DAN

2 0 0
                                        

Dan

"Silahkan perkenalkan diri kamu", Pak Guru di kelas itu sambil mempersilahkanku.

"Hai teman-teman, perkenalkan namaku Raisa Aprilia, panggil saja aku Raisa. Aku pindahan dari SMA Nusa Bangsa Jakarta. Rumahku nggak jauh dari sekolah ini, kalian boleh kok main kerumahku. Salam kenal semuanya...", sambil tersenyum. Saat Pak Guru menunjukkan bangku mana yang akan ku duduki, tiba-tiba datang seorang anak laki-laki yang bajunya berantakan tidak dimasukkan dan nyelonong masuk kelas begitu saja.

"Heh kamu! Baju kamu dimasukkan, nyelonong begitu saja tidak sopan!", tangannya menyiku di pinggang sambil geleng-geleng melihat anak itu.

"Hehe iya pak, maaf ya..", dia langsung duduk di bangkunya. Dan ternyata bangkunya bersebelahan denganku.

"Hai.. kamu anak baru ya. Aku Adrian, nama kamu siapa?", sambil menyodorkan tangan kanannya padaku. Lihat penampilannya sih begitu berantakan tapi kalau lihat wajahnya sepertinya not so bad.

"Aku Raisa..", ku jabatkan tanganku padanya. "..salam kenal ya", senyumku padanya.

***

Saat istirahat aku duduk di dekat lapangan basket sambil membaca buku novelku. Aku melihat para cowok sedang latihan basket. Lirik-lirik sedikit bolehlah. Mereka terlihat cool dan lihai bermain basketnya. Seketika ada anak cowok yang masuk lapangan. Sepertinya dia juga salah satu anggota tim basket itu. Tunggu dulu.. Aku seperti mengenalnya. Dia Adrian bukan? Lalu dia langsung ikut gabung dan latihan bersama. Kalau dilihat-lihat sih dia cakep juga, tinggi, putih, anaknya asyik. Aduh. Ngapain juga aku jadi mikirin dia.

"Hai awas!", bola itu mengarah kepadaku. Huft. Untung tidak kena aku. Adrian berlari menghampiriku.

"Kamu gakpapa kan?", menatapku dengan pandangan yang entah membuatku jadi deg-degan. "I..iya gakpapa kok. Hmm...aku ke kelas dulu ya", aku langsung pergi tanpa mempedulikan dia.

Aku kenapa. Kok bisa sampai deg-degan gini. Tatapannya tadi. Oh, Tuhan. Belum pernah aku merasakan seperti ini. Baru saja tadi pagi kenal. Masak iya aku suka dia.

***

"Raisa kita pulang dulu ya. Daaa... ", sambil melambaikan tangan mereka.

"Eh iya, takecare all", tanganku juga melambaikan pada mereka. Kita beda arah. Mereka dijemput orangtuanya atau kakak atau juga pacar mereka. Aku cukup jalan kaki karna rumahku juga dekat sekitar 100 meter dari sekolah. Tapi kok berasa ada yang ngikutin ya. Aku lihat belakang nggak ada siapa-siapa. Jangan-jangan penguntit? Penculik? Bukan-bukan. Raisa don't negative thingking. Aku langsung berjalan cepat, tapi berasa nggak sampai-sampai rumah.

Akhirnya..sampai rumah juga. Mana dia? Nggak ngikutin aku kan?

"Dorrrr..", jantungku mau copot. Tiba-tiba ada orang yang mengagetkanku.

"Hei! Dasar kamu ya jail banget. Jadi, daritadi yang ngikutin aku tuh kamu?", masih dengan wajah yang super duper buat jantungku benar-benar mau copot.

"Hehe..sorry for it. Hmm..ini rumah kamu? Boleh aku main?", lagi-lagi tatapan itu. Yang tadinya mau copot, lha ini berasa jadi gak karuan. "Boleh".

Yakin? Dia main kerumahku? Kan baru kenal?

"Silahkan duduk. Aku masuk dulu bentar ya", dia mengangguk mengiyakan.

"Mahhh.. Mama..", coba ke dapur siapa tahu Mama lagi masak. Kan udah waktunya makan siang.

"Hei sayangnya Mama sudah pulang", kucium tangan Mamaku.

"Iya Mah..Mama lagi masak apa?", aromanya, aku jadi sangat lapar. Ya ampun aku lupa.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Mar 23, 2019 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

DanHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora