Malam terasa begitu dingin, hujan rintik masih menemani di pertengahan bulan Maret. Terlihat Tiana mulai gelisah, napasnya sedikit tersengal disertai keringat. Sudah enam bulan terakhir ini, batuk dan pileknya masih melekat. Suhu badannya tinggi hingga 39 derajat Celsius, tapi dia menggigil kedinginan.
"Bu, Tania enggak bisa napas," ujar Tania sambil menggoyangkan bahu Shanti, ibunya.
Shanti terbangun setelah merasakan tangan mungil anaknya yang berusia lima tahun.
"Iya, Sayang," jawab Shanti, lalu meraba dahi Tania, "ya, Allah, badanmu panas, Nak."
Tiba-tiba, badannya mengejang, pupil mata mendelik ke atas. Seluruh matanya putih. Shanti menjerit, "Taniaa, astagfirullah. Yah! Ayah, bangun! Ini Tania, Yaah!"
Arie, ayah Tania adalah karyawan swasta itu, bangun. Dalam kondisi setengah sadar, mengusap mata Tania yang mendelik ke atas, lalu meraba dahi Tania.
"Astagfirullah, kita bawa ke IGD, Bu," ajak Arie.
Shanti mengangguk sambil tergugu, membalut tubuh Tania dengan selimut katun, dan memastikan mata anaknya tidak mendelik lagi. Lalu, menggendong serta membawa keluar kamar menuju teras rumah. Sementara Arie, menyiapkan dua helm, tergopoh-gopoh mengeluarkan motor dari ruang tamu ke luar rumah. Arie memakaikan jas hujan pada Shanti sekaligus membungkus Tania.
Dia menstater motor. Setelah mengunci pintu, Shanti keluar dan menutup pagar. Berangkatlah mereka di tengah rintik hujan.
Tania, bangun, Yang. Bertahan, ibu yakin kamu kuat, batin Shanti sambil mencucurkan air mata, Ya, Allah, selamat anak hamba.
Sampai di IGD Rumah Sakit Nurul Huda, Shanti setengah berlari ke loket pendaftaran sambil sesekali memantau Tania. Setelah rangkaian administrasi beres, Tania segera ditangani dokter jaga. Shanti menyampaikan kondisi buah hatinya kepada dokter, termasuk sudah enam bulan terjangkit batuk dan pilek disertai demam.
"Dok, berat badannya menurun terus karena suka kena diare selama minimal lima hari dalam sebulan. Suka ngeluh mulutnya sakit, dilihat kaya sariawan. Tolong anak saya, Dok. Jangan sampai ...," isak Shanti.
"Ibu tenang dulu, biarkan kami memeriksa anaknya, yaa," bujuk dokter.
Shanti mengangguk, mundur beberapa langkah dari tempat tidur. Dilihat suaminya baru datang setelah parkir motor. Tidak tahan melihat sakit yang diderita anaknya, dia merangkul Arie, menangis tergugu.
"Sabar, Bu. Kita berdoa terus sama Allah," bujuk Arie, memberi ketenangan kepada istrinya.
Dua puluh menit berlalu, Tania masih terpejam. Dua perawat menyiapkan alat-alat untuk infus, dokter menghampiri mereka yang sedang dilanda keresahan.
"Maaf, Pak, Bu. Berdasarkan kondisi anak Bapak serta keterangan yang telah disampaikan Ibu, Tania harus dirawat untuk pemeriksaan lebih lanjut," kata dokter itu menerangkan, "silakan Bapak cari ruangannya dulu di tempat registrasi, ya."
Arie segera ke tempat registrasi untuk mencari kamar yang biasanya sulit untuk mendapatkan ruangan. Alhamdulillah, dapat ruangan, batinnya. Adminstrasi dan cek ruangan telah selesai, dia kembali ke ruang IGD. Tinggal menunggu perawat menjemput Tania untuk masuk ruangan.
Ada dua selang infus yang menancap di tubuhnya, masker oksigen menutupi hidung agar napasnya lebih lancar. Wajah mungil Tania menguning saking demamnya tinggi. Isak tangis Shanti masih mengisi ruangan IGD yang sepi. Perawat masih sibuk hilir mudik memeriksa pasien yang baru datang, menjemput, dan mengantar pasien ke ruang rawat inap. Ruangan IGD dengan beberapa bed yang rapih, bersih, dan teratur sehingga terkesan tidak horror.
Pukul setengah empat subuh, perawat ruangan menjemput Tania untuk masuk kamar 330, kelas 2, lantai 3. Suster membawa Tania dengan bed karena masih dalam keadaan tidak sadar dan selang-selang yang menempel pada tubuhnya. Arie dan Shanti berjalan mengikuti buah hati mereka menuju kamar 330.
Di ruangan kelas 2 dengan enam bed yang saling berhadapan tiga bed tiga bed, hanya diberi satu kursi untuk penunggu. Arie menatap Tania dengan penuh sesal dan berdosa. Kekhawatiran Arie selalu datang saat buah hatinya sakit. Bayangan hitam masa lalu hadir menghantui harapan masa depan anak semata wayangnya.
Keseharian Shanti menjual masakan pun tidak sampai meluputkan perhatian terhadap Tania. Enam bulan terakhir, baik demam, batuk, pilek, bahkan demam selalu berputar dalam tubuhnya. Berat badan menurun, terlihat lebih kering dari sebelumnya. Gejala-gejala ini yang membuat kekhawatiran Shanti memuncak, hingga isak tangis kembali memecah dini hari.
"Yah, aku takut," bisik Shanti, "anak kita kena getahnya."
Wajah Arie memucat, tatapannya sejenak kosong. Pikirannya melayang ke masa lalu. Seolah masuk ke dalam lorong waktu masa lalu.
***
Hampir delapan tahun yang lalu, saat badan masih tegap, sehat. Arie, ayah Tania muda, menggunakan narkoba jenis suntik bersama teman-teman dekatnya. Bergaul dengan barang haram itu dia lakukan selama lima tahun sampai menikah.
Setahun setelah menikah, ada kekhawatiran yang merasuk dalam diri Arie. Setelah melihat Bobby, sahabatnya, meninggal akibat penyakit HIV/AIDS yang diderita tanpa tahu bahwa diri Bobby sudah terinfeksi.
Gemetar jiwa Arie muda, ketakutan terinfeksi HIV semakin tinggi. Tanpa sepengetahuan istrinya, dia memaksakan diri pergi ke dokter untuk melakukan tes HIV karena jarum suntik yang dia gunakan, juga dipakai oleh Bobby.
Rasa sedih, takut, dan kecewa yang mendalam pada diri Arie, ternyata hasil tes HIV-nya dinyatakan positif terjangkit HIV. Dunia gelap seakan tak harapan hidup lima menit kemudian. Dia tidak berani menceritakan hal ini kepada istrinya. Dan, yang terjadi adalah sering timbul rasa marah kepada istrinya tanpa sebab.
Terbayang dalam benak Arie, bagaimana nasib anak dan istrinya? Istriku pasti sudah terinfeksi, batinnya resah. Tidak mungkin dia memberitahukan keadaan dirinya saat ini untuk menjaga kestabilan jiwa istrinya yang sedang hamil.
Dia bertahan tidak berobat, khawatir ketahuan istrinya.
Setelah lahir dan usia anaknya menginjak dua tahun, terjadi perubahan diri Arie. Semakin sering mengalami batuk, pilek, mudah lelah, berkeringat saat malam hari, berat badan menurun dengan drastis. Hal ini membuat istrinya khawatir.
Akhirnya, Arie bercerita dari awal terjerumusnya pergaulan narkoba hingga sahabatnya meninggal akibat HIV. Dia menarik napas dan menyatakan dirinya terinfeksi HIV, lalu meminta istrinya untuk mengikuti tes HIV juga. Santhi menjerit, marah, kecewa karena merasa telah dibohongi selama ini. Sambil terisak dalam sesal yang mendalam, Arie meminta maaf kepada istrinya.
Akhirnya, Shanti mau mengikuti tes HIV untuk mengetahui lebih awal agar segera diobati. Dan, hasilnya, positif terkena infeksi HIV. Pupus sudah semua harapan, berdua menangis dalam dekapan putus asa. Namun, mereka tersadar setelah mendengar Tania mereka menangis.
Demi Tania, mereka melakukan pengobatan terapi ARV di Klinik Teratai, RS Nurul Huda. Informasi jelas telah mereka dapatkan dari tenaga ahli, membuat Arie dan Santhi mantap mengonsumsi obat gratis yang telah rumah sakit sediakan hingga sekarang, saat Tania berusia lima tahun.
***
"Yah, salat Subuh duluan. Gantian sama Ibu," sahut Shanti sambil mengusap dahi Tania yang berkeringat. Sapaannya menyadarkan Arie yang sedang melamun.
"Iya, Bu." Arie pergi keluar menuju musala yang ada di rumah sakit.
YOU ARE READING
Tania
General FictionTania, gadis penyintas ODHA menahan diri untuk tidak jatuh cinta dan menjaga kestabilan hati terhadap cemoohan lingkungan agar metabolisme tubuhnya tetap terjaga. Setelah bertemu dengan seseorang yang memberikan perhatian padanya, hatinya mulai goy...
