Mungkin benar, yang tersisa dari kita hanya kenangan kelam.
Mungkin benar, kita pernah bahagia sebelum akhirnya meniadi titik yang tak berarti sudah.
Mungkin benar, diantara kita tak pernah benar-benar saling memahami.
Mungkin benar, sudah saatnya aku pergi.
Ada sebagian dari mereka ku yang merelakan hatinya untuk bersikap tetap baik-baik saja. Sebagian lagi hanya menangis di sudut ruang pedih dan jatuh pada sebatas harap dalam dunia imaji, mereka tak salah, atau hanya aku saja yang tak ingin menyalahkan?
Bukankah di awal kisah mereka hanyalah orang asing yang kebetulan saja bertemu hingga terciptalah rangkaian cerita konyol itu?, "tidak!", kata mereka itu sebuah takdir.
"Jika memang tersakiti kenapa tidak pergi saja?"
"Kau pikir semudah itu!?"
"Mudah saja jika kau mau percaya pada dirimu sendiri"
".................." -hening.
Lagi, hanya hening yang ku dapat dan mereka seolah terpaku saat ku tanya. Bisakah sekali saja jawab tanyaku?
Duniaku penuh misteri, sering berakhir skeptis. Dalam hutan kehidupan, anginnya kencang serta lebatnya daun menahan masuk cahaya mentari. Sepi.
Biarkan aku tersesat di hutan, asal bersamamu takkan ada ketakutan. Berlarian di bibir pantai, bermain air sungai serta pasir putih yang siap di bentuk.
Pria : "Sudah berapa lama kita bersama?"
Wanita : "Apa yang kau lakukan?! Segalanya jadi kacau"
Pria : "Aku tidak bermaksud begitu"
Wanita : "Bagaimana mungkin ia akan mengerti? Kau bahkan tak pernah memberinya penjelasan"
Pria :"Aku hanya punya plihan untuk tetap diam"
Ini aku yang serba salah, di pengadilan itu aku selalu jadi terdakwa, di hakimi tanpa saksi mata juga pengacara. Jaksa-jaksa itu menuntutku lebih lama lagi, terbaring di ranjang pesakitan dengan segenap rasa bersalah sepanjang masa.
Katanya aku menyakiti ini dan itu, padahal mereka sendiri yang menciptakan rasa sakitnya, aku hanya di jadikan kambing hitam dalam permasalahan mereka.
A : "Bantu aku lari."
B: "Tidak mungkin."
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
Kau tahu? Kau adalah alasanku mensyukuri hidup setelah luka kemarin, namun kau juga alasanku kehilangan kepercayaan hari ini.
Beritahu aku mengapa dunia begitu kejam? Aku tahu ini panggung sandiwara, tapi bisakah aku mendapatkan peran yang lebih baik?
Andai bisa aku ingin mengendalikan alur ini, benar aku tak memiliki banyak kuasa. Tapi itu mungkin jika aku mau bermain dengan cara kotor, tapi tidak, aku tidak ingin menodai hidupku.
Aku ingin kembali di usia tujuh tahun, belajar membaca serta menulis hal baik. Bukan mendengar perkataan sampah belakangan ini. Pada tiap-tiap kelas kehidupan ada kalanya aku ingin berhenti, tidak ingin naik lagi atau bahkan turun, aku suka keadaan biasa-biasa seperti ini. Aku dapat melihat sisi kehidupan lebih seimbang. Bukan ketimpang.
Menjalani kehidupan yang sempurna itu tidak mungkin, namun membuatnya mendekati kesempurnaan itu bisa saja terjadi.
Aku malah merusaknya dengan membuat pilihan yang salah, aku menjauhi hal baik karena suatu hal yang ku sukai menyukai hal buruk. Benar saja, itu menjadi boomerang untukku dia menyerangku seolah aku telah menjadi asing baginya. Beruntung aku masih punya waktu kembali bersama orang baik, yang mau menerima lebih hangat, baik kelebihan maupun kekurangan.
Aku tidak bisa menjadi jahat baginya, sebab sudah terlalu dalam ia menjangkau diriku. Ucapan bijak itu benar, "sakiti saja aku, asal jangan hatiku karena disitu ada kamu". Aku pernah memberinya kesempatan, lagi-lagi aku dipatahkan. Aku tahu beberapa huruf ciptaannya memiliki kaitan denganku, namun aku menepisnya karena itu hanya dugaanku semata, sebab aku ingin memulai hidup baru dengan menyebarkan pikiran baik.
Pernahkah kamu berpikir dalam POV sebagai "diriku" ?
Aku tahu kebenaran itu saat pertama kali mencoba meninggalkannya
Ya, ia tak pernah memintaku kembali lagi. Aku pergi lama sekali. Sebab ia hanya ingin kutemani sejenak, bukan membiarkanku tetap menetap.
"Saat bahagia tak kau dapat, kita tak perlu berdebat. Cukup genggam tanganku dengan erat dan peluk aku lekat-lekat"
-1 june 2019
