Black Doll

61 7 37
                                        

Amel kini berdiri di depan pintu gerbang kusam bersama kelima temannya. Mereka memandang sebuah villa besar abu-abu yang sudah ditumbuhi lumut.

Sebenarnya kedatangan mereka disini adalah untuk uji nyali. Ide gila itu berasal Gilang yang katanya villa milik keluarga Van Hudson terkenal angker.

Villa besar ini dulu milik keluarga bangsawan Belanda, namun sudah ditinggalkan akibat kejadian tragis dimana seluruh keluarga tersebut mati terbunuh tanpa jejak yang jelas, kecuali pembantu rumah. Kejadian itu terjadi pada tahun 1905. Sudah lama sekali.

"Baiklah. Seperti yang sudah direncanakan, kita akan masuk satu per satu dengan selang sepuluh menit. Sebelum itu mari kita undi siapa duluan yang akan masuk." Gilang mengeluarkan sebuah botol plastik yang ditutup kertas putih berisikan lima kertas gulung.

"Hah? Undi? Kirain mau masuk bersama-sama." Gadis berambut sebahu di samping Amel mulai gelisah sembari melirik ke arah villa.

"Kan gak seru kalau masuknya rame-rame. Gak menantang," seru Aksel mendukung Gilang.

"Iya sih...ta-ta-tapi gimana kalau hantunya keluar."

"Lah kan yang kita cari emang hantunya," kata Gilang.

"Gimana kalau hantunya tidak ada?" tanya Edwin yang sedari tadi menunggu sambil duduk berjongkok.

"Kalau hantunya tidak yah kita pulang," jawab Gilang enteng seakan yakin jika permainan uji nyali ini hanya permainan biasa. Mereka tidak tahu apa yang menunggu mereka di dalam.

"Hei katanya kita mau undi." Gilang, Aksel, dan Eva menutup mulut mereka begitu mendengar Amel.

"Iya hampir lupa. Ini nih gara-gara Ev- adaw!" Belum selesai Gilang bicara, Eva sudah menendang kaki Gilang.

"Ngomong sekali lagi, kutendang 'harta berhargamu' itu," ancam Eva.

"A-ampuni hambamu ini, Nyonya."

Karena kelamaan, Aksel menarik botol undian tersebut dan mulai mengocoknya. Satu per satu gulungan kertas jatuh. Orang yang pertama masuk adalah Aksel disusul Gilang, Eva, Edwin, dan terakhir adalah Amel.

"Padahal aku berharap jadi orang kedua atau ketiga yang masuk." Aksel hanya menunduk pasrah begitu tahu dia orang pertama yang akan masuk.

"Tenang, bro. Anggap aja itu hadiah." Gilang menepuk-nepuk pundak teman karibnya.

"Hadiah? Hadiah dari hongkok."

"Udah-udah mending kita masuk aja dalam. Tuh lihat, Amel aja biasa-biasa saja." Gilang cekikikan begitu melirik Amel yang hanya diam mematung.

"Ck. Diamlah. Lagian ini udah tengah malam. Harusnya aku sudah tidur saat ini," gerutu Amel yang sebenarnya menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang tak ingin membuat teman-temannya takut.

Gilang mendorong sedikit pintu pagar berkarat itu yang hanya bisa dimasuki satu orang. Keadaan villa itu benar-benar terkesan menyeramkan, apalagi tak ada satupun rumah sekitar sini, kecuali hutan belantara yang mengelilingi villa.

"Okay. Mari kita mulai, Aksel masuklah."

Aksel mengembuskan napas pelan-pelan, lalu membuka pintu villa tersebut. Debu-debu yang menempel segera berterbangan membuat mereka semua serentak bersin.

"Harusnya tadi aku bawa masker," kata Amel.

"Ingat, setelah jam menunjukkan pukul 3 pagi. Kita semua sudah berkumpul kembali depan gerbang," ucap Gilang dan dibalas dengan anggukan kepala.

Setelah Aksel masuk dan menunggu 10 menit, Gilang mulai masuk, kemudian Eva, lalu Edwin. Kini hanya Amel sendiri yang masih belum masuk. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul 00:50 WITA.

Black DollWhere stories live. Discover now