01.00 PM
Ruangan apartemen berukuran sekitar dua puluh lima persegi yang saat ini kutinggali tampak sepi. Aku menghembuskan napas. Tidak mudah untuk memilih tinggal sendiri dan jauh dari orangtua seperti ini. Beradaptasi dengan kehidupan kota butuh waktu sedikit lama untukku yang sudah terbiasa menikmati pemandangan pematang sawah setiap pagi melalui jendela kayu yang sudah tua dari kamarku.
Aku melepaskan sepatu sneakers putih kesukaanku dan menaruhnya di rak dekat pintu masuk. Kemudian berjalan gontai kearah sofa depan televisi dan menghempaskan tubuhku di atasnya.
Namaku Seya. Umurku 23 tahun. Saat ini aku bekerja sebagai pelayan di kedai kopi. Bekerja menjadi pelayan bukanlah suatu hal yang mudah. Aku butuh waktu lama untuk dapat melayani setiap pelanggan dengan baik. Belum lagi jika harus berhadapan dengan pelanggan yang sedikit-sedikit komplain. Tapi aku selalu senang. Dengan pengalamanku di kedai, kuharap besok aku dapat membangun kedai kopi milikku sendiri. Bekerja dengan orang-orang yang kupercayai. Membuat orang-orang tersenyum saat mencicipi kopi buatanku. Membayangkannya saja sudah membuatku senang.
Lamunanku terinterupsi oleh dering telepon yang bersumber dari arah kiri di sofaku. Aku segera membuka tas kecil berwarna cream yang selalu kubawa untuk bekerja tiap harinya. Nama 'Ibu✿' tertera jelas di layar telepon. Buru-buru aku segera mengangkatnya.
"Iya, Bu?"
"Ah, Seya! Bagaimana keadaanmu?"
"Baik tentu saja, Ibu sendiri bagaimana? Sehat?"
"Sehat. Kau sudah makan siang?"
"Ah, iya. Setelah ini aku akan memasak makan siang."
"Jangan terlalu sering menunda makan. Jaga kesehatan. Jangan lupa untuk mengganti bajumu setelah pergi dari luar. Kau tidak tahu ada berapa banyak kotoran dan debu jalan yang menempel pada bajumu. Lalu-"
"Iya, Ibu. Tentu saja aku akan melakukannya. Umurku sudah 23 tahun. Aku mengerti. Ibu juga cobalah untuk merawat Ibu sendiri. Maaf juga sepertinya untuk bulan ini aku tidak bisa pulang ke rumah. Bosku tidak menerima permintaan cutiku."
"Bos yang mana? Duy.. Duyung?"
Aku tertawa pelan, "Doyoung, Ibu."
"Ah iya. Doyoung. Omong-omong bukankah dia tidak jauh terlalu tua denganmu?"
"Iya."
"Dia tipe menantu Ibu sekali."
Aku menghembuskan napas, sudah mengerti arah topik pembicaraan Ibu. "Lantas?"
"Cobalah untuk mendekatinya, kemudian kalian bisa-"
"Ibu. Aku akan mencari pilihanku sendiri. Nanti."
"Iya Ibu tau. Tapi jangan terlalu lama, Seya."
"Iyaaaaa~ urusan itu gampang. Bukankah Seya anak Ibu yang paling cantik sedunia?"
Terdengar suara tawa Ibu dari ujung telepon, "Sekomplek nak. Sejak kapan Ibu pernah bilang sedunia?"
"Haha, baiklah baiklah. Kalau begitu Seya tutup dulu, Bu. Seya sudah lapar."
"Selamat makan. Jangan lupa jaga kesehatan, ya. Pastikan untuk tidak tidur terlalu malam. Ibu tahu kau masih suka bermain game hingga larut malam."
"Siap Ibu Komandan!"
Aku memutuskan sambungan telepon. Kemudian segera berganti baju dan mencuci tangan di kamar mandi. Saat ini sudah memasuki musim panas. Tidak heran jika sedari tadi aku merasa tidak nyaman karena suhunya yang dapat dibilang lebih tinggi dibanding kemarin.
YOU ARE READING
Lengkara
FanfictionSemesta tidak akan mengulang setiap potongan cerita sesuai yang kau inginkan. Tapi saat semesta berkata lain, kuharap aku dapat bertemu lagi denganmu. Disini. Dalam semestaku. - Lee Jeno Fanfiction 🌙 ©skyfoamm
