Prolog

42 1 0
                                        

Ana selalu percaya bahwa setiap tempat memiliki cerita.

Bagi orang lain, bakery kecil di sudut jalan itu mungkin hanyalah sebuah toko yang menjual roti dan kue. Namun bagi Ana, tempat itu adalah bagian dari hidupnya.

Sejak kecil, Ana sudah terbiasa dengan aroma roti hangat yang memenuhi ruangan setiap pagi, suara loyang yang diletakkan di atas meja, dan tangan ibunya yang selalu sibuk mengolah adonan dengan penuh kesabaran.

Baginya, bakery itu adalah tempat pertama ia mengenal arti kerja keras dan kasih sayang.

"Ana, membuat roti bukan hanya tentang mencampurkan bahan-bahan. Ada perasaan yang ikut kita masukkan di dalamnya."

Kalimat dari ibunya itu selalu tersimpan dalam ingatan Ana.

Ibunya mengajarkan bahwa setiap roti memiliki cerita. Ada kebahagiaan seseorang yang sedang merayakan sesuatu, ada kehangatan keluarga yang berkumpul, dan ada harapan kecil dari seseorang yang hanya ingin menikmati hari yang lebih baik.

Waktu terus berjalan, dan Ana tumbuh bersama tempat yang telah menjadi bagian dari hidupnya itu.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, bakery sederhana tersebut akan membawanya bertemu dengan seseorang yang memiliki cerita berbeda.

Seseorang yang telah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya.

Seseorang yang perlahan akan mengajarkan Ana bahwa tidak semua luka harus disembunyikan, dan tidak semua kenangan harus ditinggalkan.

Karena terkadang, sebuah pertemuan kecil dapat menjadi awal dari perubahan terbesar dalam hidup seseorang.

The Last PhotographCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang