Exulansis
Meaning: A sense of despair that engulfs when you talk about an experience to someone else who will not be able to understand it.
--------------
Dentuman musik terdengar memekakkan telinga, semakin larut tempat ini semakin ramai, hal yang sangat lumrah sebenarnya untuk sebuah club apalagi di pusat kota Seoul seperti ini.
Hampir setiap sudut tempat ini terisi pemandangan dengan pasangan yang entah hanya sekedar mengobrol sambil minum, orang-orang yang sudah diambang batas antara sadar dan mabuk atau bahkan tengah bercumbu.
"Menjijikan, mengapa tidak sewa salah satu kamar saja? Ku rasa masih mampu jika hanya untuk menyewa satu kamar di sini." Batinku sarkastik.
Disinilah aku berakhir, duduk disalah satu kursi di depan meja bartender. Menghabiskan bergelas - gelas minuman laknat ini. Lalu berakhir mabuk dan pulang dengan taxi yang sebelumnya telah dipesankan si bartender.
Dia tidak mengenalku, hanya saja itu sudah seperti pekerjaan tambahan bagi bartender maupun karyawan lain disini. Bukan karna alasan kemanusiaan, hanya saja membiarkan pelanggan yang hangover diclub sampai tutup bukanlah sebuah hal yang baik.
Apakah aku sering kesini?
Ya dan tidak.
Aku datang ketika otakku sudah tidak lagi bisa ku ajak kompromi dengan semua masalah yang menghantamku. Saat yang katanya menangis akan membuatmu lega sudah tidak lagi berguna. Tempat ini adalah tempat pelarianku.
Lari dari hidup yang full of every fucking shit yang menilai dari atribut yang dipakai seseorang atau sekedar kata-kata yang diucapkannya. Lari dari rumah setelah telingaku dicekoki kata-kata menyakitkan yang bahkan tak ku sangka akan keluar dari ibuku sendiri.
Lamunanku terusik tat kala seorang pria mendekatiku ketika aku hendak meneguk kembali cairan yang ada di gelasku —Tequila Sunrise yang hanya tinggal satu tegukan lagi. Dia lalu duduk di kursi sebelahku sambil memasang pandangan melucuti tubuhku.
Skinny crop tee hitam dengan luaran jaket denim yang ku padukan dengan short skirt hitam menempel anggun pada tubuhku, lumayan seksi memang. Tapi ku kira itu hal wajar, lagian mana ada yang datang ke club dengan pakaian sopan dan tertutup? Hey.. Aku disini untuk dugem bukan qosidahan.
"Hey manis, butuh teman?" ucapnya seraya menempelkan tangannya dilenganku. Bau menyengat alkohol sangatlah terasa, dia sama-sama mabuk denganku.
Ku tepis kasar tangan pria yang menyentuh lenganku. Aku bangkit dari kursiku. Ku langkahkan kakiku meninggalkannya dengan langkah yang sempoyongan.
Dia masih saja berusaha mengejarku dan mencoba melakukan pelecehan kepadaku.
"Ayolah, aku tau kau butuh pelampiasan. Mari bermutual." ucapnya padaku sambi mencoba menciumku.
PLAKKK!!
Aku sudah diambang batas kesabaranku hingga tanpa sadar aku menamparnya.
"DASAR JALANG KURANGAJAR!! teriaknya seraya mengangkat tangannya hendak menamparku. Ku tutup mataku, berharap dapat mengurangi rasa sakit. Meskipun aku tau itu tak akan berpengaruh banyak.
Beberapa detik berselang tak kurasakan tangannya menyentuh wajahku, melainkan bunyi pecahan botol dan beberapa teriakan wanita yang terdengar. Terlihat ia tersungkur di lantai club, disebelahnya terdapat meja yang roboh dengan kaki yang patah satu dan cairan yang keluar dari pecahan botol serta gelas. Selain itu makanan yang tadinya diatas meja itupun jatuh berserakan.
Aku hanya tertegun menyaksikannya. Setetes demi setetes air mataku jatuh. Masih dengan posisi berdiri, aku menangis sesenggukkan sambil memandangi pria itu dipukuli oleh seorang lelaki. Setelah pria tadi tak lagi melawan, lelaki itu pun mendekatiku.
"Hei, kau ti—" belum selesai kalimat yang dikeluarkan lelaki itu, pandanganku berubah buram lalu semua menjadi gelap. Setelah itu aku tak lagi tau apapun. Hal terakhir yang kurasakan adalah tubuhku yang diangkat oleh seseorang.
---------
Bau choco mint menyeruak di hidungku saat cahaya matahari perlahan membuatku terbangun.
"Ini bukan bau kamarku"
Kesadaranku perlahan pulih, terlebih saat ku rasakan sebuah lengan diatas perutku.
"WAAAAAAAAAAAA" ku singkirkan lengan itu dari perutku sambil mencoba meraba tubuhku yang berada dibalik selimut.
Masih lengkap hanya saja...
.
.
.
.
.
Hai, mochiepace disini..
Pendek ya? Maaf, sengaja gw setting gitu, takut pada bosen aja. Kan gak lucu kalo cerita gw udh gaje, ngebosenin lagi :(
Mungkin tiap part cuma sampe 700 atau 800 kata aja atau mungkin juga bakal kurang. Gw bakal kasih panjang klo lagi mood nulis. Gw juga bakal usahain update tiap seminggu sekali.
So, see you next time guys..
Salam,
_mochipeace 🐨🐨
YOU ARE READING
SCIAMACHY [SLOW UPDATE]
Teen FictionDisaat dunia yang ku huni sejak lahir tidak lagi cocok denganku. Saat orangtua yang seharusnya menjadi tempat untuk pulang yang hangat tak lagi ada. Dan ketika rasanya menenggelamkan tubuh dilaut lalu membiarkannya dicabik-cabik hiu terasa lebih men...
![SCIAMACHY [SLOW UPDATE]](https://img.wattpad.com/cover/182293008-64-k67857.jpg)