Saat itu
aku masih betah berkurung dalam sepi
membunuh waktu dengan sendiri
membentengi diri,
dan menutup hati dari siapapun yang ingin mendekat membawa pelangi
aku terlalu fokus dengan diri
hingga tak kubiarkan seorangpun masuk dalam lingkaran penuh duri
Hingga suatu hari...
kau... datang dengan penuh percaya diri
menghancurkan benteng itu dan mulai mengetuk hati ini
bersama segenggam hati yang kau serahkan dengan janji
untuk mengikatnya sehidup semati
kau janjikan kebahagian yang utuh
kau lemparkan aku berjuta kata manis
hingga dalam setiap lisannya, aku lumpuh
bibir yang dulu selalu kau janjikan akan tawa, mengapa kini menjadi tangis?
tuan,
jika memang aku tak layak untuk kau jadikan satu untukmu
lepaskan!
jangan seperti ingin tapi tak ingin
jika memang bukan aku yang ingin kau jadikan ratu,
katakan!
agar aku bisa melangkahkan kaki melangkah pergi
dan akan ku kembalikan sepotong hati yang selalu ku jaga penuh rasa cinta
sembari berkata, terimakasih
sudah mengizikan aku menjaganya dengan utuh
dan... terimakasih pula untuk sepotong hati yang kau genggam, lalu kau hempaskan ia pada tanah..
mungkin kau lupa,
sepotong hati itu, milikku.. tuan.
-senduhujan
