"Life is full of lies and grudges, if you dare to stand for what is right, you are a survivor."
***
Hari itu hanya hari kamis seperti biasanya. Matahari bersinar terang tapi tak terlalu menyengat mengingat fakta beberapa hari ini hujan mengguyur kota Seoul membuat aktifitas kurang kondusif dari biasanya. Gedung sekolah Seoul High School terdengar ramai karena jam menunjukkan pukul satu--waktunya makan siang.
Kantin yang sudah diisi dengan murid-murid yang rapih berbaris untuk mengambil makanan mereka sesekali sambil mengobrol atau menggosip seputar idola kesukaan mereka atau kejadian yang terjadi di sekolah. Kehidupan wajar murid pada setiap sekolah--kau akan berkumpul bersama kelompokmu dan mengobrol sembari makan bersama di kantin. Menyenangkan, setidaknya itu yang hampir setiap orang rasakan.
Sayangnya, hal itu tidak berlaku bagi gadis perempuan yang melangkahkan kakinya perlahan meninggalkan kelas yang sudah kosong penghuninya menuju perpustakaan. Setidaknya itu adalah salah satu tempat yang tidak akan dikunjungi saat jam makan siang.
Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jas sekolahnya sembari mendengarkan musik dengan kedua telinganya yang tersumbat earphone. Kedua kakinya mulai menaiki anak tangga untuk mencapai tempat itu dikarenakan perpustakaan yang berada di lantai tiga, sementara ruang kelasnya berada di lantai dua.
Matanya menatap lurus kedepan tidak menghiraukan beberapa murid yang jalan melewati di koridor atau sekedar mengobrol didepan kelas. Tujuannya hanya satu yaitu menemukan ketenangan. Tempat dimana ia tidak mendengar orang-orang yang berkumpul untuk membicarakan hal buruk tentang orang lain tanpa mengetahui apa penyebabnya lalu menebarkan kebencian agar orang lain percaya--memuakkan.
Begitu banyak kedengkian tersimpan di dunia ini. Ia tidak mendeklarasikan dirinya sebagai orang suci, bila memang ia berpikir begitu, sudah pastilah ia akan masuk sekolah untuk menjadi biarawati, bukannya sekolah biasa dan memfokuskan pada pendidikan sains. Hanya saja, ia tidak tertarik dan tidak minat untuk bergabung dalam kegiatan seperti itu. Hidup terlalu singkat untuk diisi hal tak berguna.
Pintu perpustakaan sudah terlihat dan dengan segera ia membuka kenop pintu ruangan itu. Sepi. Sudah bukan pemandangan yang mengherankan karena perpustakaan memang tidak banyak diminati--kecuali saat-saat mendekati ujian. Buku-buku yang berjejer rapih diatas rak yang orang pikir membosankan nyatanya menyimpan informasi yang tak terhingga untuk mengisi otak daripada diisi dengan kejahatan.
Ia berjalan dan seperti biasanya menyapa penjaga perpustakaan yang duduk di meja utama dekat pintu masuk. "Seperti biasa, Anna, kau selalu datang." Ms. Kim menyapa dengan senyum yang terukir diwajahnya yang sudah menunjukkan beberapa keriput itu.
Anna tersenyum tipis namun terlihat tulus, "Tentu saja, aku memang datang setiap hari, bukan?"
Ms. Kim tersenyum lagi karena melihat Anna yang terlihat seperti anak perempuannya. Mereka seumuran walau anak Ms. Kim tidak bersekolah disini, menurutnya, mereka sama-sama memiliki senyum yang tulus walau Anna jauh lebih pendiam dalam hal kepribadian. Ms. Kim menyayangkan Anna yang jarang tersenyum di depan orang-orang, padahal menurutnya senyumnya terlihat kalem dan tulus.
"Hampir saja lupa, buku yang saat itu kau pesan, mungkin akan sampai dua hari lagi."
"Benarkah?" Terlihat air muka gembira walau tidak kentara di wajah gadis itu. Ms. Kim pun mengangguk sebagai jawaban.
"Baguslah kalau begitu."
Kedua matanya mengedar sebentar ke sisi lain perpustakaan yang tenang sebelum berpamitan pada Ms. Kim.
YOU ARE READING
drapetomania
RomanceCerita tentang Anna, siswi pendiam di sekolah dengan Mark, salah satu siswa yang dikagumi para siswi, dari kelas sebelah Anna [Bahasa baku]
