Cahaya Matahari pagi mulai menyelinap masuk ke kamar seorang gadis yang masih memejamkan mata. Gadis tersebut berbalut selimut putih bersih yang sudah tidak rapih lagi. Tidak lama, suara alarm dari jam bekernya berbunyi.
KRING... KRING... KRING...
Teriakan yang berasal dari jam beker tersebut cukup keras. Pemilik jam tersebut langsung terbangun dengan nyawa yang belum terkumpul. Ya, Stela baru saja bangun karena teriakan jam beker tersebut. Stela baru saja ingin mematikan alarm tersebut namun Stela malah kaget saat melihat angka yang ditunjukkan pada jam bekernya.
"SERIUSAN? INI UDAH JAM 7 KURANG 15 MENIT?! BISA TELAT GUE!" Suara kaget bercampur ketidakpercayaan dari Stella memenuhi ruangan kamar Stella.
Dengan langkah yang tak santai, Stella langsung menuju kamar mandi yang berada di kamarnya. Stella hanya mandi selama 5 menit karena Stella berpikir bahwa 'udah cantik kok, Auristela, ga usah ribet-ribet'
Selesai mandi, Stella langsung mengambil tas yang berada di kursi belajarnya. Stella sangat buru-buru pagi ini karena ini adalah hari pertama ia sekolah di Jakarta, tepatnya di SMA Adhitama.
"Ma, aku berangkat duluan," Stella memberitahu ibunya sebelum berangkat.
"Iya, dianter sama Pak Sardi, ya! Itu bekalmu di atas meja makan. Tadi Kak Al titip pesan, kalau kamu telat gapapa, Kak Al udah bilang," Ibu Stella, Rini memberitahu anak perempuannya tentang pesan yang disampaikan oleh anak laki-lakinya.
"Huh, untung, bisa lega dikit. Tapi, tetep aja harus diusahain sebaik mungkin biar nyampenya ga telat banget," Stella berucap kepada dirinya sendiri seraya mengambil bekalnya di meja makan.
-
Alhasil, disinilah Stela sekarang. Didepan seluruh murid kelas XI IPA 1 pukul 07.30 pagi. Stela mengambil nafas panjang lalu membuangnya, berharap rasa grogi juga ikut keluar dengan hembusan nafasnya.
"Ayo, Stela, perkenalkan diri kamu," ujar Bu Rina yang memang sedang ada jam pelajaran di kelas XI IPA 1.
"Halo, teman-teman. Nama saya Auristela Chalondra. Saya pindahan dari Bandung. Salam kenal," Stela memperkenalkan diri dengan singkat yang dijawab dengan bisikan murid-murid kelas tersebut.
"Eh gila, keluarga Chalondra, tuh,"
"Wah, auto gebet."
"Pengen dong jadi temen kamu. Pacar juga boleh."
Bisikan, bahkan rayuan untuk gadis bernama Auristela Chalondra memenuhi ruangan XI IPA 1. Stela berusaha untuk tidak terlalu mementingkan bisikan iri dari mereka.
"Baik, Stela. Kamu bisa duduk di samping Keenan di baris 2 bangku 2. Nama saya Bu Rina. Saya guru Matematika, sekaligus wali kelasmu," ujaran dari Bu Rina singkat namun jelas untuk Stela.
Stela langsung menuju bangku kosong di samping Keenan, anak yang disebut oleh Bu Rina. Setelah duduk di bangku samping Keenan, Stela berniat untuk berkenalan dengan lelaki yang tampan untuk kalangan remaja.
"Hai, namaku Stela. Kamu Keenan, kan? Salam kenal," Stela berujar seraya mengulurkan tangan.
"Udah tahu, kan? Gausah nanya," Keenan menjawab perkenalan Stela dengan dingin.
"O-oke, maaf, ga bermaksud ngeganggu," Stela lumayan grogi karena ternyata Keenan bersifat dingin.
"Hm," Keenan berdeham kecil.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Next? Vomment! Thank You.
-salam, reshnv.
YOU ARE READING
Complicated
Teen FictionAuristela Chalondra, gadis imut-manja-ceria yang tinggal di Bandung ini punya banyak alasan untuk memikat laki-laki. Setiap hari, Stela selalu membuat orang disekelilingnya tersenyum karena tingkahnya yang bisa dibilang polos. Ditambah, ia adalah an...
