A/n:bissmillah dulu sebelum baca, biar berkah :-)
~~~bagian 3~~~
Dengan sorot mata, seseorang bisa melihat perasaan apa yang orang lain rasakan, seperti sorot kebahagiaan, kebencian bahkan kerinduan.
♥
♥
♥
Happy reading.
"huu,, gila tuh ya guru botak, bantet, kumis lele, jelek. ngasih soal matik enggak kira-kira banyaknya, udah gitu susah lagi"gerutu devi, saat ia dan ara baru saja mendaratkan bokongnya di kursi kantin.
"kualat loh ngatain guru, lagian elo nya aja yang lebay, pelajaran anak SD aja enggak tau"cibir ara yang duduk di hadapan devi.
Devi mendengus.
"kan lo tau gua orangnya lupaan, pelajaran yang kemaren aja gue udah lupa, apalagi yang udah bertahun-tahun"
Yah begitulah devi, pikun.
"iya, gue tau lo udah tua, ya jadi wajarlah kalo pikun. Pulpen lo selipin di kuping aja lo lupa"ucap ara dengan santai.
"isss tuhh mulut yaa, berapa kali gue bilang, gue enggak tu,,,,,, ya ampunnn"gerakan tangan devi yang terulur hendak menyentil mulut ara tergantikan dengan pekikan takjub, saat matanya menatap kebelakang bahu ara tepatnya ke pintu masuk kantin.
Ara menatap devi bingung. Kenapa nih anak, kesambet? Batinnya.
"pot woy!, depot!!"ara mencondongkan badannya kedepan sambil melambaikan tangannya di depan wajah devi. Devi memiringkan badannya sedikit karna ara menghalangi pandangannya.
"devita sari!! lo enggak kesambet kan?!"tanya ara saat lambaiannya tidak di respon, malah tangannya di tarik dan di letakkan di pipi devi, masih dengan posisi yang sama.
"ehhh dia kemari!!"pekik devi girang membuat ara semakin bingung.
"dia? siapa?"tanya ara bingung.
"devi!!"devi berdecak kesal, ia bangun dari duduknya lalu menangkup wajah ara dan mengarahkan ke arah pandangnya tadi.
"noh liat"
Ara terperangah, terpesona, dan ter-ter lainnya. Karna orang yang pertama ara liat saat kepalanya di putar oleh devi adalah, cowok dengan wajah tampan__tidak tidak, sangat tampan__ dengan rambut acak-acakan seperti tidak di sisir, baju seragam tidak rapi tanpa adanya dasi, mata tajam bagaikan elang, tengah berjalan dengan gagah menuju ke arah mejanya.
Ara melirik kekiri dan kekanan dengan kedua tangan devi yang masih menempel di pipinya, saat kantin terasa sangat sepi. Ternyata oh ternyataa, semua mata sedang memandang ke cowok yang membuat seorang aurora terpesona dengan sekali pandang, bahkan yang sedang berjalan pun mereka sempatkan berhenti demi untuk melihat cowok tampan itu.
Ara kembali menatap kedepan. Kini tangan devi sudah turun kebahu ara dan meremasnya sedikit keras, tepat saat cowok tampan itu sudah beberapa senti di hadapan mala.
Jantung ara berdetak kencang, ia juga menahan napasnya saat matanya beradu dengan mata elang itu.
Ara kira cowok tampan itu akan duduk satu meja denganya dan devi, tapi ara salah. Cowok itu berbelok ke meja yang ada di samping meja ara.
Pede gile lo ra.
Lagi, lagi ara terperangah tapi kali ini ia tidak terpesona malah ara terlihat marah, bagaimana tidak? Seenaknya cowok itu menarik dan melempar cowok yang tengah duduk di kursi samping meja ara tepat ke bawah bangku panjang yang ara duduki membuat bangku itu terdorong kebelakang. Satu kantin memekik kaget, lalu dengan santainya ia menggantikan posisi duduk di cowok yang ia lempar sambil memainkan game di ponselnya tanpa rasa bersalah, padahal masih banyak bangku yang kosong.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Prosferonta
Ficção AdolescenteKamu datang menghidupkan kembali seseorang yang sangat berharga untuk kehidupanku, membuat rindu membuncah setinggi-tingginya. Kamu adalah penawar rinduku yang menjadi candu bagiku. ****** -putri aurora azzahra. Cantik? Tentu. Ara itu di ambil dari...
