Minggu malam kemarin, aku tiba-tiba di telepon oleh salah satu teman lama-ku yang sudah ku kenal sejak SD, Estelle. Atau yang biasanya kupanggil akrab dengan nama Stelle. Stelle mengajak-ku untuk bertemu dengan-nya di salah satu cafe dekat rumahnya jam delapan malam. Tak lupa dia juga mengajak Kenicho, teman sekelas kami dulu ketika SD. Ceritanya kami bertemu untuk melakukan reuni kecil-kecilan setelah sudah sekitar delapan tahun kami tidak bertemu karena Estelle dulu pindah ke Surabaya ketika kelas empat. Jadi selama itu pula kami bertiga hanya mengabari satu sama lain via Facebook dan Instagram.
Singkat cerita, kami semua sudah tiba di cafe tempat kami janjian tepat jam delapan pas. Seraya berbincang-bincang, kami memesan makanan dan minuman. Aku dan Stelle memesan pesanan yang sama – Nasi Goreng Blackpepper ekstra daging sapi dan Strawberry Juice ekstra susu vanila. Kenichi memesan Oreo Milkshake Jelly dan Kentang goreng.
Disitu kami asyik membahas tentang perubahan-perubahan kami satu sama lain ketika SD dulu dibandingkan dengan sekarang. Aku dan Kenicho yang dulunya pendek sekarang menjadi sangat tinggi dan semakin hitam. Berbeda dengan Stelle , penampilan-nya yang dulu jika dibandingkan dengan sekarang sangatlah berbeda. Sekarang Stelle adalah wanita yang sangat cantik, warna kulit-nya yang sangat putih sangat berbeda dengan warna kulit kami sekarang; tinggi badan-nya yang juga terbilang tinggi; hidung-nya yang tajam dan alis matanya yang menawan; mata-nya yang sedikit sipit dan memakai contact-lense berwarna coklat; tak lupa dengan kawat gigi warna tosca yang dipakainya membuat kecantikan-nya makin komplit saja.
Tak lama setelah kami memesan, makanan dan minuman kami kemudian datang. Kami-pun segera menghabiskan makanan kami terlebih dahulu, kemudian disusul dengan minuman kami yang kami habiskan secara perlahan-lahan sambil kembali berbincang-bincang. Ternyata tak lama setelah makanan kami habis , Kenicho tiba-tiba ditelepon oleh mama-nya yang menyuruhnya untuk segera pulang karena papa dan mama-nya mau pergi ke pesta tanpa mengajak Kenichi (Adik laki-laki dari Kenicho). Jadi Kenichi-pun kemudian segera telebih dahulu meminta maaf kepada kami karena tidak bisa berlama-lama dan kemudian segera pulang ke rumah-nya tanpa lupa terlebih dahulu membayar makanan dan minuman pesanan-nya tadi di Meja Kasir. Akhirnya sekarang tinggal Aku dan Stelle. Ya, Hanya berdua!
Sedikit Flashback, sebenarnya ketika kelas tiga SD dulu aku pernah diam-diam suka dengan Stelle. Awalnya aku menyukai-nya karena dia adalah anak yang sangat pintar. Selain dia sangat pintar di bidang akademik dan selalu memperoleh juara umum satu setiap Ujian kenaikan kelas dulu, dia juga sangat mahir bermain piano. Sering sekali Stelle tampil menunjukkan bakat Piano nya setiap ada acara spesial di sekolah. Stelle juga sangat pandai menyanyi menurutku – walaupun dia tidak pernah tampil menyanyi di satupun acara sekolah. Dia memiliki suara yang sangat merdu dan sangat menjiwai ketika bernyanyi, walaupun pada usianya yang terbilang masih sangat kecil pada waktu itu.
Aku ingat sekali dulu ketika dia pernah bernyanyi di kelas sampai terharu dan meneteskan air mata karena terlalu terbawa perasaan ketika menyanyi , liriknya seperti ini : “Hatchiii.. anak yang sebatang karaa… pergiiii.. mencariii ibunyaaaa… diii malam yang sangat dingin….. teringattt maamaaa…. huuu…huuu..Maaamaa…Maamaaa.. Dimanakah kau beradaaaa…. Mamaaa…Maaamaaaa…Dimanaaa Maamaaaa…”.
Pada saat itu nyanyian singkat-nya berhasil membuat satu kelas menangis terharu, termasuk aku!!!
Kembali lagi pada cerita kami berdua di cafe, Tak lama ketika Kenicho pergi Stelle menceritakan pengalaman-pengalamannya dulu ketika bersekolah di salah satu sekolah favorit di Surabaya, St Louis 1. Sekarang-pun ketika dia berbicara dengan-ku, terdengar jelas logat bahasa-nya yang sangat berbeda dengan-ku, Logat Suroboyo. Dia bercerita bahwa dia sangat sering mengikuti lomba-lomba piano tingkat Nasional dan bahkan Internasional. Bahkan dari hasil Menjuarai lomba-lomba piano tersebut, Stelle mendapatkan banyak sekali beasiswa untuk berkuliah baik di dalam maupun di luar negeri. Jadi dia sekarang melanjutkan kuliah-nya di National University of Singapore, mengambil Batchelor of Music.
Sepanjang dia bercerita tentang pengalaman-pengalamannya , aku hanya bisa duduk termenung membayangkan betapa pintar-nya dia. Terakhir aku juga bercerita bahwa selama masa SMA-ku aku lebih suka untuk menulis cerita dan puisi, dan mengikuti lomba-lomba mengarang di Sekolah walaupun tidak pernah sekalipun menang.
Kebetulan cuaca yang pada saat itu sedang hujan deras, akupun kemudian membacakan puisi singkat favorit-ku yang ku karang sendiri untuk dia, Judulnya Hujan.
Hujan
Hari itu sedang Hujan..
Ku pandang Stelle sedang makan..
Oh Stelle..
Engkau bukanlah Kenicho..
Dia pun kemudian tertawa terbahak-bahak mendengarkan puisi singkat-ku itu. Aku pun kemudian berkata kepadanya , “Sing Penting aku hepi” (Yang penting aku hepi).
Tak lama ketika aku selesai membacakan puisi kebanggaan-ku itu, ajaib-nya hujan tiba-tiba berhenti! Aku hanya bisa berangapan bahwa hujan yang tadinya sedang menangis ternyata bisa berhenti nangis-nya mendengar puisi-ku barusan! Feel like pawangujan-sta..
Berhubung karena pada saat itu sudah jam sembilan lewat, kami pun segera membayar makanan dan minuman kami dan kemudian segera pulang karena sudah malam sekali, takut nanti dimarahi mama kami. Stelle pun berjalan kaki pulang tanpa perlu kuantar karena rumahnya sangat dekat, hanya tinggal menyebrang. Aku pun kemudian juga menyusul pulang setelah melihat dia sudah masuk ke rumahnya.
Oke shere ya
Ig:rizkyyy.ramadhan
Wa;08998294309
