Awalan

31 1 0
                                        

Lagi-lagi hujan, memang itulah permasalahanku, aku sebagai anak kecil yang sedang asyik bermain layangan di sore hari, tiba-tiba diterpa hujan lebat. Layanganku rusak, aku menangis dibawah lebatnya hujan. Tiba-tiba sebuah perahu kertas menghampiriku, menabrak kaki yang ku biarkan terendam air mengalir, mengambilnya dan memainkannya dibawah hujan. Perahu kertas dengan lapisan lilin berlayar di selokan, aku berlari disampingnya, tepat dipinggir jalan diatas trotoar, membawanya ketika di penghujung selokan kecil dan memulainya kembali.

Aku merasa senang sendirian.

Namun ketika ku terlanjur senang, hujan berhenti. Air di selokan perlahan surut, terlihat beton keras berlumut didasarnya, perahuku tak mau lagi berlayar. Aku kembali menangis dibawah cerahnya awan.

Mainan kertasku hilang; layang-layang dan perahu.

Semua karena satu hal yang sama; hujan.

Bedanya hanya tentang waktu; saat menggantikan, saat ditinggalkan.

Dan semua itu aku rasakan sendirian.

Lalu, apa persamaanmu dengan hujan?

Tiba-tiba datang dengan deras; penuh perhatian, penuh cinta dan kasih sayang, lalu tiba-tiba selesai, berhenti, hilang, lalu menyisakkan dingin sebagai kenangan. Menyedihkan.

Catatan Hujan #2Donde viven las historias. Descúbrelo ahora