Hujan Dan Rindu

66 5 5
                                        

Oke gays, Salam literasi!
ini merupakan tulisan pertama saya dalam bentuk cerita pendek (Cerpen), yang baru saya upload di wattpad. Sebenarnya masih ada beberapa novel yang belum sempat saya publikasikan disini, berhubung belum selesai 😁

Iya, kita lanjut, semoga kalian terinspirasi dan memperoleh manfaat dari tulisan ini.

Jangan lupa krisannya dalam bentuk komentar, saran pendapat sangat berguna bagi saya untuk melengkapi kekurangan.

~Selamat membaca~

😊😊

Hujan Dan RinduBy : Ismail Mony

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hujan Dan Rindu
By : Ismail Mony

Pagi itu, langit tampak hitam. Safik dan Mila berlari menuju sebuah gubuk kecil yang terletak di areal perkebunan milik Pak Sofyan. Mereka lebih suka menyendiri. Mengasingkan diri jauh dari anak-anak seusia mereka. Bermain berdua sudah menjadi kebiasaan meskipun itu dilakukan di tempat sepi. Kemanapun mereka pergi harusnya berdua, ya, itu permintaan Mila, adik kesayangan Safik yang baru berumur tujuh tahun. Sedangkan Safik, dua tahun di atas usia Mila, kurang lebih sembilan tahun. Dua bocah dekil dengan baju lusuh itu memilih menghindar dari setiap ejekkan anak-anak yang lain. Terutama Mila, ia tak kuasa menahan tangis kesalnya bila harus berhadapan dengan anak-anak yang suka mengatai mereka bau dan kotor. Lebih lagi, jika ia melihat anak-anak perempuan bermain di halaman rumah mereka dengan boneka cantik atau naik sepeda berkeliling halaman. Betapa hatinya remuk, iri melihat kebahagiaan yang mereka dapatkan dari orang tua. Air mata dan rasa minder akan ia tumpahkan dalam pelukkan sang kakak, Safik. Kini, gubuk kebun Pak Sofyan, menjadi tempat perlindungan mereka tanpa sepengetahuan Beliau. Ketiadaan rumah sebagai tempat tinggal, dan orang-orang dekat memaksa mereka terlunta-lunta di jalanan. Hanya satu tempat untuk mereka bermain mengisi hari. Di bawah rumpun bambu dekat sungai di belakang kampung. Tanah pasir yang gembur menjadi permainan paforit mereka berdua. Kejar-kejaran di sekitar sungai sambil membawa gumpalan tanah pasir sebagai peluru. Lempar-melempar, berlari, bersembunyi di balik pepohonan. Akan terdengar gelak tawa bila salah satu di antara mereka menyerah. Kemudian membangun rumah-rumah impian mereka dari tanah pasir, setelah itu akan ada perebutan dahsyat untuk saling menghancurkan bangunan itu dengan tawa riang di akhir kekalahan. Kebahagiaan yang dapat merekka rasakan sendiri tanpa kawan ataupun seseorang yang berarti bagi mereka. Dan jika hari sudah petang, gubuk kebun Pak Sofyan menjadi tempat kembali ke peraduan.

Hujan pun berguyur turun dari langit yang pekat. Kedua bocah itu basah kuyup setelah melalui perjalanan cukup panjang menuju kebun Pak Sofyan. Keinginan untuk terasing begitu kuat hingga mampu melenyapkan rasa takut pada kesendirian dan kesepian.

“Kaka, Ade rasa dingin,” keluh Mila, saat mereka telah sampai di gubuk kebun. Kedua tangan mungil memeluk tubuhnya yang gemetar kedinginan. Dari wajah tampak kelesuan dan terlihat pucat. Safik panik dan bingung. Entah apa yang bisa diperbuat.

“Mila, Mila sabar e, nanati kaka biking api. Biar katong bisa ba asar supaya seng rasa dingin.”

Tak lama kemudian, api berkobar. Kehangatan merambat perlahan-lahan. Mila mendekat dan duduk di samping kakaknya.

Hujan Dan RinduCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang