahatannyapun di tempat suci itu. Ia hanya bisa mengikhlaskan kepergian abinya. Di usianya saat itu ia sudah cukup mengerti. Di setiap malamnya ia selalu mendo'akan abinya yang selama hidupnya banyak berjasa padanya. Membimbing dirinya dari diza kecil hingga diza remaja menuju jalan Allah. Sekarang tugas ummilah yang membimbing diza remaja hingga diza dewasa. Ia sangat bersyukur dengan apa yang Allah berikan padanya. Ia bersyukur mempunyai ibu sekuat umminya. Umminya bekerja keras membanting tulang, berdagang kesana kemari demi menghidupi diza dan kakak laki-lakinya yang sekarang sudah memiliki keluarga sendiri. Kini kerja keras ummi sudah terbayar, kakak laki-lakinya telah sukses menjadi seorang dokter di rumah sakit yang ada di Surabaya. Dan kini gilirannya membanggakan umminya, Adiza Qumrotun Hasanah itulah nama lengkapnya.Ia mengambil jurusan kependidikan. Ia ingin menjadi seorang guru. Ia sangat suka mengajar. Berbagi ilmu dengan orang lain sangatlah menyenangkan baginya. Menjadi seorang pengajar seperti umminya yang merupakan pengajar terbaiknya dalam hidupnya.

Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, diza akhirnya sampai di depan rumah kost yang ia sewa. Rumah kost ini abangnya yang mencarikan. Abangnya sengaja mencarikan diza rumah kost yang bagus, pastinya biayanya juga tak sedikit. Namun bukan uang yang dipikirkan abangnya, kenyamanan dan keamanan adiknyalah yang terpenting. Sebenarnya diza tak ingin diperlakukan istimewa seperti ini,ia ingin hidup seperti mahasiswa rantauan seperti yang lainnya. Di kamar kost biasa dan kendaraan umum sebagai transportasi. Mobil yang ia miliki saat ini adalah pemberian dari abangnya sebagai hadiah karena ia diterima di universitas ternama di jakarta. Awalnya ia menolak,namun abangnya itu bersikukuh. Ia tak ingin diza repot-repot naik kendaraan umum, bercampur baur dengan laki-laki utamanya. Akhirnya diza pasrah menerima pemberian abangnya. Sementara umminya pasti setuju dengan yang abangnya lakukan padanya. Katanya untuk kebaikan diza sendiri.

Diza turun dari mobil honda jezznya. Lalu ia berjalan menaiki tangga satu persatu. Hingga sampailah ia di satu kamar yang letaknya nomer tiga dari arah tangga tadi. Ia merogoh tas slempangnya dan mengambil kunci kamarnya lalu ia membuka pintu kamarnya dengan kunci itu.

"Assalamu'alaika",ucapnya saat masuk kedalam kamarnya. Ia selalu mengucap salam saat akan masuk kedalam rumah atau kamar kostnya walaupun jika didalammya tidak ada orang. Karena itu sudah menjadi kebiasaan yang abinya ajarkan sejak masih kecil. Diza menaruh tas slempangnya diatas nakas. Ia tak pernah membawa barang-barang yang banyak seperti baju,dan perlengkapan lainya saat pulang ke rumah begitupun saat kembali ke kost. Di rumahnya sudah banyak baju-baju dan perlengkapan yang ia butuhkan begitupun juga di kost annya. Jadi ia tak perlu repot-repot membawa banyak barang saat pulang.

Diza membuka kenop pintu kamar mandinya dan keluar dengan pakaian rumahan biasa. Lalu ia menggelar sajadah dan mulai melaksanakan sholat dhuhur yang belum ia laksanakan saat diperjalanan tadi.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 20, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Ku Mencintaimu Karena RabbkuStories to obsess over. Discover now