"Bosan?"

34 0 0
                                        

Chapter 1

Cuaca sore itu mendung sekali dan hendak turun hujan. Awan hitam mulai menyelimuti tanpa memberi peringatan. Namun di sore yang mendung itu, seorang gadis berambut hitam legam sebahu sedang duduk di halte bis sambil mendengarkan lagu lewat earphone yang ia pasangkan di telinganya. Dia adalah Sera, seorang mahasiswi jurusan sastra di Seoul yang dikenal jenius dan juga ramah. Tak hanya itu, wajahnya yang manis dan imut membuat dirinya cukup populer di kampus. Hanya saja, wajah imut nan manis itu tak menunjukkan raut yang bahagia sekarang. Tangannya sesekali mengusap layar handphonenya. Tersirat kegelisahan dan letih dari wajah cantik miliknya. Mungkin dirinya tengah menanti pesan atau telepon dari seseorang. Sudah hampir sejam ia duduk sendirian menunggu di halte bis. Ia bahkan melewati 3 bis yang datang menjemput. Semenit berlalu, Sera dengan terpaksa bangkit dari tempat duduknya dan menghembuskan nafas yang terdengar berat. Apa yang ia tunggu mungkin takkan datang. Sera akhirnya memutuskan naik ke bis keempat yang datang dan melangkah dengan berat.

"fiuhhh.. aku memang bodoh."

Sebuah kalimat pendek yang terdengar putus asa keluar begitu saja dari bibir mungilnya. Agak tertatih melangkah meninggalkan halte, Sera masuk ke dalam bis dengan diam. Raut kesedihan terpancar darinya. Perasaan menggebu-gebu yang membuat dirinya lelah dan terlihat selalu menyedihkan. Seribu tanya dan seribu satu jawaban muncul dalam pikirannya. Sosok lelaki yang ia tunggu tak memberinya kabar. Entah karena kesibukan, atau karena sesuatu yang lain yang tak ingin Sera tahu.
30 menit berlalu, dan bis berhenti. Sera turun dari bis. Matanya terpejam untuk sejenak untuk menghilangkan rasa sedihnya. Ia lalu melangkah pasti menyusuri jalanan yang sepi sore itu. Sera pun tiba di dua persimpangan jalan dan memandangi persimpangan itu cukup lama. Mungkin ia sedang mengenang sebuah kenangan yang sudah lama tak ia korek. Lalu sebuah senyum terukir. Helaan nafas yang dalam mengisyaratkan bahwa mungkin ada momen indah yang pernah ia alami di tempat ini. Selang semenit, Sera mendapati handphonenya bergetar, lalu ia melihat sebuah pesan masuk. Matanya berbinar-binar ketika mengetahui pesan yang ia terima itu dari Jun, sang kekasih. Sera membuka pesan dari kekasihnya itu, berharap pesan dari Jun mampu memberinya sedikit semangat.

"maaf ya, Sera.. aku tidak bisa mengantarmu pulang hari ini. Lain kali ya? Semangat! ILY!"

Sera tak begitu bereaksi membacanya yang artinya ia tak mengharapkan pesan yang bunyinya seperti itu dari Jun. Sera mematikan handphonenya dan memasukkannya kedalam tas jinjingnya. Mereka selalu begini. Sera nampaknya sudah terbiasa dengan situasi seperti ini sejak 3 bulan yang lalu. Semenjak ia pindah ke kota yang sama dengan Jun untuk melanjutkan pendidikannya. Pasangan yang sudah 3 tahun bersama hanya menikmati hubungan mereka seperti ini. Sebelumnya tidak, tapi semua orang sikapnya pasti berubah. Mungkin tahap yang disebut dengan kata bosan sedang mereka alami. Sera tak paham dan hampir setiap harinya mengeluh pada dirinya sendiri karena perubahan sikap Jun. Sangat sulit untuk mengatur jadwal bertemu, bahkan komunikasi via telpon terasa jarang menurut Sera. Sera sendiri tak tahu apa cara yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Ia ingin mengabaikan dan juga acuh tak acuh, tapi itu bukan hal yang tepat untuk dilakukan. Pilihan yang akhirnya muncul di pikiran Sera hanyalah diam dan mengalir saja. Entah sampai kapan ini akan terus berlanjut. Entah sampai kapan..

Sera masuk kekamar sehabis mandi. Matanya kembali mengarah ke telepon genggam miliknya. Mungkin saja ada notif di handphonenya yang datang dari Jun. Tapi, sepertinya yang ia harapkan itu mustahil. Sera pada akhirnya merebahkan dirinya di kasur empuk miliknya. Lalu, ingatan masa lalu muncul dalam pikirannya. Mungkin ia rindu. Rindu saat ia selalu menerima pesan singkat dari Jun yang membuat jantungnya berdegup kencang di malam yang larut. Rindu ketika tangan besar milik Jun menggenggam tangan kecilnya setiap kali mereka menghabiskan malam tahun baru bersama-sama. Tak hanya itu, perasaan rindu yang menyayat itu semakin menjadi saat Sera mengingat betapa perhatiannya Jun padanya waktu Sera sakit. Ada begitu banyak kenangan diantara keduanya. Tak ia sadari, setetes air matanya turun dengan perlahan. Masa itu adalah masa-masa paling menyenangkan bagi Sera. Tetapi, semua sepertinya pudar dengan perlahan sekarang. Semua menjadi begitu berbeda. Sera tak mengerti apa yang terjadi dengan hubungan mereka. Perlahan-lahan ia merasakan cinta yang ia miliki hilang dengan samar-samar.

GIVE UP ON YOUHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora