- Nara -
Bukahkah pepatah jawa mengatakan "Witing Tresno Jalaran Soko Kulino", yang artinya "Cinta datang karena terbiasa"
Tapi pepatah itu seolah tidak berlaku bagiku. Dia suamiku. Aku tinggal seatap dengannya, hidup bersama denganya, bahkan tidur diranjang yang sama dengannya tapi aku tidak mencintainya.
Cinta...
Hatiku telah habis untuk mencintai satu nama, Sina. Lelaki yang menjalin cinta diam-diam denganku selama 10 tahun. Tapi aku sangat menyayangkan keputusannya untuk memilih antara melamarku atau melepaskanku.
Aku cukup tau dia belum siap dengan pernikahan. Alasanya berbagai macam, mulai dari kehidupannya yang belum mapan, usianya yang belum matang bla bla bla dan bla. Alasan yang cukup dibuat-buat. Dan tentu saja ia lebih memilih melepaskanku daripada melamarku. Aku sudah berusaha menahannya kala itu agar ia tidak melepaskanku tapi usahaku seolah sia-sia. Cintaku tak cukup kuat untuk membuat hatinya tergerak. Mungkin baginya dengan tampangnya yang tampan itu ia cukup mampu mendapatkan wanita yang lebih dari diriku.
Saat itu aku mulai hilang harapan akan cinta. Kupasrahkan soal jodoh pada orang tua. Terserah mereka mau memilihkan seseorang seperti apa untuk dinikahkan denganku. Tapi kedua orangtuaku bukan tipikal pemaksa, mereka tetap menghormati keputusanku.
Hingga suatu hari datang seorang pemuda, salah satu anak dari sahabat ayahku. Laki-laki mapan dengan title S.Ag, lulusan pondok pesantren terkenal di Jawa yang kemudian melanjutkan pendidikan agamanya di universitas hingga memperoleh title itu.
Jika kalian tanya wajahnya, menurutku lumayan, tidak jelek dan tidak terlalu tampan juga. Masih jauh lebih tampan kekasihku.
Dia terlihat duduk dengan gusar, aku melihatnya dari balik tirai ruang tengah. Tentu saja kuperhatikan juga sisi kanan dan kirinya, dimana ada ibu dan ayahnya.
Nampan berisi cemilan kering dan tiga buah cangkir teh sudah siap dibawa keruang tamu. Aku melangkahkan kaki dengan nampan ditangan, mencoba terlihat baik didepan para tamu ayah.
"Nara, duduk sini" Sahut ayah usai aku menyajikan segala sesuatu yang ada dinampan tadi.
Aku hanya menunduk dan menuruti instruksi ayah. Enggan menatap yang ada didepanku. Toh aku pasrah saja. Intinya sekarang lamar dan nikah dulu, ta'arufnya belakangan. Aku sudah enggan didesak dengan pernikahan.
"Dik Nara, ini perkenalkan putra bapak, namanyaaa..." Ucap si calon mertua yang menggantung diakhir diikuti kode kedipan matanya kearah laki-laki disampingnya. Aku sempat melirik adegan tersebut.
Beberapa detik kemudian ia baru sadar dengan kode yang diberikan ayahnya. "Oh iya, perkenalkan nama saya Muhammad Ilham Firdaus" Sahutnya sedikit ragu dan gugup.
"Saya Nara Zahira" Jawabku yang cuek bebek, masa bodoh. Toh aku tidak mencintainya jadi untuk apa canggung?
"Duhhh canggung banget nih adek aku kayaknya, udah entar aja sesi ta'arufnya lewat grup whattsap bertiga, nanti kakak yang jadi penengahnya, dek nara mau kan?" Sahut seorang wanita yang duduk disamping calon mertua yang sejak tadi belum kunotice, sepertinya kakaknya sih.
Aku hanya mengangguk menanggapi perkataan si kakak.
"Untuk sementara kita jelaskan hal-hal dasar mengenai si Ilham ya Nara" Sahut si Kakak, diikuti anggukan dari yang lainnya.
Si lelaki yang bernama ilham itu mulai menyebutkan semua hal tentang dirinya, pekerjaannya, pendidikannya dll. Aku malas mendengarkannya. Hingga akhirnya ia menyudahi perkataannya.
"Kalau dek Nara?" Tanya Ilham padaku
"Ali bin Abi Thalib berkata, jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak membutuhkan itu dan yang membencimu tidak mempercayai itu" Jawabku penuh dalih, jujur aku malas. Hatiku juga malas.
Jelas saja seisi ruang tamu bengong mendengar jawaban konyolku yang cenderung kearah penolakan.
"Tapi aku bukan Fatimah Az-Zahra yang sudah mengetahui pribadi Ali dan mencintainya diam-diam" Jawab Ilham yang malah balik membuatku shock.
"Hahaha" Tawa seisi ruangan pecah, kecuali aku. Kemudian perlahan tawa itu menghilang.
"Kan, apa aku bilang, lanjut di grup whattsap aja deh ya sesi ta'arufnya" Jawab si kakak.
"Oh iya, perkenalkan, nama kakak kak Indy, kakak ini kakaknya Ilham, yang disamping kakak ini nama Ibu Sara, ibunya Ilham dan saya, dan terakhir ini ayah kami namanya pak Dika. Kakak jelasin satu-satu biar kamu nggak bingung aja ya Nara" Jelas Kak Indy yang cukup membantu kebingunganku.
Kemudian bergantian ayah yang menjelaskan mengenai keluargaku. Tentu saja penjelasannya cukup singkat. Maklum aku anak tunggal.
Tidak banyak yang diperbincangkan pada pertemuan kala itu. Hanya mungkin ayahku dan om Dika yang lebih banyak mengenang masa lalu dan janji untuk saling menikahkan putra putrinya kelak meski tanpa paksaan dari mereka untuk saling menerima dan mengemban janji itu. Tapi aku setuju saja. Toh hatiku sudah penuh luka. Tak ada lagi cinta. Jadi mungkin menikah dengan Ilham tidak akan jadi masalah.
Entahlah dengan Ilham. Dia hendak menjadikanku istrinya karena sebuah luka juga atau cinta, atau mungkin keterpaksaan juga demi dicap sebagai anak sholeh yang patuh pada kedua orangtua. Aku tidak tau, yang kutahu, dia berada dipondok pesantren cukup lama jadi mungkin belum pernah melihat wanita secantik diriku. Haha. Aku mencoba sedikit menghibur diri.
Kucoba mendongakan sedikit kepalaku ditengah perbincangan tidak penting ini. Mataku mencari letak Ilham. Memandangnya perlahan hingga tak sengaja mata kami beradu. Ia tersenyum tipis, entah apa arti senyumnya. Seolah tersimpan banyak luka dibalik senyum itu. Masa bodohlah. Setidaknya dua orang yang terluka bersama, lebih baik dibandingkan satu orang terluka sendirian.
Bersambung...
YOU ARE READING
Aku Tidak Mencintai Suamiku
Spiritual#Terbit Setiap Sabtu Malam Minggu (insyaallah) #Jangan lupa bintang dan follow ya Dia Suamiku, tapi aku tidak mencintainya. Setampan apapun dia, sekaya apapun dia dan sebaik apapun ia padaku, aku tetap tidak mencintainya.
