"Apa?! Loe ingin gabung sama genk kita! Duh! Sadar diri woi! Siapa loe? Fankui!" Ucap Amy, kepadaku.
Amy adalah teman masa kecilku. Namun, ketika masuk SD. Sekalipun aku dan Amy satu sekolah. Amy tidak pernah menganggapku sebagai teman. Bahkan, sampai saat ini. Ketika aku dan Amy masuk SMP yang sama.
Selama satu bulan semenjak aku masuk SMP. Meskipun, aku satu kelas dengan Amy. Aku tidak pernah mengobrol dengan Amy.
Namun, karena aku bertekad ingin bicara dengan Amy di kelas. Aku memutuskan menyapa dan meminta Amy memasukanku kedalam kelompoknya ketika jam isturahat. Akan tetapi, Amy malah menghinaku didepan semua teman-teman sekelas. Sehingga aku memilih istirahat diluar kelas.
Sudah satu bulan semenjak aku masuk SMP, aku tidak memiliki teman. Sama seperti ketika SD dulu, aku juga tidak memiliki teman.
"Apa kehidupan sekolahku akan berakhir seperti waktu SD dulu?" Ucapku dalam hati, sambil memandangi langit biru yang indah.
"Vania!" Ucap seorang gadis cantik bernama Silvia, kepadaku. Silvia adalah kenalanku di rumah dan meskipun semarga denganku, tapi keluargaku dan keluarga Silvia sama sekali tidak memiliki hubungan. Silvia adalah gadis tionghoa yang cantik dan sangat populer dilingkungan rumahku.
"Kenapa? Wajahmu selalu ditekuk terus." Ucap Silvia, sambil mengambil posisi duduk disebelahku.
"Apa kamu mau? Ambil lah... Ayo..." Ucap Silvia lagi, sambil menawarkan cemilan ayam tepung saus pedas dan minuman yang dia bawa.
"Apa kamu tidak masalah, kalau ngobrol denganku?" Tanyaku, kepada Silvia.
"Hei! Hei! Hei! Apa itu kata-kata perdanamu untuk teman satu sekolah?" Tanya balik Silvia, tanpa menjawab pertanyaanku.
"Aku ini fankui." Ucapku, kepada Silvia.
"Kalau begitu, aku juga fankui. Jadi tidak masalah! Hahaha..." Ucap Silvia, kepadaku sambil tertawa terbahak-bahak.
"Apa teman masa kecilmu, Amy masih saja menghindar dan menjauh darimu?" Tanya Silvia, kepadaku sambil menikmati cemilannya.
"Iya..." Jawabku, kepada Silvia.
"Kalau demikian, kamu jadi temanku saja. " Ucap Silvia, kepadaku.
"Jangan bercanda! Aku..." Ucapanku terhenti, karena Silvia menaruh jari telunjuknya dibibirku.
"Aku tidak ingin mendengar kata-kata yang bodoh." Ucap Silvia, kepadaku.
"Apa kamu serius?" Tanyaku, kepada Silvia.
"Aku serius... Aku akan bersumpah... Aku Huang Xiao Feng (nama tionghoa dari Silvia) mulai saat ini dan selamanya akan bersahabat layaknya keluarga dengan Vania Huang (nama tionghoaku). Bila aku melanggar sumpah, petir akan menyambar diriku. Ini adalah sumpahku." Ucap Silvia penuh kesungguhan, kepadaku.
"Aku... Vania Huang... Mulai saat ini dan selamanya akan bersahabat layaknya keluarga dengan Huang Xiao Feng. Bila aku melanggar sumpah, petir akan menyambar diriku. Ini adalah sumpahku." Ucapku penuh kesungguhan, kepada Silvia.
"Kita ini... Lagian, masih semarga..." Ucap Silvia singkat, kepadaku sambil pergi berlalu.
"Ingat ini! Vania Huang adalah sahabatku!" Seru Silvia ditengah-tengah lapangan, sambil berjalan kembali ke kelas. Banyak teman-teman satu sekolah, memperhatikan Silvia yang mendadak berseru ditengah-tengah lapangan.
