SERUNI JAM 1 Part 1

128 11 1
                                        

"Hallo Nak,ini Mami."

"Mamiiiii I miss you."

"Jangan ribut nanti Oma dengar, Andara bagaimana kabarmu Nak?"

"Aku sehat, Mami bagaimana?"

"Mami juga sehat Sayang, Oma sehat Nak?"

"Penyakit Oma sering kambuh Mi ..."

"Kamu jaga Oma baik-baik yah Nak, besok mami telepon lagi."

Entah apa yang membuat Oma sangat membenci darah dagingnya sendiri, Setiap melihat Mami langsung sesak nafas. Aku sebenarnya sangat dilema karena kedua orang yang paling ku sayangi tidak bisa bersatu. Papi sudah menghadap sang pencipta saat aku berumur 4 tahun, kata oma ada lakalantas yang menyeret papi ke jurang dan jenazahnya hilang.

===============================

Beberapa hari ini berita ditelivisi dihebohkan dengan kasus pembunuhan misterius yang sadis. Oma sampai melarangku menonton televisi.

"Dimana Mamimu sekarang?" Oma tiba-tiba saja bertanya mengenai Mami.

"Di apartemennya Oma"

"Jangan sering telepon Mamimu!"

Aku hanya diam mendengar perintah Oma, ku perhatikan wajahnya sendu lalu berjalan dengan lemah masuk ke kamarnya mungkin dia khawatir dengan mami. Entah sampai kapan mereka begini.

"Tooollllloooooonnnggggg ..."

Suara perempuan minta tolong tidak jauh dari rumah, membuatku dan oma kaget, kami segera keluar rumah menuju sumber suara dari jauh sudah tampak banyak orang berkumpul.

"Paman ada apa?" Tanyaku pada tetangga

"Pak Sulaiman digorok, tangannya bahkan putus"

"Apaaaaaa"

Pak Sulaiman adalah tetangga kami yang baik, dia pemilik warung bak mie tidak jarang dia memberiku bak mie secara cuma-cuma.

"Ayo kita pulang" Oma menarik lenganku.

"Tapi Oma, itu Pak Sulaiman," Tangisku pecah.

Oma tidak mempedulikan tangisku, dia terus menyeretku pulang, wajahnya pias tampak sangat ketakutan. Malam itu Oma tidur di kamarku sambil memelukku, jantungnya berdebar kencang, tangan dan kakinya dingin bagai es.

"Oma baik-baik saja?" Tanyaku khawatir.

"Oma baik sayang, tidurlah."

Srriitttttt ... srriiitttt ... Sriiittttt ... Suara besi diseret mengangagetkanku, jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Suara itu semakin mendekat, Oma memelukku semakin erat.

"Tidurlah, tidak akan terjadi apa-apa."

Aku ketakutan dan gemetaran suara itu semakin dekat dengan kamar kemudian berhenti tepat dijendela lalu, brukkkk ... bruuukkk ... jendela yang terbuat dari kayu dipukul dari luar dan terhalang oleh besi teralis hiasan jendela. Oma menutup mulutku rapat-rapat dengan tanganya, aku menangis ketakutan.

"Jangan teriak sayang." Bisik Oma.

Jam sudah menujukkan pukul setengah 3 pagi suara itu akhirnya pergi tapi tiba- tiba aroma dupa dan bunga seruni manyeruak masuk dikamar. Oma tetap berusaha tenang memelukku sampai matahari terbit.

"Jangan kemana-mana hari ini!" Perintah Oma.

"Tapi Oma kita harus melayat kerumah Pak Sulaiman,"

"Jangan keluar, ini perintah jangan membantah." Hardik Oma.

Aku berjalan kearah Oma lalu memeluknya.

"Oma ... Pak Sulaiman sangat baik sama Andara." Bujukku.

"Demi keselamatanmu dan Oma jangan keluar rumah."

"Maksud Oma?"

"Pokoknya ikuti saja perintah Oma, mulai sekarang jangan hubungi Mamimu, putuskan komunikasi dengannya ini demi keselamatan kita semua, masuk kamar dan bereskan pakaianmu masukkan kedalam koper kita harus pergi dari sini sayang."

"Oma ada apa sebenarnya?"

"Oma akan jelaskan nanti cepat sana siapkan."

Jantungku berdegup cepat, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, tidak mungkin membantah perintah Oma. Aku menyeret koperku keluar kamar. Oma juga sudah siap bahkan sudah memesan taksi online.

"Lepaskan simcardmu!" Perintah Oma

"Kenapa Oma?"

"Demi keselamatan kita semua."

Aku membuka ponselku lalu membuang simcardku ketempat sampah.

"Dengarkan sayang kita akan pergi ke suatu tempat yang aman jangan hubungi siapapun bahkan Mamimu, kita akan pergi entah berapa lama sampai keadaan membaik, maafkan Oma sayang." Oma menangis memelukku.

"Bagaimana dengan kuliahku, Oma?"

Oma tidak menjawab hanya menggelengkan kepala dari luar taksi online mengklakson, kami segera bergegas. Sedih rasanya meninggalkan rumah yang penuh kenangan. Oma membuang simcardnya lalu mengikutiku masuk taxi.

================================

Mobil memasuki daerah hutan yang rindang dan sedikit suram, dengan jalan yang berkelok tak tampak sedikitpun ada pemukiman. Semakin kedalam hutan semakin suram kemudian sampai di sebuah daerah perbukitan yang berpenduduk, pemandangannya sangat kontras dengan perjalan tadi, tempat ini seperti surga sangat indah tapi sepi.

Mobil berhenti disebuah rumah tua seperti peninggalan jaman Belanda sangat Vintage tapi menawan tamannya dipenuhi bunga.

"Ini Pak." Oma membayar taksi 10 kali lipat.

"Seperti yang kita bicarakan tadi di telpon, jangan pernah menceritakan kepada siapapun kalau bapak pernah mengantar penumpang sampai ke daerah ini!" Suara Oma sangat tegas.

"Baik bu, pokoknya setelah sampai di kota saya akan lupa tempat ini." Si Sopir menerima uang dengan puas lalu berlalu.

Seorang wanita tua dengan tergesa-gesa menghampiri kami.

Bersambung ...

SERUNI JAM 1Where stories live. Discover now