Pada senin malam yang penuh kesunyian di tengah kegelapan dan diselimuti oleh kabut hitam, lahirlah seorang gadis kecil di sebuah desa yang tidak jauh dari hiruk pikuk pusat kota. Bayi itu menangis sangat keras tanpa mengetahui apa yang ada di benaknya, namun terlihat senyuman yang tulus dari seorang ibu dan ayah yang telah menunggu lama kehadirannya.
Senyuman yang ada di wajah ibunya kian memudar dan begitulah jalan sang ibu bertemu ajalnya. Ada kelahiran dan ada pula kematian, sepertinya sang bayi pun sudah merasakan kepergian wanita yang telah melahirkannya karena isak tangisnya semakin kencang, begitu pula senyuman sang ayah menghilang dengan cepat melihat seorang wanita yang telah ia cintai selama hidupnya pergi.
Atas keinginan mendiang istrinya yang telah menyiapkan sebuah nama indah untuk bayi itu sejak masih di kandungan, Nasha Razita memiliki arti bunga yang harum telah menjadi pilihan final dari ibu untuk anaknya. Ibunya sangat paham bahwa nama adalah sebuah do'a dan ia pun menginginkan agar anaknya memiliki nama yang indah sesuai dengan do'a yang terdapat di dalamnya.
Ayah Nasha hanya seorang pegawai pabrik kain yang selalu bekerja keras, setelah Nasha tumbuh menjadi gadis kecil pada umumnya dan sudah cukup umur untuk mendaftar di salah satu SD yang tidak jauh dari rumahnya dengan alasan agar mampu mengawasi Nasha. Nasha bersyukur karena masih memiliki seorang ayah yang mampu menjaganya. Ia tidak dapat membayangkan apa yang terjadi pada hidupnya apabila tinggal sebatang kara.
Ayahnya tidak memiliki kerabat dekat karena mereka tinggal di pulau yang berbeda, itu bukan masalah yang besar selama ia masih hidup bersama Nasha. Ayahnya tidak cukup memiliki uang maupun waktu untuk mendaftarkan Nasha ke TK terlebih dahulu, selama 6 tahun ini Nasha dititipkan di rumah tetangga dan dijemput setelah pulang bekerja.
Ayahnya sendiri lah yang mengajari cara membaca, menulis dan berhitung setiap malam. Ia sadar bahwa dirinya tidak mampu memberikan lebih secara finansial karena berpikir agar uang hasil kerja kerasnya digunakan untuk sekolah Nasha yang lebih tinggi nanti. Menurutnya jenjang TK tidak terlalu wajib karena ia masih mampu mengajarkan Nasha walaupun hanya sekedar membaca, menulis ataupun berhitung.
Ayah Nasha banting tulang demi membesarkan anak satu-satunya dan hal itu terbukti karena Nasha pun hidup dengan sehat dan pintar. Namun kebahagiaan itu tidak selamanya dirasakan oleh Nasha maupun ayahnya karena kemalangan tiba-tiba datang menghampiri mereka.
Ayah Nasha meninggal dunia tepat setelah Nasha lulus SMA karena penyakit jantung yang telah dideritanya selama bertahun-tahun tanpa sepengetahuan Nasha. Nasha benar-benar tidak mengetahui bahkan menyadari bahwa ayahnya mengidap penyakit yang cukup berat, ia hanya sering melihat ayahnya batuk-batuk dan kelelahan. Ternyata rasa lelah yang dirasakan ayahnya begitu menyakitkan dan jauh lebih melelahkan dengan hanya sekedar mengangkat 10 buku sambil naik turun tangga sebanyak 100 kali seperti yang ada di sekolahnya dulu.
Kini ia hanya tinggal seorang diri di rumah peninggalan orang tuanya yang sangat sederhana di Yogyakarta. Di siang hari setelah ia berkabung dan mengantarkan jasad ayahnya ke tempat terakhirnya, lima lelaki berjas dan berkacamata hitam datang ke rumahnya. Mereka semua memiliki perawakan yang sangat menyeramkan karena empat diantaranya berwajah garang dan memiliki tato hampir di sekujur tubuhnya, sementara satu orang lagi ternyata adalah bos mereka dan mengaku sebagai teman ayah Nasha. Dia memperkenalkan dirinya yang bernama Bobby.
