Dua minggu yang lalu, sebelum liburan sekolah berakhir ....
"Pa! Seriusan!" protes gue pada Papa saat perjalanan pulang setelah dinner bersama kekasih yang akan Papa nikahi.
"Kamu pikir Papa bercanda?" tanya Papa balik. Gue melipat tangan di dada memalingkan wajah ke luar jendela mobil, kesalnya bukan main. "Memangnya kenapa sih?"
"Yuri enggak setuju, Pa!" kata gue dengan nada sedikit tinggi.
Ciiit!
Papa secara mendadak menghentikan laju mobil, membuat gue hampir terantuk. Gue menoleh ke Papa dengan kesal, ia melihat wajah gue dengan keheranan kemudian menghela napas. Lalu, kembali secara perlahan mengendarai mobil dengan laju yang santai.
"Kenapa? kemarin-kemarin kamu enggak masalah tuh, kamu kan udah dekat sama Sari." Ujar Papa.
"Yuri enggak masalah sama Tante Sari--"
"Kamu masalah dengan anaknya? Sebelumnya Papa kan udah jelasin, Sari itu punya anak cowok setahun lebih tua dari kamu. Terus kamu biasa aja, malah senang. Jadi, kenapa sekarang begini?"
"Yuri emang enggak masalah Pa, sama anaknya kalo emang bukan dia."
"Memangnya si Haris kenapa?"
"Tau deh!" rutuk gue yang langsung keluar dari mobil sesampainya di halaman rumah, dan berlari ke pintu rumah untuk segera membukanya.
Kesal banget ih!
Ya masa, itu anak cupu jadi kakak tiri gue? Kan enggak banget. Bantal menjadi sasaran empuk tinju gue, untuk menumpahkan segala kekesalan yang sedang gue rasakan. Argh! enggak bisa dibayangkan, gimana hari-hari gue yang bakal serumah sama dia. OMG.
Papa merasa sangat cocok dengan Tante Sari setelah lima bulan PDKT, gue juga sudah kenal baik dengan wanita itu. Gue senang sama tante Sari, dia ramah dan cantik. Jika Papa sedang pelit-pelitnya memberi gue uang saku, Tante Sari dengan baik hatinya memberi uang saku dua kali lipat dari biasanya. Itu salah satu alasannya gue senang dengan dia. Selain itu, kerap kali gue disajikan makanan lezat setelah pulang sekolah.
Papa memang memilih wanita yang tepat, Tante Sari. Sampailah pembicaraan serius antara gue dan Papa tiga hari sebelum dinner yang direncanakan.
"Menurut kamu, Sari itu gimana??" tanya Papa saat kami di ruang keluarga membicarakan hal yang sama setiap hari. Gue mengecilkan volume TV karena tahu arah pembicaraan mulai serius.
"Papa kan tahu, Tante Sari itu orangnya baik, ramah, cantik, pintar masak, rajin. Yuri suka!" jawab gue bersemangat, gue tahu Papa serius dengan hubungannya bersama tante Sari.
"Papa udah bilang kan, sebelumnya, kalo Sari itu punya anak cowok?" tanya Papa lagi, gue mengangguk. "Dia setahun lebih tua dari pada kamu," sambung Papa, lagi-lagi sebagai respons gue hanya mengangguk. "Namanya Haris."
"Kamu setuju kan, kalau Sari jadi mama kamu?"
"Setuju!"
"Papa mau lamar dia,"
"Lamar aja,"
"Otomatis kamu dan Haris akan menjadi saudara,"
"Of course!"
"Sebelum Papa melamar Sari, weekend nanti Papa minta kosongkan waktu kamu karena mau dinner dengan Sari bareng si Haris." Pinta Papa, gue mengangguk pasti.
"Iya, iya."
Huh! Gue jadi merasa benar-benar menyesal telah mengizinkan Papa melamar Tante Sari.
YOU ARE READING
Daily Of Life
Short Story[KUMCER] [Random Genre] Thank's udah mampir. Happy reading. Hope you enjoy, and like it.
