"Kau tahu, Kak, kau menyedihkan..", Melati menatap pria di sisinya itu dengan tatapan aneh.
"Bukan urusanmu.."
Melati mendengus kesal, menyesap soda kalengnya dan meletakkannya di dasbor mobil.
"Astaga! Kak, sampai kapan kau akan terus seperti ini? Hingga kau beruban? Hingga dia berubah menjadi kakek-kakek?!"
"...Kakak, dengar, hingga dia berubah menjadi abu pun dia tetap tak akan menyadari keberadaanmu!!"
Aero mengangkat sebelah tangannya, menyuruh adiknya diam. Pandangannya tetap lurus ke depan, ke pintu keluar sebuah universitas ternama .
"Dia tersenyum..", bisik Aero dengan nada penuh kelegaan.
"Tentu saja dia tersenyum, dia berhasil menyandang predikat lulusan terbaik," tukas Melati gusar, "Dan itu semua karena siapa?"
"Aku tak mau membahasnya, Mel, aku.."
"Karena kau! Semua itu karena perjuanganmu, Kak!", Melati tak memperdulikan peringatan kakaknya dan terus berbicara, "Dan lihat apa yang kau lakukan saat ini, kau bahkan tak bisa memberinya selamat dan justru sibuk menatap dari jauh seperti ini. Benar-benar menyedihkan!"
Aero tak melepaskan pandangan dari sosok yang bagai magnet untuk matanya itu, hingga tubuh itu menghilang ke dalam bus yang ditumpanginya.
"Apa itu? Dia naik bus? Sepertinya aku harus mengusahakan sebuah kendaraan pribadi untuknya, agar dia tak perlu lelah dan terkena panas juga.."
Kalimat itu semakin membuat Melati gusar, karena kakaknya itu sama sekali tak memperhatikan kata-katanya.
"Kakak! Kau menyedihkan! Sampai kapan kau akan terus menghukum dirimu sendiri??!!"
Hening. Tak ada yang bersuara. Bahkan tidak pula Aero. Pria itu menggenggam roda kemudi dengan erat, tetap mengunci mulut dan beranggapan tak perlu ada yang dijawab dari kalimat adiknya. Dia lebih memilih sibuk dengan pikirannya sendiri. Ingatannya melayang ke masa sepuluh tahun silam, saat usianya baru 20 tahun, kaya, tampan, memiliki kuasa dan tak tahu tentang rasa tanggung jawab.
Sepuluh tahun lalu, saat itu ulang tahunnya dan Aero tengah memamerkan hadiah yang dia dapat dari ayahnya pada teman-temannya. Sebuah mobil sport terbaru yang diklaim hanya ada beberapa di dunia. Masih dia ingat tatapan kagum teman-temannya saat itu, juga tantangan yang mereka berikan untuk mencoba memacu tunggangan mewah itu ke atas bukit.
Malam itu mereka berpesta, menenggak berbagai macam minuman yang membuat mereka melayang. Kala itu, dia sama sekali tak pernah berpikir bagaimana berbahayanya mengemudi dalam keadaan mabuk. Dan kejadian kelam itupun terjadi. Mobil yang dia kendarai menabrak sebuah taxi yang melaju pelan dari arah berlawanan.
Pengemudi taxi itu, seorang pria tua, tewas di tempat kejadian, sedangkan Aero, terluka parah. Limpanya terbentur keras, hingga bengkak dan pendarahan akut, sebagian besar wajahnya nyaris hancur. Saat itu, dia lebih mengkhawatirkan dirinya sendiri daripada pengemudi taxi itu. Dia pikir, masih lebih beruntung si pengemudi yang tewas seketika tanpa harus menderita kesakitan seperti dirinya.
Semua permasalahan diselesaikan dengan cepat oleh ayahnya. Tak ada lagi yang membahas dan mempermasalahkan kenapa Aero mengemudi dalam keadaan mabuk. Semua berita tentang kejadian itu maupun tentang dirinya menghilang dalam semalam. Uang jaminan untuk keluarga si pengemudi taxi pun sudah disiapkan. Saat itu, Aero berpikir jika apapun bisa sangat mudah diselesaikan jika kau memiliki uang dan kekuasaan.
Enam bulan waktu yang dia perlukan untuk menjalani perawatan. Memulihkan fungsi limpanya dan menyembuhkan sebagian besar wajahnya yang terkoyak.
Aero masih ingat, kesadarannya tentang kesenangan sesaat bisa merenggut nyawa seseorang yang tak bersalah datang saat Ibunya memintanya menemui keluarga korban dan meminta maaf.
YOU ARE READING
Unforgiven Hero
FanfictionRemake story with my own version from "Unforgiven Hero by Santi Agatha" Mungkin akan sedikit berbeda dengan cerita aslinya ROVIN in da house yaw!! Buat yang anti pair ini, just klik back button ^^ Disclaimer : I own nothing!!!! BxB, Boyslove, Mpre...
