Ketika takdirmu bertemu dengan dua orang lelaki yang nyatanya amat berharga dalam hidupmu. Tapi, pada akhirnya kamu harus memilih salah satu dari dua lelaki dengan marga yang sama.
Ini bukan soal memilih maupun soal dua lelaki itu. Ini mengenai sia...
Aku semakin mempercepat langkahku. Meski begitu pandangan tetap terfokus pada ponselku yang tidak henti-hentinya menerima banyak pesan masuk. Sesekali aku melirik ke jam tanganku.
Pukul empat lewat tiga puluh menit waktu Seoul.
Aku menghembus nafasku dalam-dalam dan kembali melangkah dengan tempo yang lebih cepat.
Seharusnya ini shift Lucy. Perempuan itu sudah sepakat untuk berganti shift denganku secara permanen. Tapi nyatanya ia tidak masuk hari ini dan Yunhoon dengan mudahnya langsung menyuruhku untuk menggantikan posisi Lucy di hari liburku.
Oh Shit.
Aku kembali melirik ke jam tanganku. Pukul empat lewat empat puluh menit. Aku tersenyum samar, aku telat empat puluh menit dari perjanjian awal. Ya setidaknya aku sudah siap jiwa dan raga jika aku mendapat omelan dari senior sial itu.
Namun,
Seseorang menabrak pundakku dengan kuat. Membuat badanku hilang kendali lalu terjatuh begitu saja di trotoar. Dan entah darimana asalnya, kopi itu dengan mudahnya tumpah. Mengenai sweaterku. Tidak sampai di situ saja, ponselku ikut membentur lantai. Entah bagaimana kondisinya sekarang.
"Aw!"
Aku meringis. Berharap siapa saja peka dengan keadaanku. Lebih tepatnya, kepada si Pemilik Kopi Melayang itu.
"Ah mian!"
Aku mendongak. Tepat di hadapanku terdapat seorang lelaki tengah terduduk sama sepertiku. Firasatku mengatakan bahwa dialah yang menabrakku.
"Jeongmal mianhae!" Ujarnya dengan lirih. Meski setengah wajahnya tertutup dengan masker yang ia kenakan, tapi aku masih bisa melihat sorotan matanya yang terlihat memelas.
"Gwaenchanayo" balasku berusaha tersenyum.
"Mianhae, aku tidak sengaja" ujarnya lagi.
Aku mengangguk. "Ini hanya kecelakaan kecil, jangan khawatir"
Ia terdiam sebentar lalu menghampiriku. Mengeluarkan sebuah sapu tangan lalu menyerahkannya padaku. Aku paham maksudnya. Aku menerimanya lalu membersihkan pakaianku yang terkena tumpahan kopi.
"Mian" ucapnya lagi.
"Ya ampun, aku tidak apa-apa" balasku sambil tertawa kecil.
"Tapi kau terlihat buruk" ujarnya sambil menatap sweater yang aku kenakan.
Itu memang sangat menarik perhatian orang-orang. Sweaterku berwarna biru muda dan kopi itu berwarna cokelat. Sungguh perbedaan warna yang sangat signifikan.
Lelaki itu melepas maskernya. Membuatku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.
Dia sangat tampan. Percayalah. Hidungnya yang mancung, kulit putih bersih, dan bibirnya yang kecil menjadi suatu mahakarya Tuhan yang sangat sempurna. Aku yakin jika ia masuk ke dalam sebuah agensi, ia pasti akan debut menjadi seorang idol.
"Aku akan ganti rugi" sahutnya.
Aku menggeleng menolak.
Ia tersenyum sambil mengangguk. "Ini salahku, izinkan aku untuk memperbaikinya"
Aku terdiam mendengar ucapannya. Entah mengapa ucapannya terdengar sangat, dewasa?
Aku mengangguk setuju. "Geurae"
Ia ikut mengangguk lalu bangkit. Membantuku untuk bangkit lalu menarikku ke sebuah toko baju ternama.
Aku menatapnya heran dari belakang. Ia hanya akan menggantikan sebuah sweater, tapi mengapa harus ke toko baju seperti ini?
Ia melirik ke kanan dan ke kiri sebelum membuka pintu toko. Terlihat aneh, tapi aku menahan untuk tidak mengkomentari segala perbuatannya. Berusaha menjadi netizen yang bijak.
Toko itu sepi. Ia langsung menarikku melewati berbagai macam rak. Sampai kami tiba di rak bagian sweater. Ia memandangnya dengan scanning lalu menarik sebuah sweater berwarna biru muda. Persis seperti punyaku. Bedanya, terdapat gambar panda di tengahnya.
Ia membentangkannya di hadapanku. Lalu menyerahkannya padaku.
"Sekiranya itu pantas untukmu" katanya. "Tapi kau bisa mencoba di fitting room atau mungkin bisa mengganti modelnya. It's up to you"
Logat Korea terdengar sangat kental saat berbicara bahasa Inggris. Sangat lucu.
Aku mengangguk lalu meninggalkannya menuju fitting room. Dan ucapannya benar. Ukurannya sangat pas dan tidak ada masalah dengan modelnya. Selagi benda itu berwarna biru.
"Bagaimana? Apa cocok?" Lelaki itu menyambutku di depan pintu fitting room.
Aku mengangguk. "Sangat pas. Kamsahamida"
Dia mengangguk lalu mengambil sweater itu. Melangkah menuju kasir. Tapi entah mengapa, di luar terlihat ramai. Dominan perempuan. Mereka mengangkat ponsel mereka tinggi-tinggi. Aku bisa mendengar suara kamera.
Untuk apa?
"Lee Hyunjae!"
Nama itu yang terus aku dengar. Aku melirik lelaki di depanku. Wajahnya terlihat pias.
Apa namanya Lee Hyunjae? Tapi mengapa orang-orang banyak yang mengetahui mukanya? Apa dia adalah seorang...
Lamunanku buyar ketika ia menarikku untuk keluar. Awalnya ia seperti ragu saat hendak membuka pintu keluar. Aku juga sedikit takut. Rombongan orang-orang itu terlihat,
Menyeramkan.
Setelah diam beberapa detik, Hyunjae menarik pintu itu dengan tenaganya. Ia menunduk. Maskernya ia kenakan kembali.
"See? Dia benar Hyunjae The Boyz!"
"Apa apaan ini? Dia berkencan dengan perempuan lain?"
"Astaga, lelaki itu tidak punya malu"
"Apa yang dia lakukan? Mau mencari sensasi baru?"
"Dia benar-benar bodoh"
"Hyunjae mendua? Andwe itu sulit dipercaya. Tapi ini benar"
"Lihat, bahkan dia menggenggam tangan perempuan itu"
Hanya itu yang bisa aku dengar. Sebuah komentar dan ... kembecian? Entahlah aku tidak tahu mengapa. Apa idol ini sebelumya punya masalah mengenai dating. Sehingga ia disebut mendua.
Tapi, di sisi lain, aku merasa ikut bersalah.
Sesaat kemudian, Hyunjae mengajakku menjauh dari kerumunan.
...
Vomment pwease! >~<
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.