Aku dibesarkan didesa yang terpencil. Jangankan mendengar suara mesin kendaraan, listrik saja sangat susah dijangkau. Setiap hari kegiatan masyarakat di desa berjalan monoton. Dan seperti yang kalian tau, desa terpencil identik dengan hal-hal kolot, kuno, dan parahnya masyarakat desa sangat meyakini sesuatu yang berbau mistis. Maka dari itu desa kami dikelilingi pagar pembatas, dan katanya telah diberikan semacam mantra untuk menjauhkan hal-hal negatif.
Salah satu tempat yang paling dihindari adalah pohon besar yang tumbuh kokoh sejak dulu. Berada di luar pagar pembatas ujung jalan desa. Para orang tua tidak memperbolehkan anak-anaknya bermain disana. Entahlah, mereka tidak pernah mengatakan alasannya. Sebagai lelaki remaja, hal itu tentu saja membuatku cukup penasaran. Tapi hanya sampai fase itu, tidak ada niat sekalipun untuk berani mendekati pohon itu. Yah, aku pikir rasa penasaran kadang berujung menyulitkan diri sendiri.
Saat ini aku sedang bermain bersama lima orang temanku di lapangan desa. Salah satu dari mereka, si gendut Ari, tiba-tiba mencetuskan ide gila. Kau tau apa? Ari menantang kami untuk mendekati pohon larangan itu. Ketiga temanku yang lain memilih mundur, dan ketika Ari terus mendesak mereka agar ikut, mereka menolak dengan tegas. Alasan mereka cuma satu; takut. Setelah itu mereka bergegas pulang. Akhirnya hanya tersisa aku dan Ari.
"Padahal aku pernah melihat beberapa orang berjalan ke arah pohon itu. Kau tidak penasaran apa yang mereka lakukan disana?"
Aku yang hampir beranjak seketika berhenti kala mendengar itu. "Kapan kau melihatnya?"
"Sekitar dua malam yang lalu,"
Dan entah karena terlalu dikuasai rasa penasaran atau apa, aku memutuskan ikut. Kami berembuk membuat rencana kapan kami akan melancarkan aksi. Menurut Ari, kami lebih baik melakukannya dimalam hari saat tidak ada penduduk desa yang akan melihat. Aku bergumam bingung, sedikit ngeri membayangkan berjalan kesana di kegelapan. Hampir aku batalkan rencana kami, namun Ari terus mendesakku. Mengeluarkan sejuta rayuan yang memecut rasa semangatku dan kupikir aku memang harus ikut untuk tahu ada apa disana, karena rasa penasaranku benar-benar tak dapat kutahan. Setelah itu kami pulang.
***
Malam jumat, malam terangker yang masyarakat yakini adalah waktu yang kami pilih untuk beraksi. Aku dan Ari berjanji bertemu di tempat sebelumnya kami bermain. Orang tua ku sempat melarang untuk keluar dimalam hari, tapi ketika aku berkata akan menginap di rumah Ari mereka akhirnya mengijinkanku. Tentu saja mereka tidak tahu tentang rencana kami. Tapi bukannya merasa lega, aku justru semakin berdebar.
Aku membawa obor bambu berukuran kecil sambil melangkah cepat, kulihat Ari sudah menunggu. Setelah memastikan tidak ada seorangpun disekitar sana, kami menuju ke tempat tujuan. Sekitar dua meter dari pagar pembatas desa dan pohon itu, aku berhenti. Nyaliku mulai menciut ketika yang kudapat hanya lah kegelapan pekat didepan sana.
Aku mundur dengan tengkuk yang mulai terasa dingin.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tidak sampai langkah ketiga, aku buru-buru berbalik bersiap untuk berlari pulang tetapi Ari segera menahan lengan ku lalu tertawa meremehkan. Ari mulai mengataiku si pengecut yang membuatku sedikit emosi. Tapi tetap saja perasaan takutku lebih mendominasi.
"Cih, dasar penakut. Kalau begitu biar aku saja yang duluan kesana, jika aku memberimu kode kamu harus segera menyusulku. Kau mengerti?"
Tanpa menunggu jawabanku, Ari sudah meloncati pagar pembatas. Lalu kembali menoleh padaku memperlihatkan senyum lebarnya, seolah mengatakan tidak akan ada apapun yang terjadi. Oh, Ari, kau begitu menganggap ini semua remeh. Ia berbalik melangkah dengan perlahan, kurasa ia pasti juga ketakutan hanya saja ia gengsi mengakuinya.
