Pertemuan

49 4 2
                                        

"Seberapa jauh kamu sudah berlari? Lelahkah?"
"Katakan saja seperti itu."

****

Adalah Azalea seorang gadis biasa penuh pertimbangan. Sejak tadi hanya membolak-balik buku tanpa minat membaca, padahal dia tidak sedang bosan. Termodinamika, buffer, dan deret geometri membuat otaknya sempat menyerah untuk bekerja. Tapi keputusannya sudah bulat. Alhasil ia membuat talamusnya bekerja rodi semalaman. Dalam hatinya berharap, semoga malam ini menjadi lebih panjang. Suara gesekan ujung pensil dengan lembaran kertas terdengar begitu sporadik. Detak jam yang berada tepat disisi kiri tangannya menunjukkan pukul 11 malam. Matanya menyerah untuk terus memelototi soal-soal eksak yang begitu banyaknya. Sekejap semua menjadi berbayang, angka satu yang baru saja ditulisnya menjadi angka sebelas. Azalea menyerah, mengikuti kemauan tubuhnya. Dalam hitungan detik neurotransmiter berhenti bekerja. Menampilkan mimpi kosong yang gelap tak berujung.

****

" Karena materi sistem pernapasan sudah selesai, pada bab selanjutnya kita akan mempelajari tentang sistem ekskresi. Kita akan mempelajari 4 organ dalam sistem ini diantaranya adalah jantung, hati, paru-paru...."
Terdengar seperti ceramah yang membosankan, setidaknya itulah yang tengah dipikirkan oleh Azalea. Manik matanya menatap lurus ke papan tulis, tapi pikirannya entah kemana. Mungkin itulah yang sedang dirasakan oleh teman-teman sekelasnya. Bosan. Setelah melawan rasa bosan yang sudah mengakar satu jam lamanya, akhirnya alunan yang dirindukanpun tiba. Mencabut rasa bosan hingga akar-akarnya. Jika saja alunan itu bisa mencabut rasa hampa, pasti senyum akan bisa terlukis dengan indahnya pada raut wajah Azalea. Tapi itu hanya pengandaian semata, takkan mengubah kenyataan yang ada. Azalea bukan tipe pendiam, bukan juga tipe anak yang cuek dan dingin. Ia merupakan sosok yang ramah dan ceria, seperti normalnya anak remaja lain seumurannya. Tapi entah kenapa, semua keramahan, senyum dan keceriaan itu hampa. Ia merasa sedang memainkan sebuah sandiwara. Seolah semuanya memainkan peran dalam drama klise remaja yang dipaksakan. Rasanya ia ingin pergi, tapi kemana? Semua seakan menolak kehadirannya secara sembunyi-sembunyi. Begitu gelap dan menyakitkan.
"Jika aku bisa menciptakan mesin waktu, maka aku tak ingin berada pada garis waktu ini," gumamnya pada diri sendiri di kelas yang sama heningnya seperti malam kemarin.

****

Penampilannya jauh dari kata rapi padahal dia baru saja keluar dari kelas. Kantung matanya yang menghitam sejk pagi tak ada yang membicarakannya di kelas. Mungkin tak ada yang memperhatikan, siapa peduli. Lagipula Azalea sudah kebal dengan penghuni kelas yang kepekaannya begitu kurang. Melewati koridor yang panjang dan sepi. Akhirnya kakinya menyentuh lantai gerbang utama. Sempurna ia keluar dari sekolah yang nyaris seperti penjara baginya. Langkahnya pelan dan canggung. Ekspresinya tak peduli, seperti anak remaja lain.
"Hei, kamu masih ingat aku?"
Suara khas remaja perempuan membuatnya reflek menoleh. Azalea tersenyum, kaku. Sejatinya ia ingat gadis didepannya itu, ia tak membencinya. Hanya saja, kenapa harus bertemu disaat-saat dia sedang muram begini.
"Ranviera Camelia."
Melia tersenyum ramah.
"Ya, tepat sekali Azalea Kazehaya. Aku senang sekali bertemu denganmu."
"Aku juga."
Azalea tidak tau bagaimana ekspresinya sekarang. Melia gadis yang baik, cantik dan sopan. Ia tak ingin bersikap sebegitu buruknya dengannya. Ia sedikit canggung dan berpikir - kapan terakhir kali aku berkomunikasi seperti ini? Ia sedikit terkejut ketika sebuah teriakan melengking menggebrak telinganya.
"Camelia!"
Sang pemilik suara itu berhenti, nafasnya belum teratur.
"Hufff... Darimana saja sih, kamu?!" serunya setengah berteriak dengan raut wajah kesal. Yang ditanya tersenyum geli. Secara langsung, gadis yang baru saja berteriak menyadari kehadiranku yang hampir tak terlihat karena kefokusannya pada objek yang dia cari.
"Eh?! Kamu kenal dia?" tanyanya yang jika didengar baik-baik terdapat nada heran sekaligus mengejek.
"Bukan. Aku tidak mungkin berteman dengan patung batu sepertinya, Phita."
Tatapan mata ramah yang tadi pun lenyap seketika. Melia meninggalkan Azla dan luka yang baru saja dia torehkan di kedalaman hati Azla.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 01, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Darker Than BlackWhere stories live. Discover now