Part 1

389 34 14
                                        

#Gembel_cantik_1

"Hhfftt.."
Aku merebahkan tubuhku diatas tumpukan kardus hasil dari memulung hari ini. 30.000 Nggak banyak sih, tapi cukuplah untuk makan malam ini hingga esok pagi dengan si kecil Fikri yang berusia 3 tahun.

Ya, aku seorang gembel merangkap pemulung yang biasa mangkal dibawah flyover pusat kota. Aku seorang orang tua tunggal untuk anakku Fikri. Jangan tanya siapa bapaknya, karena aku sendiri tidak tau. Kehidupan di jalanan sangatlah kejam. Pemerkosaan disertai perampokan kerap terjadi. Wajahku yang cantik akhirnya jdi boomerang. Tak jarang aku jadi korban pelampiasan nafsu bejat para perampok dan bapak pemilik rumah karena tak mampu membayar sewa rumah petak yang hampir mirip dengan kandang kambing. Hingga akhirnya aku mengandung Fikri.

Ah seandainya dulu aku tidak terkena fitnah mungkin sekarang keadaannya berbeda. Mungkin sekarang aku tidur diatas kasur dan rumah sederhana yg ku impikan selama ini. Mungkin aku sudah buka toko kue yang kuimpikan. Tapi, Aku bisa apa ketika hukum sudah dibeli oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Aku bisa apa jika kejujuran yang kujunjung tinggi membuatku terhempas di dalam jeruji besi padahal bukan aku yg bersalah. Aku bisa apa ketika orang-orang dengan enaknya minta perlindungan ke sanak saudaranya sedangkan aku? keluarga saja seakan-akan tidak menganggapku ada.

Sedikit aku bercerita tentang kehidupanku, aku terlahir dari rahim seorang ibu yang menjajakan dirinya di club malam. Ayahku??? Entahlah, aku tidak tau. Ketika aku lahir, ibuku meninggal sehingga aku diasuh oleh keluarga ibuku. Diasuh??? Aku tidak ada bedanya dengan pembantu. Dosa ibuku berakibat fatal kepadaku. Aku disiksa dan dijadikan bulan bulanan oleh sepupuku. Kata-kata 'anak haram' selalu terngiang ditelingaku. Tapi dengan begitu aku tidak berkecil hati. Ketika usiaku 15 tahun, Diam-diam aku dipekerjakan oleh sahabatku Mira ditoko milik ayahnya. Gajinya lumayan bisa kutabung dan bersekolah. Keberuntungan memihak. Wajahku yang cantik dan otak ku yang sedikit pintar mampu membuatku bersekolah hingga jenjang menengah kejuruan. Aku ingin melanjutkan sekolahku, tapi sepupuku yang iri dengan prestasiku akhirnya memfitnahku hingga akhirnya aku mendekam di dalam jeruji besi.

"Fia, Fikri sudah tidur di rumahku. Kau bisa menggendongnya untuk kau bawa pulang ke rumahmu. Aku harus ke menjaga toko di depan gang, suamiku lagi keluar. Aku tidak bisa menggendongnya kesini. " kata Bu Syifa tetanggaku membuat mata yang hampir terpejam kembali terbuka. Ya, anakku tidak mungkin ku bawa untuk memulung dibawah teriknya matahari. Jadi kutitipkan saja ditetangga sebelah rumah yang kebetulan memang orang sedikit berada. Nanti ketika sudah malam, aku akan mengambilnya.
"Iya bu, sebentar. " kataku lalu keluar menghampiri Bu Syifa.

Aku kemudian berjalan menuju rumah Bu Syifa untuk mengambil Fikri. Setelah itu kembali ke rumah dan merebahkan anak laki lakiku diatas tumpukan kasur bekas yang kudapat ditempat sampah.

Pandanganku kabur akibat air mata yang tiba-tiba keluar melihat tubuh anakku yang kurus. Aku menyayanginya walaupun aku tidak tau siapa bapaknya. Hatiku sakit melihat dia harus lahir dari rahim seorang pemulung sepertiku. Fikri anak yang pintar, tidak pernah rewel dan jarang sakit.

