1

13 3 4
                                        

Duduk di bangku SMA tidak semenarik seperti duduk di bangku SD yang tidak mengenal cinta, sifat polos dan lugu itu keluar jika kita dekat dengan orang yang kita sukai.

Saat ini aku duduk di kelas 3 SMA-IPS dengan jabatan paling berpengaruh di sekolah, Ketua Sekretaris OSIS dan Perwakilan sekolah untuk berkerja sama dengan Humas (Hubungan Masyarakat) antar sekolah.

Terkenal, famous tentu saja, tetapi aku hanya wanita biasa dengan wajah yang biasa saja dan tingkatan prestasi netral tetapi membanggakan nama sekolah di dalam Sosialisasi.

Itulah aku, Febry, benar aku anak paling berpengaruh tetapi tidak untuk diri ku sendiri aku malah sebaliknya hingga diri ku yang asli hilang entah kemana.

Disiang hari, lapangan sekolah dengan kondisi riuh dan ricuh memacu kedua pelajar siswi di tengah lapangan.

"FEB!!! LO APA²AN SI! NGEREBUT SANDY DARI GW??? MENTANG² PENAMPILAN LO BERUBAH YANG DULUNYA KEK CUPU RANGRANG SEKARANG SOK NGARTIS, DENGAN BEGITU LO BISA NGEREBUT COWOK GW!!!!"

Aku pun hanya terdiam disaat Diana anak IPA kelas 3 itu mendorong ku hingga aku melangkah kebelakang dan sampai menyeimbangkan posisi tubuh agar tidak jatuh.

"Coba Lo pikir, cowok Lo itu kegatelan, masih kaya bocah, pikirannya cetek, gak gw apa²in malah nuduh yg engga engga, Freak Lo Diana" aku pun membuka mulut untuk memancing sesuatu.

"Apa Lo bilang? Jadi salah cowok gw gitu? Punya otak gak si lu"

"Kalo gw punya otak, selera gw bukan cowok brengsek kek si Sandy, jelek,bikin onar bisanya ngelawan guru lagi, gak punya tata Krama padahal sekolah dan lo juga salah, cowok kaya Sandy Lo pertahanin, aduh mbaaaae mending ke warung Padang gih, BELI OTAK!"

Diana pun marah dan seketika menampar pipi kanan ku dengan emosi dia yang mengebu-ngebu.

Plakkkk

Keluar darah segar dari hidung aku

"Dasar jalang" Diana mendorong ku.
"Dasar wanita tidak tahu malu" Diana mendorong ku kebelakang.
"Dasar wan...." Perkataan Diana terhenti disaat tangannya ditahan oleh Pak Jupri a.k.a Guru BP.

"Bisa diam kan? Gak perlu pakai bacot, tinggal di omongin baik² apa tidak bisa?"

Aku hanya mengelus pipi ku dan membiarkan darah di hidungku tetap mengalir.

"Ikut bapak keruang BP SEKARANG!!!" Teriakan pak Jupri membuat satu sekolah jadi hening dan membuat seluruh pelajar balik ke kelasnya masing-masing dengan perasaan gelisah.

Aku dan Diana pun masuk ke ruang BP.

Pak Jupri melempar asal dokumen merah ke meja kerjanya 'BRAKKKK!!' Diana kaget melihat pak Jupri melempar asal dokumen yang selalu ia bawa kesana kemari untuk laporan sekolah tentang kondisi mental para Pelajar.

"Diana lagi Diana lagiii padahal kamu tuh anak IPA, anak teladan kenapa bisa masuk ke ruang ini lagi yang ke empat kalinya"

Aku mendengar itupun langsung tersenyum miring.

"Kamu Febry kenapa senyum-senyum? BANGGA???? Jadi yang selalu di puja-puja oleh ketua yayasan?"

Ekspresi aku langsung datar mendengar hal itu karena mendengar hal itu menurut aku sebuah Penghinaan dan di cap anak manja yang selalu di puja-puja tanpa henti oleh ketua yayasan.

"coba ceritakan" pak Jupri pun duduk santai sambil mengambil nafas panjang lalu di hembuskannya.

"DIA YANG DULUAN" Teriak kita berdua.

"Satu-satu dong"

Akhirnya Diana pun ambil cepat untuk cerita.

"Febry nih buat onar, mengusik hidup pribadi orang lain dan menganggu kebahagiaan orang lain"

Aku yang mendengar hal itu hanya diam membisu, menundukkan kepala hingga darah yang mengalir dari hidung ku tertetes.

"Febry udah merebut apa yang sudah jadi milik orang pak, yang sudah menjadi milik saya, ia rebut"

Aku mengcangkram Rok ku, aku merasakan De Javu saat ini.

Aku teringat sebuah kenangan menyedihkan, Fitnah besar yang membuat diri ku mengurung dari Sosial.
Aku merasakan detak jantung ku berpacu.

Ketidak Adilan memang selalu berada pada posisi orang-orang berhati baik.

"Memangnya apa yang telah di rebut?" Tanya pak Jupri.

Diana langsung diam membisu.

"Cowok pak" Jawab dari mulut aku tanpa berpikir.

Pak Jupri hanya menggeleng-geleng kepalanya.
Hati aku sudah mulai tidak enak karena Dugaan aku pasti benar yaitu pak Jupri Ceramah.

"kalian itu masih muda, banyakin Prestasi, Banggakan kedua orang tua kalian, Banyak hal positif yang bisa kalian lakukan, Jangan seperti anak kecil yang merebut balon, Cowok itu bisa di dapatkan jika kamu Punya Baddas Version Terbaik kalian, Masih sekolah rebutan cowok, Seharusnya kalian malu"

Aku dan Diana hanya diam Tertunduk.

"Baik Pak" Jawab ku dan Diana.

Sekarang bapak akan menghukum kalian tapi sesuai peraturan sekolah, siapa yang duluan bermain Fisik akan di hukum Berat dari sang Korban.

Aku pun tersenyum tipis.

"Febry!! Hukuman kamu adalah Menginput Data Absensi Seluruh kelas dan Diana Hukuman kamu adalah membersihkan Kamar mandi setiap sekolah kecuali Kamar mandi Pria"

Akhirnya aku bisa tertawa lebar di dalam hati aku.

Diana hanya tertunduk pandangannya menyesal telah menggamprat Febry.

Sedikit dari diri yg penuh berubah menjadi sosok yang licik demi keadilan jika Berhati baik tidak selalu mendapatkan rasa sakit.

                                 cCc

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 14, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

PluviophileStories to obsess over. Discover now