Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Sebulan yang lalu, pernikahan mewah dilaksanakan di kediaman sang kakek yang merupakan pemimpin pondok pesantren yang terkenal di kota. Annisa Putri dan Abiyu Bintang Pratama memerankan raja dan ratu dalam sehari— iya sehari saja karena setelahnya keduanya kembali menjalani hari seperti biasanya.
Annisa memandangi hamparan sawah dan pegunungan dari dalam mobil yang Abi kendarai, keduanya sedang menuju ke kampung halaman Abi yang dari kota menempuh jarak sekitar tujuh jam.
Badan Nisa rasanya sudah hampir patah karena lelah tetapi ia tidak berani mengatakannya pada sang suami, Abi pasti lebih lelah darinya. Mereka hanya berhenti saat siang tadi ketika sudah memasuki waktu dzhuhur dan makan siang di restoran.
Azan ashar terdengar dari beberapa masjid yang mereka lewati, "Shalatnya dirumah saja ya, sudah hampir sampai." Ucapan Abi membuat Nisa yang awalnya sedang melawan kantuk menjadi lebih semangat, ia hanya mengangguk dengan senyum manisnya.
Benar saja, tidak lama mereka memasuki sebuah halaman rumah yang tidak terlalu besar namun cukup untuk mobil masuk kesana. Ibunda dari Abi sudah menanti kedatangan mereka, dari dalam rumah Ibu keluar dengan senyum indahnya yang menghasilkan kerutan.
Annisa turun dari mobil di ikuti oleh Abi yang langsung menyalami Ibundanya dan Annisa mengikuti Abi— namun kali ini ia di peluk dengan erat oleh ibu mertuanya itu. Tangis haru pun menghiasi pertemuan Nisa dengan ibu mertuanya.
"Ayo-ayo, masuk dulu kalian pasti capek.."
"Abi ambil koper dan tas dulu ya bu, Ibu dan Nisa duluan aja ke dalem."
Ibu dan Nisa menuruti ucapan Abi, keduanya masuk ke rumah yang tidak pernah Annisa bayangkan. Gaya rumah lama yang sangat terawat dengan dinding kayu dan lantai marmer berwarna putih. Di teras terdapat dua kursi kayu yang sudah berumur, terdapat banyak sekali hiasan bunga yang Annisa tidak tahu itu jenis bunga apa.
Ruang tamu rumah ini disuguhi kursi kayu yang mirip dengan di teras tadi— namun nampak lebih terawat walau sudah tua.
"Ini Kamar Nisa dan Abi." Tunjuk ibu pada satu kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu itu. Abi masuk dengan koper dan tas di tangannya— ke kamar yang ibu tunjuk.
Annisa mengangguk kemudian ibu menyuruhnya untuk beristirahat di dalam sana.
Suasana kamar yang akan ia tempati terasa nyaman walau yah— tidak senyaman rumah papa dan mama di kota. Namun Annisa berusaha menerimanya, kini ia sudah menjadi istri dari Abi.
"Mas, kalau sholat disini bisa kan?"
Abi yang hendak keluar karena masih ada koper yang belum ia bawa hanya mengangguk, kemudian ia keluar meninggalkan Annisa yang kini tengah duduk di tepi kasur.
Kasurnya tidak empuk seperti di kamarnya dulu membuat Annisa berpikir apa nanti ia bisa tidur disana atau tidak, namun ia mengangguk yakin, "Pasti bisa, kalau udah biasa nanti bukan masalah.." gumamnya.