Kerajaan Luft
Delmar
1,5 tahun yang lalu
Aku sudah tak tidur semalaman karena aku berpikir akan tidur jika sudah berlayar nanti. Pagi ini sama seperti pagi sebelumnya banyak nelayan yang sudah menyandarkan kapalnya di pelabuhan. Sudah hampir dua tahun aku tinggal disini bersama Ijon, Basudeo dan lainnya. kami semua menjadi pelarian dan mencari tempat berlindung ke beberapa kerajaan dan kami pun sering berpindah-pindah. Semalam kami semua berkumpul di tempat salah satu kerabat Ijon yang tak jauh dari pelabuhan. Sebenarnya semalam kami saling berdebat apakah mereka harus mengikutiku menuju Weltervreeden atau menuju Ailesh.
Perjalananku dengan mereka sudah tak lagi sejalan, namun kami sama-sama memiliki tujuan yang sama. Aku termasuk orang yang percaya dengan tanda-tanda dan mimpi, karena bagiku itu bukanlah sebuah kebetulan dan bunga tidur belaka. Belakangan ini aku bermimpi hal yang sama selama dua tahun, mimpi itu tentang aku yang melawan seseorang yang entah siapa dengan keadaan sekitar yang sudah luluh-lantak akibat peperangan. Semakin hari mimpi itu semakin jelas, alasanku menuju Weltervreeden karena di dalam mimpiku aku melihat pahatan besar lambang kerajaan Weltervreeden pada sebuah tembok yang tinggi menjulang. Lambang itu berupa kepala singha, hewan dengan surai di sekitar lehernya.
Semakin lama semakin jelas dan terasa nyata, mulanya aku tak ingin menyampaikan apa yang ku rasakan dan lihat kepada Ijon dan lainnya karena akan mengganggu pergerakan kami sebagai sebuah kelompok. Jika hal itu aku ceritakan pada saat yang tidak tepat, aku sangat yakin mereka akan dengan senang hati menggantu tujuan perjalanan kami menuju Weltervreeden.
Beberapa saat menunggu dan datanglah makanan yang kupesan, kedai tempatku makan sekarang adalah kedai yang sama saat dua tahun lalu aku sampai di sini. Hampir setiap hari aku makan di kedai ini.
"Tumben kau pagi-pagi sekali kemari? Tidak seperti biasa," tanya Jani kepadaku sembari meletakkan dua mangkuk makanan ke atas meja.
"Aku hanya memesan satu porsi," jawabku singkat.
Ia pun menjawab sembari berjalan ke arah dapur, "Aku juga manusia butuh makan,".
Kedai milik Jani memang tidak terlalu ramai jika sepagi ini. Matahari baru saja terbit dan kondisi pelabuhan tidak terlalu ramai, kedai ini akan ramai jika aktivitas sudah dimulai. Biasanya aktivitas pelabuhan dimulai ketika para nelayan sudah selesai mengangkut hasil laut mereka ke pasar ikan di dekat sini.
"Hey kau belum jawab pertanyaanku!!" Teriaknya dari dalam dapur. Setelah itu Jina keluar dengan membawa dua gelas besar yang entah berisi minuman apa. Ia pun menaruh kedua gelas yang besar itu di samping mangkuk makanan yang masih penuh dan duduk di kursi di seberangku.
"Aku akan pergi menuju Diosil, ada yang harus ku lakukan di Weltervreeden," jawabku sembari mulai memakan bubur yang dipersiapkan oleh Jina.
"Apa yang lainnya juga ikut bersamamu?" tanyanya disela-sela makan pagi ini. Aku hanya menggeleng dan terus menyendoki bubur dan melahapnya. Tak butuh waktu lama untukku menghabiskan bubur ini karena aku sangat lapar.
"Aku pergi sendirian kali ini, Ijon, Basudeo, Al dan lainnya akan pergi menuju Ailesh," jawabku lagi.
Aku pun meminum apa yang ada didalam gelas, dan ternyata itu adalah buah malus kering yang di rendam kedalam air selama semalaman. Buah malus adalah buah yang hanya ada di Luft, biasanya buah ini berkulit merah atau hijau dengan rasa manis dan terkadang sedikit asam.
Ia pun tak membutuhkan waktu lama untuk menyantap habis bubur yang ia makan dan ia langsung meminum air buah malus itu dengan sekali teguk. Selepas ia minum dan meletakkan kembali gelasnya ke meja, Jina berkata kepadaku, "Kapan mereka akan berangkat?".
ESTÁS LEYENDO
Tah'visha : Weltervreeden
FantasíaJauh sebelum kami ada, dunia yang kami tinggali saat ini berisikan makhluk-makhluk mengerikan, dari yang berukuran kecil hingga raksasa seperti para penjaga tujuh wilayah. Para penjaga itu disebut Ehmrar, mereka merepresentasikan wilayah yang merek...
