Bukan Puisi

7 2 1
                                        

Kebisingan di jantung kota semakin menderu, mendekap hasrat tesungkur kaku.
Aku rindu tatapan orang tuaku, apalah daya waktuku masih baru.

@leonardfatih
---------------------------------------------------------

Apa yang tengah kau pikirkan ? Mondar mandir dengan wajah yang masam.
Ini kesekian kalinya kulihat kau tak tenang.

Kemarilah anak tampan, bawa dirimu ke sudut ruang biar lebih tentram.
Dari aku sajadah yang sudah mulai usang.

@leonardfatih
---------------------------------------------------------

Utaraku kini berada diantara barat bersaudara,
Merubah filter kebijaksanaan sembari berkelana.

Kesigapan mentalku diuji bersama syukur oleh Sang Maha Kuasa,
Untuk bahagia orang tua serta kamu yang ada disana.

@leonardfatih
---------------------------------------------------------

Mereka siapa ? Bertekuk lutut bersama bunga dan cokelat,
Menatap senja diantara para kabut
menunggu malam penuh pekat.

Cemasku pun mulai gagu ketika ribuan janji menjadi kesatuan yang palsu,
Ahh, menggodamu ? Untuk proposal percumbuan ?
Hahaha,,ayo bertarung ! Diamku tak pernah bisu.

@leonardfatih
---------------------------------------------------------

Tidak bisa dipungkiri, bahwa jamban adalah salah satu yang berjasa dalam mendapatkan ide atau solusi.

---------------------------------------------------------

Sepiku tak sendiri..
ramaiku tak berarti,
Memutar haluan diantara karang berdiri..
untuk pasti yang lama terpatri.

Aku bukan kemudi..
apalagi navigasi,
Aku hanyalah tiang inspirasi..
mengajak layar pada nyata ribuan ambisi.

@leonardfatih
---------------------------------------------------------

Aku punya doa,
Semoga kamu - aku menjadi kita.
Bukan hanya atas nama cinta,
Tapi saling membutuhkan
beribadah bersama
kepada Sang Pencipta.

@leonardfatih
---------------------------------------------------------

Ini Hanya Cerita

Geramku memuncak melewati jalan yang terus menanjak.
Atmosfer rasa bergejolak sampai semesta tak mampu bergerak.

Sengaja yang penuh keterpaksaan ini,
memanggil nadi, menarik jemari, menggiring hasrat, memacu sadar untuk bertemu tunak diri.

Ini hanya sebuah cerita,
baru ataupun lama, sama saja.
Kutuang sebagian pada sajak tak bermakna.
Untukku, untukmu & untuk mereka yang tak paham investasi renjana jiwa.

Kata mayoritas, macan dan banteng adalah makhluk yang sangar dan liar.
Apalagi jika dihari jumat, mereka sulit diterka dan penuh tanda tanya.
Dihari lainnya mereka anggun-menawan, santai-ceria.

Dinamika itu adalah rahasia mereka. Bersembunyi pada garis waktu. Menolak atau menunda pada selimut
masa lalu untuk harapan yang dituju.

Bagimu, perilaku itu akan sulit dicerna dan diterima. Yang bisa saja membuat tubuhmu terluka. Mungkin juga dibanjiri air mata.

Mungkin saja egomu hanyut diantara pelangi dan hujan. Memaksa raga untuk tau, kemana rintik itu jatuh dan mengapa spektrum membias busur.

Tapi ada satu yang bisa menaklukannya. Mau tau ? Tapi janji untuk tidak membabi buta ?!

Rebahkan tubuhmu diantara temali itu. Eratkan, sampai ingkarmu lenyap menyatu.

Dia seorang gadis yang menaiki kuda dengan gentong air yang cukup tua.
Berpapasan dihari senin, diiringi senyum dan tawa canda.

Bingung ? Kenapa ?

Tunggangannya sangat tenang, bijak walau diselimuti duka. Tak menghampiri apalagi mengejar. Kata kata doa jurusnya dan juga bukti nyata.
Sudah,,itu saja.

@leonardfatih
---------------------------------------------------------

Aku Hanya Bertanya

Boleh aku bertamu ?
Bertamu pada jumpa yang enggan kau sapa dan gelagat mesra penuh tanya.

Boleh aku rindu ?
Rindu pada tatap tajam yang bisa menggores luka dan mengikis jiwa.

Boleh aku cemburu ?
Cemburu pada senja yang selalu mampir dalam rasa dan tak jarang kau sebut cinta.

Boleh kau beritahu ?
Beritahu, apakah diammu menyenta, tidakmu melupa atau bahkan iyamu sedang menunda.

@leonardfatih
---------------------------------------------------------


Mengapa datangmu tak pernah permisi ?
Mengapa kepulanganmu tak jua menghampiri ?
Apakah sporadis telah mengajakmu pergi ?
Bersama petrikor, menjejak drama penuh misteri.

Sampai kapan kau ingin bersembunyi ?
Bersembunyi dalam larutan gula pada secangkir kopi.
Kopi yang kau nikmati bersama dia,
dia yang pikirmu adalah ksatria ?!

Mungkin kau hanya mengadopsi sebuah cerita.
Yang kau ronce dariku - untuknya.
Cerita tentang pasir bersambut senja.
Yang pernah kuceritakan padamu.
Terabaikan namun tetap hangat menenangkan.

Sajak awalnya telah kau acuhkan.
Kau hapus sebagian renjana yang sedang mengirap.
Mendebat bintang dan sasmita, yang akhirnya melebur di palung harapan.

Tak perlu bersusah.
Rindu ini akan tetap kutelanjangi.
Mengapung pada tinta yang bertumpah serapah.
Ditepian kertas, kususun rapih teruntai.

Teruskan petualanganmu dengan segala sesuatu yang kau definisikan sebagi cinta.
Biar tau, investasi siapa yang jauh lebih dari sebenar benarnya.

Dan saat lelahmu tiba nanti,
ketuk dan masuklah dalam selasar di pondok sebrang lautan.
Tempat dimana dulu kau sering bergumam soal senja.

Aku disana,
Menunggu,
Melanjutkanmu cerita yang belum tuntas.

@leonardfatih
---------------------------------------------------------

Untukmu kertas...
Terima kasih telah sudi mendengarkan dan menguntai semerawut benang merahku.
Maafkan, aku telah menodaimu.

Padamu langit...
Terima kasih atas biasan cahaya yang menerangiku melintasi rintangan

BagiMu Pemilik Semuanya...
Terima kasihku, atas dekapanMu yang tak berkesudahan.

B L A N K 😶😶😶😶

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 13, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Ini Bukan PuisiStories to obsess over. Discover now