Ares

12 0 0
                                        

"Aku hanya siap melihat senyummu, bahkan ketika aku rela memberi hidupku untuk sekadar membuat senyummu terus ada"

-Ares Ilianel-

***

Aku kembali memantulkan bola beberapa kali lalu memasukkannya kedalam ring dengan mulus. Hal mudah ketika aku melakukan shooting meskipun sudah lama tidak berlatih. Aku berjalan santai menuju bola yang menggelinding didekat tiang. Ketika aku berbalik, seseorang yang sedari tadi aku tunggu sedang berjalan dipinggir lapangan basket sambil tersenyum.

Baiklah, malaikatku satu itu selalu sempurna dalam keadaan apapun, bahkan ketika dia hanya mengenakan celana olahraga dan kaos biru lengan panjang bergambar pinguin.

Araish..

Gadis mungil yang selalu terlihat manis dimataku.

Aku menghampirinya, ikut duduk dibangku panjang yang berada dipinggir lapangan, memperhatikan dirinya yang sibuk mengaduk isi tas sebelum tangannya mengulurkan botol minuman dan handuk bersih, aku meraihnya setelah mengucapkan terimakasih.

"Maaf lama, aku tadi masih ngecek ruang kesenian"

Aku tersenyum, lalu mengusap lembut puncak kepalanya. Bisa kulihat titik-titik keringat disekitar pelipisnya, dia pasti berlari.

"Aku selalu siap nunggu kamu", dia terkikik dengan suara sumbangnya yang kedengaran lucu. Kedua tangannya terulur untuk meraih bola basket di tanganku, memutarnya beberapa kali membuat tangannya ikut berdebu. Aku masih terus memperhatikannya yang terlihat senang karena berhasil menangkap pantulan bola dengan posisi duduk.

"Maura ngajak aku ke pameran lukisan sabtu besok, kamu mau ikut?"

Aku berhenti meminum, "Dimana?"

"Alun-alun, Maura bilang mereka punya lukisan baru. Aku mau lihat..", Ara menatapku dengan harap. Hal utama yang selalu diinginkan adalah segala macam soal seni rupa, jadi akan aku turuti.

Ara terlalu mencintai seni rupa, ketika kami masih dibangku sekolah dia selalu menghabiskan waktu untuk melukis diberbagai tempat. Dia suka suasana alam, membuatnya lebih tenang dan nyaman. Jadi setiap akhir pekan, aku membawanya pergi kebukit untuk menemaninya melukis.

Aku membalasnya dengan gerakan, "You always get everything you want, Ra"

Dia tersenyum lebar karena ucapanku, tangannya melepaskan bola basket hingga membuat bola menggelinding ke dalam lapangan untuk menggantinya dengan pelukan pada tubuh tegap ku.

Aku bahkan sudah berjanji pada diriku sendiri akan selalu memberi apapun agar melihatnya terus bahagia. Itu yang selalu aku lakukan untuk melihatnya tertawa dan memelukku seperti ini.

Hanya untuk Araish..

🔮🔮🔮

Aku memarkirkan mobil memasuki pelataran rumah. Mematikan mesin lalu keluar yang diikuti Ara, tubuh mungilnya berlari pelan memasuki rumah lebih dulu, tas punggung berwarna biru lautnya bergoyang mengikuti langkah kakinya. Aku hanya bisa tersenyum dan menyusulnya masuk. Bisa kulihat Ara sedang memeluk tubuh mama di ruang tengah ketika aku masuk dan memilih untuk menghampiri keduanya.

Mama balas memeluk Ara, "Ara sudah makan?"

Aku langsung merebahkan tubuhku di sofa panjang yang menghadap dua perempuan kesayanganku yang masih saling berpelukan.

Ara mengangguk, diikutin tangannya kecilnya yang mulai bergerak, "Tadi Ares beliin Ara kue cubit", lalu tangannya meraih isi tas punggung mengeluarkan seplastik kue cubit untuk mama.

"Makasih, sayang.. "

Ara mengangguk semangat, matanya lalu melirikku.

"Kamu mandi sana! Bau!"

Tangan kanannya mencapit lubang hidung, memberi gerakan menahan nafas seakan mengejek. Aku pun balas mengejeknya, sambil ikut menutup hidung, "Kamu juga bau, tadi muter-muter sampai keringatan"

Ara menjulurkan lidah menanggapi ejekanku yang membuatku tertawa pelan.

"Ares mandi dulu, nanti bantu mama angkat guci ke gudang, Pak Mail lagi nggak ada dirumah,"

Mama bangkit, kedua tangannya bergerak yang ditujukan untuk Ara, "Tante panasin makanan dulu, titip buat bunda", lalu berlalu dibalik dinding ruang tengah sambil membawa bungkusan dari Ara.

Aku kembali menatap Ara, dia menunjukkan gerakan mengusir.

"Sana mandi.."

"Kamu mau ikut gak?"

"Kemana?"

"Kamar mandi.."

Mata polosnya menatapku bingung,

"Mau ngapain?"

"Mandi bareng, kalau kamu mau lebih juga gak papa"

Ara bersemu ditempat dan berakhir melemparku dengan bantalan sofa yang membuatku kembali tertawa sambil beranjak berdiri.

Aku menarik hidungnya pelan, "Aku mandi dulu", Ara kembali mengangguk sambil tersenyum.

Tangannya langsung meraih buku sketsa dan mulai menggambar, terlihat serius.

***

To be continue.

"Salam cinta dari penulis amatir yang dalam masa belajar"

-Don't Need Words-

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 02, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Don't Need WordsStories to obsess over. Discover now