"Dik, jangan diambil." Uwa melarang Luna adiknya yang hendak mengambil es krim di lantai trotoar. "Nanti kakak belikan. Tunggu di sini ya."
"Ya kak."
Uwa berlari meninggalkan Luna. Dilihatnya uang di sakunya hanya tinggal seribu rupiah. Mana cukup batinnya, tapi ia teringat Bang Jamal penjual es krim keliling. Saat ini pasti ia berada di dekat penjual buah.
Bang Jamal orang baik. Ia selalu saja mau dibayar seribu untuk es krim corongnya. Setelah ia mendapatkannya, segera ia kembali pada adikkya.
"Loh Dik, es krimnya kamu ambil?"
"Iya kak."
"Kakak kan sudah bilang jangan diambil."
"Tapi Kak!"
"Kamu mulai tidak nurut perintah Kakak, padahal sengaja membelikan untukmu ini." Tampak kecewa di wajah Uwa. Sementara tangannya memegang perutnya yang berbunyi.
Uwa belum makan sejak tadi pagi. Uang seribu yang sejatinya untuk membeli nasi putih sedapatnya, ia belikan es krim untuk menyenangkan adiknya.
Bagi mereka anak jalanan, bisa makan saja sudah syukur. Es krim adalah barang mewah bagi Uwa dan Luna.
"Tadi es krimnya aku buang di tempat sampah, Kak. Kan kakak yang mengajarkan untuk mengerjakan kebaikan walau itu hanya memungut paku agar tidak mengenai orang." Luna menatap mata Uwa dengan penyesalan karena tidak patuh.
Uwa pun tersenyum, air matanya keluar dari sudut matanya. "Maafkan Kakak Lun," katanya sambil memeluk adiknya.
"Oh ya kak, tadi ada yang memberi uang setelah aku membuang es krim itu." Dikeluarkannya selembar kertas berwarna biru.
Uwa menangis teringat yang disampaikan Bang Jamal. "Walau kau melakukan kesalahan, segeralah melakukan kebaikan. Mudah-mudahan dengan begitu Allah akan memaafkan atau menggantikannya dengan kebaikkan."
Hari ini Uwa membuktikannya.
Jkt, 20 Des 18
https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=2174592432602636
VOCÊ ESTÁ LENDO
ANAK-ANAK PENGGENGGAM SURGA
Ficção AdolescenteJangan rampas senyum mereka, karena di senyum mereka ... kau akan melihat surga. Airin Calandra