" Hai anak manis, kamu mungkin tidak akan mengenaliku karena ayahmu selalu melarang saya untuk datang ke rumah ini, apalagi jika anaknya sedang berada di rumah. Namun, berhubung ayah kamu sudah tidak ada ya jadi saya akan memperkenalkan diri saya sendiri tanpa ada larangan dari siapa pun. Perkenalkan saya Bobby, teman dekat ayahmu."
Lelaki bernama Bobby tersebut berbicara dengan nada tinggi dan suara yang menyeramkan itu pun mengulurkan tangannya kepada Nasha dengan senyuman di wajahnya yang terlihat sangat tidak tulus sebagai seseorang yang ingin berkenalan.
"Maksud dari kedatangan bapak-bapak ini apa ya? Selain itu pula kalau memang benar anda adalah teman dekat ayahku, seharusnya nama anda tidak asing di telinga saya. Namun, bukan hanya nama anda saja yang terdengar asing, melainkan setelah mendengar bercerita bahwa ayah saya tidak mengizinkan anda datang ke rumah ini, terutama saat saya sedang berada di rumah, itu sangat tidak pantas untuk menyimpulkan anda sebagai teman dekat ayahku."
Nasha menyadari bahwa lelaki bernama Bobby ini mungkin saja dapat membahayakan dirinya, ia tetap tidak percaya bahwa Bobby adalah teman dekat ayahnya.
" Tenang dulu gadis kecil, tidak perlu berapi - api seperti ini, selain itu apakah kamu tetap tidak akan mempersilakan kami untuk masuk ke dalam rumahmu ? Di luar sini sangat panas dan berdebu, tenggorokan saya pun sudah kehabisan air liur. Setidaknya berbicara pun membutuhkan tenaga bukan ?"
Akhirnya Nasha mempersilakan mereka masuk ke dalam rumahnya dengan penuh rasa takut dan curiga karena hanya ia seorang diri yang kini tinggal di rumah kecil itu. Lima gelas air putih ia letakkan di atas nampan dan diberikannya kepada para lelaki yang menyeramkan tersebut.
"Setelah kami menunggu cukup lama sekali di luar sana dan kamu hanya mampu memberikan gelas berisikan air putih ? Lucu sekali kau ini nak, bukan begitu caranya menjamu tamu yang datang ke rumahmu."
"Bukan begitu pula caranya bertamu ke rumah orang dengan tidak melepaskan sepatu kalian", balas Nasha sangat ketus.
Nasha adalah gadis yang kritis dan ia sangat tidak menyukai apabila bertemu dengan orang yang mudah sekali merendahkan, menghina maupun menghakimi seseorang. Ia juga cukup keras kepala, terutama jika ada orang yang baru ia kenal dan belum terhitung satu jam sudah berani berperilaku sembrono atau pun tidak sopan terhadapnya. Tidak peduli akan gender, usia, maupun tempat ia berada. Memang ada beberapa keuntungan baginya yang memiliki karakter seperti itu karena dengan begitu tidak ada orang yang mudah merendahkannya.
Namun, dibalik itu semua ada juga beberapa hal negatif yang menimpa dirinya sendiri akibat perilakunya tersebut. Seringkali teman-temannya sungkan untuk mendekat dan hal itu menyebabkan Nasha hanya memiliki sedikit teman di lingkungan sekolah maupun rumahnya. Obrolan antara Nasha dan Bobby yang mengaku sebagai teman dekat ayahnya pun terus berlanjut, Bobby dengan santai berbicara panjang lebar dan tidak tahu malu untuk diam berlama-lama mengobrol di rumah seseorang yang sedang berduka.
Rasa kehilangan yang dirasakan Nasha telah bertambah menjadi kekesalan yang bertubi-tubi atas sikap tertutup mendiang ayahnya tersebut, namun ia juga tidak dapat menyalahkan ayahnya karena bagaimanapun ayahnya adalah seseorang yang wajib Nasha hormati.
****
Hak pengarang dilindungi oleh Undang-undang. Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin penulis, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun, baik cetak, photoprint, microfile dan sebagainya. Apabila ditemukan pelanggaran dapat dikenakan sanksi tegas serta tindak pidana.
***Berhubung ini first debut, vote dan comment ya ! Agar author tetap semangat dalam menulisnya ;)
YOU ARE READING
AYAH, IZINKAN AKU MENCINTAIMU
RomanceAku mencintaimu lebih dari siapa pun dan apa pun di dunia ini, namun aku takut mencintaimu karena kamu adalah ayahku. Bukan, ternyata kamu sama sekali bukan ayahku. Kamu hanya lebih pantas aku panggil "Ayah" karena seharusnya memang begitu kedudukan...
