Matahari terbit menyambut hari baru dan langkah baru bagi seorang remaja yang beranjak dewasa ini. Pagi memang sangatlah syahdu dimana hawa dingin perlahan menghangat bersamaan dengan mata hari yang masih malu untuk menampakkan. seorang ayah bergegas merapihkan kemejanya yang barusan di kenakan. Dan seorang ibu yang membantu sang ayah memakaikan dasinya kemudian Bersama-sama menikmati sarapan berupa roti tawar dengan meses ditambah secangkir teh hangat bersamanya.
" naaak.. sarapan..." sang ibu memanggil anaknya yang masih rempong sendiri di kamar dan belum bergegas untuk sarapan. "reeeet" suara resleting yang ditarik mantap dan "klik" gembok kecil telah terpasang merapatkan dua buah resleting di koper tersebut.
"kaaak, sarapan" kali ini suara yang lebih berat dan tegas memanggil.
"siap komandan" canda anak tersebut.
"sudah selesai beres-beresnya?"
"sudah Ayah, aman pokoknya?"
"baju, berkas-berkas penting, semuanya aman?"
"aman terkendali" jawab anak itu mantap. Sang ayah pun tersenyum diikuti senyuman dari sang ibu sembari mengoleskan margarin di roti tawar untuk ditaburi ceres.
"ayah insya Allah akan pulang cepat, jam 12 insya Allah sudah ada di rumah kamu harus sampai di bandara jam berapa?"
"jam 6 Sore yah," kakak jam 10 malam sudah take off.
"yasudah, kamu persiapkan lagi cek lagi barang-barang kamu jangan sampai ada yang tertinggal. Mah, ayah berangkat dulu"
"iya yah hati-hati"
"Assalammu'alaikum"
"wa'alaikummussalam" jawab ibu dan anak itu berbarengan.
......
"ping" sebuah pesan masuk ke ponsel pintar anak itu, beberapa pesan lainnya masuk bersamaan di dalam grup yang sama.
"jd berangkat hari ini, fli"?
"Insya Allah, jak"
"Waaaahhh... mabruk-mabruk ^_^"
"Rafli ga ngomong-ngomong lw klo mau jalan.... Parah nih, jgn lp yah minta tulisan wkwkwkwkw"
Rafli tersenyum kecil, kemudian membelas pesan di grup tersebut "minta doanya, oke" serentak beberapa pesan masuk bertuliskan kata yang sama "amin".
Hari ini memang Rafli akan segera meninggalkan bumi pertiwi, melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, apalagi ditambah menjadi awardee beasiswa menjadi kesyukuran sendiri tentunya, berapa kali dia mengucap hamdalah berserta istighfar. Ia sadar bahwa apa yang dicapai tidak menjadi mungkin tanpa pertolongan dari yang maha kuasa, maka kewajiban bagi seorang hamba untuk bersyukur dan istighfar untuk memohon ampun kepada yang maha pengampun jika terdetik di hati nya setitik kotoran yang muncul dalam hati.
"Rafli.." suara lembut itu memanggil namanya, "ada lagi barang-barangmu yang mau kamu bawa?"
"insya Allah tidak mah, udah cukup" jawab Rafli.
"yaudah, kalau begitu" sang ibu kemudian duduk di sampingnya, ditatapnya anak sulungnya yang akan melalang buana melintasi daratan dan lautan kesebuah negeri yang nun jauh 3500 km tepatnya. Kemudian sang ibu menyeka matanya.
"kamu udah besar yah nak,"
"heheheh" si Rafli hanya nyegir dia tahu bahwa ibu nya tentu sedih.
"baik-baik kamu di sana yah" suasana hening seketika, hanya jarum jam saja yang terdengar. Rafli hanya menunduk, tidak mau lebih dari ini tak tega jika wanita yang paling ia cintai bersedih kembali. Fikirnya melayang jauh mundur kebelakang, saat itu dia masih mengabdi di sebuah pondok di daerah Jawa Timur. Usai shalat Ashar dering hp-nya berbunyi tertera di situ tulisan "mamah" tanda bundanya yang menelpon.
"Assala..." belum lengkap ia mengucapkan salam sang bunda menyerbu Rafli dengan kata-kata
"NAAAAK....SELAMAT NAAAAKKKKK" Rafli mengerutkan dahi keheranan.
"Kamu lulus nak.... Nama-mu ada." Ia terheran... "jangan-jangan" itu lah yang ada dibenaknya. Seketika itu juga ia pergi ke kamarnya membuka laptop kemudian ia berselancar di dunia maya. Ia ketik laman yang selalu ia pantau perkembangannya, ketika laman itu dibuka hanya ada 15 nama yang tertera di situ. Diperhatikannya nama itu dari Nomor 1 sampai 12 bukanlah namanya yang tertera di sana antara percaya atau tidak, ia berusaha tenang. Karena ibunya sudah melihatnya. Nomor 13, ternyata masih nama orang lain. Hanya tinggal 2 nama lagi. Dan di Nomor 14 lah namanya tercantum reflek iya sujud syukur kemudian ia kembali ke hp-nya
"iya mah, Alhamdulillah"
......
"Nak,.." sang ibu mengelus rambut anak sulungnya itu.
"mamah, tidak minta apa-apa kepada-mu, dan mamah-pun tidak menuntutmu menjadi orang besar. Tapi mamah hanya ingin seseorang yang mendoakan mamah nanti di saat mamah sudah harus beristirahat nanti" Rafli mengangkat wajah-nya di tatapnya wanita yang sudah hamper kepala empat ini. Dia tak menjawab apapun hanya pelukan dalam. Suasana seketika itu menjadi haru. Hanya ada ibu dan si anak sulung yang akan berusaha melangkah dan menyelami dalamnya lautan kehidupan.
YOU ARE READING
Sebuah Ikhtiar Untuk Memilih
SpiritualPengalaman dan Perjalanan Hidup tentu merupakan guru yang paling baik, jatuh bangunnya Rafli dan pergulatannya selama menuntut ilmu di negeri perantauannya memberikan paradigma baru mengenai kehidupan dan arti dari cinta. Penasaran? yuk ikuti kisahn...