Aku hanya berdiri memperhatikan Ari, lebih tepatnya cahaya api obor yang menyala itulah yang dapat ditangkap penglihatanku. Aku semakin memusatkan mataku kearahnya. Aku mendadak cemas. Hingga tiba-tiba obor itu mati. Aku terkejut dan panik, jantungku berdetak kencang. punggungku mulai basah karena keringat. Tapi tidak bertahan lama saat obor tersebut kembali menyala. Apakah itu kode dari Ari? Apa aku harus menyusulnya? Sebenarnya aku sudah terlalu takut untuk maju, tapi jika mundurpun rasanya sudah mentok. Pikiranku terus berkecamuk.
Maju, jangan, maju, jangan, maju.
Arrgh!
Aku harus kesana, bagaimanapun ada Ari yang menungguku, kan? Aku mencoba menenangkan diriku yang ternyata sudah gemetat sejak tadi. Angin malam kembali berhembus dan saat aku telah melompati pagar, mengapa rasanya sangat sunyi?
Kulangkahkan kaki walau masih ragu. Setelah bertemu Ari nanti aku harus menyeretnya untuk segera pulang. Suasana terasa sangat mencekam.
Jarak aku dan pohon itu sudah semakin dekat, kulihat siluet sosok yang aku yakini adalah Ari sedang memegang obor tepat dibalik pohon. Aku tidak berani lagi mendekat jadi kuputuskan untuk memanggil Ari, namun tidak ada jawaban. Ini janggal. Postur itu tidak terlihat mirip dengan Ari. Tapi aku mengabaikan itu. Kupanggil berulangkali hasilnya tetap sama, ia masih berada ditempatnya. Desir angin menerpa wajahku, mengantarkan sesuatu yang berbau.. Amis? Aku tahu seharusnya aku segera beranjak pergi, tapi bagaimana dengan Ari jika aku meninggalkannya.
"Ari, kemarilah. Kita harus pulang sekarang," Tidak ada tanggapan.
"Ari, ada apa denganmu? Berhenti bermain-main. Yah, aku mengaku kalah, aku memang penakut. Tapi bisakah kita segera pulang?"
"Ari..."
Aku diam sejenak berharap Ari segera menghampiriku, nyatanya keheningan malah membuatku mendengar sesuatu yang ganjil. Seperti seseorang mengunyah dengan suara yang keras. Aku sudah tidak tahan lagi, Ari sudah sangat keterlaluan. Aku yang yang sudah terlanjur kesal, berjalan mendekat sambil menghentakkan kaki.
Tenggorokanku tercekat. Mataku membulat. Jantungku terasa mencelos. Perutku melilit sakit ketika melihat apa yang ditangkap oleh mataku walaupun samar-samar. Hal itu, apapun itu yang sedang mereka lakukan benar-benar menjijikkan sekaligus mengerikan. Aku ingin lari tapi kakiku terasa terpaku. Aku hanya menangis dengan obor bergetar ditangan kiriku. Aku ketakutan setengah mati, dan berusaha berteriak, siapapun tolong aku. Namun tak ada suara yang keluar dari mulutku. Didepanku yang sebelumnya aku pikir tempat Ari berdiri memegang obor, ternyata tergantikan oleh sosok lain. Sedangkan dua sosok lainnya sedang asyik menjejalkan sesuatu kedalam mulut mereka.
Dengan keberanian yang tinggal secuil, aku menggerakkan oborku kearah mereka agar lebih jelas. Mereka serentak menatapku. Namun fokusku hanya pada sesuatu, bukan, tapi lebih tepatnya kesosok yang aku kenal. Si gendut Ari, terlentang dengan kondisi isi perut yang terberai. Ukh, aku mual. Disana tubuh Ari di apit oleh makhluk...napasku tertahan. Aku..aku mengenal mereka, bukankah mereka..
Pandanganku kabur. Kaki ku sudah tak mampu menahan tubuhku. Aku terjatuh, disaat kesadaranku mulai menipis aku melihat mereka menghampiriku.
"Pulanglah. Kami sudah kenyang."
Aku sudah tak sanggup bangun. Kegelapan mulai menguasaiku.
Mereka...
Teman sepermainanku.
Lalu apa gunanya mantra untuk pagar pembatas itu?
##
18/04/2019
CantaLoupe
YOU ARE READING
THE TREE
HorrorPandanganku kabur. Kedua kakiku sudah tak mampu menahan tubuhku. Aku terjatuh. Disaat kesadaranku mulai menipis, aku melihat mereka menghampiriku. "Pulanglah. Kami sudah kenyang." Aku sudah tak sanggup bangun. Kegelapan mulai menguasaiku.
