"Tama, please jangan lupa kontak lagi pihak vendor stand makanan ya. Nanti di nikahan ga ada sushi stand kan ribet, soalnya vendor sushi itu kan khusus banget." ujar Dee sambil mengisi air ke dalam gelas untuk Tama yang sedang bermain handphone. Tama melihat sekilas pada Dee lalu kembali fokus pada handphone-nya.
"Iya," ujarnya singkat. Tangannya meraih gelas berisi air lalu meminumnya. Dee mendengus kesal sambil berlalu menuju kasir untuk memesan makanan. Antrian pelanggan yang ingin memesan makanan masih agak panjang. Wajar, restoran olahan daging sapi ini cukup terkenal di Bandung. Dee ikut mengantri dari belakang. Setelah mengantri cukup lama, tibalah giliran Dee untuk memesan. Wajahnya berubah menjadi ramah saat menyapa petugas kasir.
Tama melirik Dee. Ia sembunyi-sembunyi memandang Dee, karena Dee selalu tahu jika ada orang yang memperhatikannya atau kamera membidiknya. 3 tahun yang lalu, rambut Dee masih pendek seperti laki-laki. Dulu Dee suka mengikat atau menjepit bagian kanan depan rambut pendeknya. Sekarang, rambut Dee sudah panjang mencapai pinggangnya dengan ikal lembut di ujung rambutnya. Tubuh Dee juga sudah tidak gendut seperti dahulu.
Saat Tama menyelesaikan studinya dan pulang ke Indonesia 3 hari yang lalu, Tama kaget melihat perubahan Dee yang tadinya tomboy menjadi begitu feminim. Saat menjemput Tama di bandara, Dee yang mengenakan kemeja santai warna putih tulang dengan rok midi hijau muda serta cardigan beige dan sepatu heels coklat terlihat masih cantik sempurna, padahal saat itu sudah jam 2 malam. Rambut hitamnya diikat santai. Tama masih ingat bagaimana Dee yang gendut saat Tama berangkat ke Jepang. Jika dibandingkan dengan yang sekarang, Dee sangat jauh berbeda. Dee berlari memeluk Tama sambil mengatakan "aku kangen" berkali-kali.
Dee menyampirkan rambut ikalnya pada salah satu telinganya. Terlihat seorang pegawai kasir laki-laki yang melayani Dee tersipu-sipu malu dengan senyuman Dee. Sejak dulu, senyuman ramah Dee tak pernah berubah.
Dee berterimakasih pada kasir sambil tersenyum lalu berjalan kembali menuju meja tempat duduk mereka berdua. Tama segera mengalihkan pandangannya ke kantong plastik isi Gundam yang dia beli.
"Oke, aku tadi pesen yang sapi rica-rica ya. Soalnya daging sapi sambal matahnya habis," kata Dee. Ia duduk di kursi di hadapan Tama.
Dee menopangkan dagu di tangannya dan memandangi Tama. Tama tetap Tama yang dulu, Tama yang cuek dan acuh, namun sebenarnya sangat perhatian. Dee tak pernah protes seperti apapun penampilan Tama. Bagi Dee, Tama sudah cukup perfect. Bahunya lebar dan tegap, wajahnya kecil dengan garis rahang yang jelas biarpun pipinya chubby. Alis yang tegas, mata bulat dan senyum lebar yang manis, leher yang jenjang, lengan yang terlihat kokoh dan jari yang panjang, serta tinggi badan Tama yang mencapai 179 cm...
Tak ada yang tidak disukai Dee dari Tama. Tama seperti karakter komik yang muncul ke dunia nyata. Mungkin Naruto?
"Dee," panggil Tama, membuyarkan lamunan Dee.
"Ya?"
"Nikahan kita masih sebulan lagi. Persiapan udah berapa persen? Kamu ngurus semuanya sendirian?"
"Engga juga. Adek ikut bantu kok. Mum juga. Sayang sih Zara ama Adam ga bisa ikut bantu." Jawab Dee. Seorang pelayan datang dan memberikan pesanan mereka berdua. Dee mengucapkan terimakasih dengan manis lalu fokus pada makanannya.
"Iya ya, Zara melahirkan bulan depan katanya ya?"
"Yep, makanya aku bilang ke Zara ama Adam supaya ga ikut bantuin. Nanti kan repot kalo Zara kenapa-kenapa karena bantuin nikahan kita," kata Dee. Ia berusaha mengambil jatah daging Tama, namun Tama menepis garpu Dee yang mengarah ke piringnya.
"Tapi kamu baik-baik aja ama Zara dan Adam?"
"Baik-baik aja sih. Kan mereka yang jagain aku disini, terutama selama kamu studi di Jepang, aku selalu dijagain mereka. Kalo aku mau keluar, atau aku mau jalan, mereka kayak orangtua kedua aku. Nanya-nanya mau kemana, sama siapa, dimana, pulang jam berapa, gitulaaahhh. God, mum aja cukup padahal. Lah ini kok mereka juga ikutan. Hiiih," wajah lucu Dee membuat Tama terkekeh melihat calon pengantinnya ini. Dee memang unik, lucu, manis, namun dia tidak manja. Sejak SMA, Dee sudah biasa kemana-mana sendiri menggunakan motor. Makanya saat kuliah, Tama jarang mengantar jemput Dee karena dia sudah bisa sendiri.
"Good. Aku harus berterimakasih ke Adam nih udah jagain kamu. Oya, Adam ama Zara hari ini dimana?"
"Katanya sih tadi pagi mau ke rumah sakit, ke dokter kandungan. Tapi kalo udah jam 2 siang gini, mereka pasti udah di rumahnya. Mau kesana? Kebetulan kita juga belum ada rencana apapun setelah makan siang,"
"Boleh. Oya, vendor sushi bilang oke. Mereka nawarin sushi cake juga buat wedding cake nya. Mau ga?"
"Aku sih no. Kasian keluargaku ga ada yang suka sushi begitu. Kita pesen cheesecake aja yang berapa tumpuk sekaligus, tapi dekornya jangan yang berlebihan. Nanti kan bisa bagi-bagi ama keluarga kita."
"Bener juga. Oke aku kasih tau vendor ya. Makannya cepet, kita ke rumah Zara sekarang." Ujar Tama sambil mengetik di handphonenya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Newlywed Life
RomansaTama dan Dee-Dee sudah pacaran selama 8 tahun sejak kuliah. Cerita cinta mereka berlanjut hingga ke jenjang pernikahan. 8 tahun bersama membuat mereka tidak lagi mengalami hal-hal romantis seperti pasangan lainnya. Bagaimana mereka mengatasi hal ini?
