"Sampai ketemu besok"
Aku lirik layar hape sebentar, lalu mendesah pelan. Sudah seminggu ini, dia selalu mengirimkan chat yang menurutku sedikit mengganggu. Tapi nggak tahu kenapa, ujung-ujungnya juga selalu aku bales.
"Okee"
"Besok di kelas mana?"
"Kelas E, kamu sendiri? "
"Aku di kelas F"
"Oh gitu, oke deh"
"Oke"
Dan nggak pernah ada lagi percakapan penting selanjutnya selain hal basa-basi semacam itu.
Dia melakukan hal ini sejak seminggu yang lalu, tepatnya setelah acara Departmentku selesai. Acara wajib tiap semester yang dihadiri oleh seluruh mahasiswa prodiku. Aku sendiri nggak pernah sekalipun berfikiran bahwa hal tersebut bakal menimbulkan banyak kejadian yang berkelanjutan seperti sekarang ini antara aku sama dia, karena emang cuma hal sepele yang sebenarnya semua orang juga bisa lakukan.
"Jam berapa mulai kelas?"
Dia mengirim pesan lagi. Sekarang pukul 23.05 dan rasanya pura-pura udah tidur itu lebih baik daripada membalas chat nya. Aku nggak mau terlalu jauh menanggapinya, karena sepertinya aku tahu bagaimana akhirnya.
🌱🌱🌱
"Luna! Kok belom nyampe? Ada kelas loh pagi ini"
"Iya ini didepan lift kok. Dosen belom dateng kan?"
"Belom si, bentar lagi kayaknya. Buruan ya"
"Yuhuu"
Itu Dila, teman deketku dari awal semester 1 aku kuliah di universitas ini. Aku emang dulu selalu minta tolong buat nelpon sebelum kelas kalau aku belum sampai, dan malah keterusan.
Buru-buru aku masuk lift yang di jam-jam segini selalu penuh, nggak akan pernah berhenti beroperasi. Udah kayak kafetaria sama parkiran aja.
Namaku Laluna Lita, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Aku semester 4 dan aku anggap aku udah cukup tua. Seenggaknya aku bukan maba lagi, soalnya memperkenalkan diri sebagai mahasiswa semester 4 ternyata lebih menyenangkan daripada menyebut mahasiswa semester awal.
Aku nggak pernah berhubungan dengan cowok, atau mungkin pernah tapi dalam konteks pertemanan aja. Sedikit banyak aku baperan sih, jadi kadang sebisa mungkin aku jaga jarak sama cowok. Tapi tergantung. Kalau cowoknya itu temen kelasku, itu pengecualian.
Aku nggak tahu ini cuma dialami aku aja atau kalian-kalian juga ngalamin hal yang sama, tapi sesuai pepatah yang bilang 'rumput tetangga lebih subur', cowok-cowok kelas lain juga lebih enak dipandang daripada cowok kelas sendiri. Mungkin itu cuman kejadian sama aku aja kali ya.
Tapi walaupun baperan, aku jarang yang namanya grogi disamping cowok. Aku ngobrol kayak biasa, tabok-tabokan sama temen cowok di kelas kayak biasa, aku juga kadang teriak-teriak nyuruh mereka buat ambil kunci kelas atau ambil buku di office, natural seperi biasa nggak dibuat-buat. Aku belom pernah naksir anak fakultas sendiri, jadi aku nggak tahu rasanya grogi di depan gebetan dan jatuhnya malah menganggap mereka kayak temen biasa aja.
Waktu aku sampai di lantai kelas yang aku tuju, aku berjalan dengan sedikit cepat karena takut dosennya sudah sampai di kelas. Tapi ternyata aku mampir dulu ke depan kelas, karena ada seseorang yang memanggil namaku.
"Hai Lun, mau masuk kelas ya? "
"Eh kamu, iya nih"
Itu dia. Cowok yang beberapa hari terakhir selalu mengirimiku chat.
ESTÁS LEYENDO
Tentography
Ficción GeneralTen menyukai fotografi. Tapi Ten lebih menyukai jika aku objeknya
