Sekolah baru

16 1 0
                                        


07.30, waktu yang tepat untuk datang ke sekolah. Aku sudah siap di dalam mobil mewah limousine dan pasukan bmw yang melaju mengelilingiku untuk menjaga perjalanan menuju ke sekolah. Hari ini hari pertamaku masuk sekolah. Jangan bayangkan aku adalah siswa tingkat pertama yang di pagi hari dag dig dug menyambut hari pertama masuk sekolah baru. Tidak. Aku siswa tingkat dua sekolah mengah atas. Ini sekolah baruku. Rafa, bodyguard kepercayaanku dengan sigap membuka pintu limousine yang kami kendarai, tanda bahwa kami sudah sampai tempat tujuan.

Dengan mengabaikan segalanya aku memberanikan diri untuk melangkahkan kakiku keluar menuju dunia baru. Kumantapkan niatku, kudongakkan kepalaku, dan kusiapkan indera penglihatanku untuk memeriksa sekitar.

Oh ini mengerikan,

mereka yang berhamburan semakin mendekat ke arahku. Ambil sikap acuh, aku tak mau melihat mereka. Iseng aku lebih mendongakkan kepalaku ke atas. Aku terkejut, sungguh. Inderaku telah menangkap sesuatu yang tak asing, indah, berwarna, berhiaskan cahaya yang menembus pantulan kaca koridor lantai atas mengenai paras cantiknya.

Suara teriakan para gadis mengintrupsiku. Aku terpaksa melihat sekitar. Tidak, ini lebih mengerikan dari sebelumnya. Mereka terus berdatangan dan mencoba mendekatiku. Mereka mencoba meraih kepala dan mencabik-cabik tubuhku dengan tatapan tajam. Kurasa dunia akan berakhir, aku tak bisa merasakan oksigen masuk ke tubuhku. Dunia ini semakin buram, gelap, dan lenyap. Mataku tak sanggup terbuka lagi, kurasa tubuh ini sudah tak terasa. Saat itu kuyakini, aku tak sadarkan diri.

...

Harum semerbak bunga mawar memaksaku untuk membuka mata. Dengan perlahan kubuka mataku dan berharap tak ada kejadian mengerikan seperti tadi. Oh ayolah, bagi orang sepertiku kejadian seperti tadi adalah jelmaan neraka. Aku tak bisa berdekatan atau bahkan berteman dengan keramaian.

Aku adalah ketenangan,
dan ketenangan adalah aku.

Kondisi sekitar aman. Tak ada para gadis yang beramai-ramai menyelubungiku. Harum mawar ini masih menusuk hidungku. Aku mencarinya. Tak berlama-lama karena memang ia berdiri terpapah vas cantik di atas nakas sebelah tempat tidurku. Ku amati sekitar. Ini uks, sepertinya. Memang lebih baik di sini.

Tak lama kemudian, kudengar suara dua orang siswa dan seorang siswi mendekat. Mereka terkejut ketika melihatku telah terbangun. Salah satu dari mereka berkata,
"ah, kau sudah bangun, baguslah. Kau pasti Bastian si murid baru kan."
Ah dia tau namaku. "hm ya".
Kemudian seorang siswi itu gantian menyapaku,
"hai Bas, kami ini teman kelasmu lo. Aku Minerva, dia Boy yang sok kenal dengamu tadi, dan dia yang terjelek dari semua yang jelek (sambil menjulurkan lidahnya keluar, arah pandangnya menuju teman di samping kirinya), Daffa."

Ah aku sangat terkejut, perkataannya sungguh ironi. Kugerakkan mataku sejenak untuk menengok ke arah Daffa, dia hanya memasang muka cemberut pada Minerva. Ketika sadar aku menatapnya, ia sontak tersenyum kepadaku. Hm apa boleh buat. Kunaikkan pula salah satu sudut di bibirku. Aku hanya mencoba tersenyum. Kemudian mereka tertawa dan mengajakku untuk pergi ke kelas.

...

Ramai.
Benci.
Gila.

Aku tak akan merasakan keramaian. Kuseberangi lautan manusia di depanku, dan tanpa menoleh sedikit pun segera kududukkan tubuhku pada kursi belakang tepat di sebelah Daffa. Kubungkukkan tubuhku, kutundukkan kepalaku, dan kutopang dengan kedua tanganku di atas meja. Sejenak kudengar mereka berbisik-bisik tentangku,
"hei dia kenapa si. Dikira kita ini hantu apa ga ditengok." dan semua orang di kelas menatap sinis ke arahku. Aku yakin itu. Tapi aku tak peduli, karena keramaian

it's not my style.

Acuhkan saja, karena aku akan tidur.

Tbc



Halo guys,
Ini pertama kalinya aku bikin cerita di sini. Aku harap kalian suka. Jangan lupa vote ya, terimakasih^^

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 21, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

DeepReasonWhere stories live. Discover now