"Maafkan mamak nak.. " ujarku lirih.

"Mamak kenapa menangis?" ucapan Fikri membuatku cepat-cepat menghapus air mata yang sedari tadi mengalir di pipiku.
"Ah, Fikri sudah bangun?" ucapku mengalihkan pembicaraan. Fikri tersenyum.
"Fikri lapar mak... " Kata Fikri.
"Sebentar ya nak, mamak keluar dulu beli makanan untukmu." Fikri mengangguk.

Akupun melangkahkan kakiku menuju gang depan untuk membeli nasi beserta lauknya. Uang 15.000 cukup untukku berdua dengan fikri. Sisanya, aku tabung untuk sewa rumahku. Setelah menyantap makan malam, aku melihat fikri kembali tertidur diatas tempat tidur.

Tok tok tok tok
"Fia, aku boleh masuk?" itu suara Mira sahabatku. Ya, walaupun nasib kami berbeda tapi Mira tidak sungkan untuk berkunjung hanya untuk memastikan aku dan anakku baik baik saja. Aku beranjak ke pintu dan mempersilahkannya masuk.

"Fikri sudah tidur Fi?"
"Iya Mir, kamu ngapain malam-malam kesini? Tumben? "
"Kamu kayak tidak mengerti saja Fi. Biasalah, aku kabur dari rumah. Aku habis bertengkar dengan ayahku lagi. "
"Kenapa lagi? "
"Aku hanya ingin kamu tinggal di rumahku dan kembali bekerja di toko ayahku lagi Fia. Tapi ayah tidak mau mempekerjakan seorang mantan narapidana di tokonya. " ujar Mira berapi-api. Aku hanya tersenyum.
"Sudahlah Mir, mungkin ini sudah takdirku untuk menjadi gembel. " ucapku terdengar miris.
"Tapi Fia, kamukan tidak bersalah. Emang Ghani aja tuh yg sengaja fitnah kamu biar kamu nggak kerja lagi. "
"Terimakasih kamu udah mau berjuang untuk aku Mir. Tapi kalau akhirnya kamu jadi bermusuhan dengan ayahmu sendiri aku juga tidak mau. Ini sudah kesekian kalinya kamu bertengkar dengan ayahmu hanya gara-gara aku. Sekarang kamu pulang, dan minta maaf. Penghasilanku memulung dan duduk dipinggir jalan sudah cukup untuk membiayai kehidupanku sehari-hari. "
"Trus bagaimana dengan mimpimu untuk melanjutkan sekolahmu? Bagaimana mimpimu untuk buka toko kue yang kita impi impikan? " ujar Mira. Aku tertegun. Bagaimana ku bisa lupa tentang semua mimpiku itu.
"Aku tidak tau Mir. Sepertinya aku harus mengubur dalam-dalam semua mimpiku. "
"Plis Fia, sampe kapan kamu mau jadi gembel begini? Ingat Fia, kamu nggak mau kan Fikri jadi gembel seperti kamu? Kamu mau kan Fikri mendapatkan pendidikan yang layak? Kamu harus maju dan buktikan ke semua orang kalau kamu bisa. " ujar Mira emosi. Ucapan Mira sedikit membuatku tersentak. Fikri. Aku tidak mungkin membuat anakku bernasib sama sepertiku. Melihatku terdiam, akhirnya Mira beranjak ke samping tempat tidur Fikri.
"Malam ini, aku tidur disini. "

Aku menyusul Mira untuk berbaring diantara tumpukan kardus dan kembali terdiam. Dalam diamku, aku banyak berfikir tentang anakku. Hingga akhirnya aku terlelap.

🐬🐬🐬

Bagaimana?? Lanjut gk nih? Kok saya deg degan ya.. dengan segenap jiwa dan fikiran aku menciptakan tulisan pertamaku. Mohon kritik dan sarannya..

Gembel CantikCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang