Si Buruk Rupa

24 2 0
                                        

Emang kamu siapanya aku? Kok nyuruh-nyuruh aku?

🌟

Jangan tanya pasal kenapa Eri membencinya. Dilihat dari luar saja, sudah membuat banyak orang mual dan jijik.

Namanya Bintang. Cowok yang menjijikan itu sedang berdiri dihadapan guru kesiswaan. Tahu apa yang dia katakan kepada guru kesis?

"Saya bukan telat, Bu. Saya hanya kesiangan," kedalnya singkat padat jelas. "Setelah apa yang kau lakukan, begini caramu berbicara pada orang yang lebih tinggi kedudukannya dari pada kamu!? Saya ini guru!" marahnya membuat siswa di kelas mengalihkan perhatian tepat kearah Bintang yang berdiri tak berdaya dihadapan guru.

"Guru juga 'kan man—"
"Bintang, ikut saya sebentar," aruh Eri tiba-tiba. Sontak, Bintang terkejut. Eri, menganggukkan kepalanya sedikit mengarah pada Bu Guru. Bu Guru hanya bisa menghela napas lalu pergi meninggalkan kelas—9F.

Eri menarik tangan Bintang sekuat yang bisa ia lakukan. Eri tak segan-segan menarik cowok bermasalah itu dikelasnya.

🌟

"Lepas!" karena tidak betah dan merasa kesakitan, Bintang menangkis tangan Eri. Eri berhenti berjalan lalu membalikan badan melihat raga Bintang yang menggelikan—mirip waria.

Urat di kepala Eri mulai mengencang, "Bisa nggak sih lu sopan dikit! Terus, itu badan jangan kayak banci bisa nggak?"

"Nggak. Gimana donk?" nyengir Bintang tanpa merasa bersalah sedikitpun. Eri tak dapat menahan bara apinya, seakan-akan ada lava yang berusaha keluar dari puncak gunung dan memuntahkan seluruh isi perutnya.

"Kalau gue meledak, baru tau rasa lu," kesal Eri. Bintang hanya tersenyum, "Sok, meledak. Nggak bakal aku marahin. Paling kamu yang kena marah guru BK atau kesis. Ya nggak?" sindir Bintang kegirangan. Eri semakin tidak tahan dengan kelakuan Bintang yang sungguh menyebalkan.

"Dasar buruk rupa nggak tau diri! Emang apa susahnya sih sopan dikit?" dalih Eri dengan nada yang ditinggikan. Bintang mengangkat bahunya, "Hilih, mentang-mentang OSAS jadi sok ngatur gitu. Emang kamu siapanya saya, ya?" hardik Bintang sambil menunjuk-tunjuk Eri.

OSIS kali, Bin, gerutu Eri dalam hati. Eri melihat Bintang, "Lu tau kan kenapa kelas kita selalu diejek?" sergah Eri penuh kewibawaan. Bintang membatu.

"Bukan urusanku. Kamu kan OSIS? Kenapa nggak keluarin saya saja langsung?" kecam Bintang. Eri merasa ingin mengatakan sesuatu tapi merasa tidak enak—karena ini bersangkutan dengan rahasia guru kesiswaan, guru BK, dan anggota OSIS.

"HEH! Kenapa nggak jawab?" desak Bintang.
"I-itu... karena—"
"Bilang aja kalau sekolah ngeluarin saya, sekolah tidak ada yang ngebiayain sukarela 'kan?" tukas Bintang dengan nada tegas dan jelas. Eri merasa tak berdaya. Merasa kalah dan bersalah. Bintang hendak meninggalkan Eri seorang diri.

"M-maaf..."
"Gue cuma mau lu sopanan dikit..."

Bintang menghentikan langkahnya. Menghela napas, "Bodo amat. Saya mau sendiri. Kalau perlu, saya pindah sekolah mulai besok." ucap Bintang dengan penuh rasa percaya diri. Sayangnya, Eri hanya menganggapnya kebohongan belaka dan candaan.

"Yah, marah, deh..." ejek Eri. Bintang hanya bungkam dan melanjutkan langkahnya. Eri hanya tersenyum menunggu kenyataan esok hari bahwa Bintang tidak akan pindah dari sekolah. Apalagi sebentar lagi UN. Siapa juga yang bisa pindah sekolah pas H-21 UN?

🌟

Hari esok tiba, langkah demi langkah Bintang hentakan di ubin koridor menuju kelas. Tanpa membawa apapun. Hanya berpakaian rapi, sopan—tapi tetap saja poninya masih menutupi mata sebelah kanannya. Dengan didampingi guru, Bintang di ajak ke kelas.

Bintang masuk kedalam kelas dengan wajah biasa.

Sudah kuduga dia nggak bakal pindah sekolah AWOKAWOKAWOK, gumam Eri girang tidak keruan. Tapi, anehnya Bintang tidak duduk di singgasananya, melainkan membuntuti wali kelas. Eri mulai merasa ada yang tidak beres.

"Hari ini teman kita, Bintang Setyawan akan pindah ke sekolah lain." ucap wali kelas. Kelas sunyi. Seperti tidak ada kehidupan di dalamnya—bisa dibilang seperti kuburan terlantar. Namun, alam batin siswa sekelas mengatakan hal yang sama, akhirnya Bintang pindah! Kelas kita nggak bakal ada banci lagi! YASSSS!

Berbeda dengan Eri. WHAT THE F*CK!! KOOOK!!!! ANJ*R!! Are you kidding me!?

"Terima kasih untuk semuanya, teman-teman. Berkat kalian, saya bisa mendapatkan pengalaman yang pahit di jenjang SMP." oceh Bintang. Sekelas terkejut bagai ditusuk. Mematung dan terbungkam. Bintang berhasil membuat kelas makin tak berpenghuni, mau lahir ataupun batin. Rasanya ingin pulang lebih cepat dan menghilangkan rasa malu yang berlebih.

"Sekilas. Terima kasih. Saya pamit dulu," sahut Bintang memecah kesunyian. Beberapa anak melambaikan tangannya perlahan. Bintang keluar kelas. Selang beberapa menit, kelas langsung rusuh bagai tempat pembagian sembako. Ada yang senang, ada yang sedang menggibah Bintang.

"Apa sudah kulakukan..." keringat Eri bercucuran. Raganya merasa bersalah, tak berdaya. Pikirannya kacau membuat ia bingung.

🌟

Bersambung

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 21, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

UnPerfectStories to obsess over. Discover now