Days when you hate that you're you ...
Days when you wanna disappear ...
It's here ... haunting you ...
***
"Kwon-ah! Ya! Kim Kwon!" teriak seorang pria berusia paruh baya ketika melihat seorang pemuda berambut hitam dengan rambut menutupi dahinya. Mata almond-nya terlihat layu karena lelah. Pemuda bernama Kwon tersebut memutar tubuhnya perlahan dan melihat ke arah pria bertubuh agak gempal itu. Ia tersenyum dengan sangat terpaksa sambil berjalan menyeberangi jalan kecil di gang itu.
"Selamat siang, Ahjussi," sapa Kwon dengan ramah. "Ah, kalau kau ingin menagih hutang padaku, aku belum bisa membayarnya saat ini. Besok? Besok aku akan membayarnya," kata Kwon cepat, ia terdengar sangat pintar untuk melepaskan dirinya sendiri dari masalah yang melilitnya. Bahkan sebelum pria itu menagihnya, Kwon sudah menjelaskan semuanya tanpa ada sedikitpun hal yang terlewat.
Pria itu hanya diam karena kaget. Tangannya menepuk bagian belakang kepala Kwon sambil menggelengkan kepalanya. "Ya! Kau pikir kau bisa menipuku seperti itu? Aku tahu kalau kau tidak akan bisa membayar hutang-hutang itu. Aku akan menganggap lunas hutang-hutang itu kalau kau mau membersihkan gudang untukku. Bagaimana?" tanya pria itu sambil berkacak pinggang. Perut buncitnya mencuat dari celananya. Ia berdiri di depan pintu restoran miliknya yang nampak tua.
Kwon hanya menatap pria itu dengan tatapan bingung. Kecurigaan menyelimutinya selama beberapa saat sebelum akhirnya ia menerima tawaran itu. "Aku hanya perlu membersihkan SEBUAH gudang, kan?" tanyanya memastikan. Pria itu mengangguk. Kemudian ia mengusir Kwon setelah menyuruhnya untuk kembali besok pukul delapan pagi hari.
***
"Good morning, Ahjussi!" Sapa Kwon sambil tersenyum ramah, ia bahkan membungkukkan tubuhnya, tidak seperti biasanya.
"Apa kau tidak tahu sekarang pukul berapa?" tanya pria itu kesal ketika Kwon muncul dengan senyum lebar seakan-akan tidak merasa bersalah sama sekali. Pria itu berjalan menuju mobil truk tua miliknya. Kwon pun mengikuti pria itu masih tidak tahu lokasi tempat ia akan bekerja.
Pria itu mengendarai mobilnya keluar dari gang, menuju jalan raya, keluar masuk gang yang membuat Kwon kehilangan arah. Setelah satu jam berkendara, akhirnya mobil itu berhenti di depan sebuah bangunan kecil tua yang tidak jauh dari taman hiburan Wolmido, yang berada di Incheon. Mata Kwon berkeliling mencari tahu posisinya. Pria itu menyuruh Kwon untuk keluar dari mobil hampir dengan cara paksa. Pemuda itu tidak percaya pada tatapannya. Bangunan seperti toko barang antik yang sudah hampir runtuh adalah satu-satunya bangunan yang tidak tersentuh oleh pertumbuhan perekonomian di kota itu. Kwon merasa ia seperti berada di zaman yang berbeda ketika melihat wajah bangunan itu yang sangat terlihat suram.
"Apa lagi yang kau tunggu? Silahkan bekerja," kata pria itu sambil berjalan meninggalkan Kwon memasuki sebuah bangunan tidak jauh dari sana yang memiliki penampilan tidak jauh berbeda dengan toko antik di depannya ini.
Kwon mengerjap beberapa kali karena bingung. "Ahjussi!" teriaknya tidak terima karena ia merasa tertipu. "Ahjussi! Apa kau benar-benar menyuruhku membersihkan rongsok ini?" teriak Kwon kesal. "Aish! Aku tidak akan melakukannya," kata Kwon melempar sarung tangan kain berwarna merah-putih yang tadi diberikan pria tadi ke tanah bebatuan.
"Apa? Kau ingin melaporkan diriku atas tindakan penipuan?" tantang pria itu tidak peduli. "Kalau kau ingin menghabiskan separuh hidupmu di balik jeruji, laporkan saja aku. Aku tidak peduli," kata pria itu lagi yang kemudian berjalan menjauh dari tempat Kwon mematung.
Kwon dengan jengkel menendang bebatuan di depannya. Ia pun memungut sarung tangan yang tadi ia lempar sambil mengumpat dengan jengkel. Langkah kakinya diseret karena kesal. Ini bukanlah gudang yang ia bayangkan, tapi ini lebih seperti sebuah rumah tua. Rumah. Kwon membayangkan dirinya akan membersihkan sebuah ruang penuh debu dan penuh barang, bukan sebuah toko tidak terurus seperti ini.
YOU ARE READING
지독한 blooming
FantasyYou can play with me until you sick of me. But you won't and you can't throw me even when you sick of me, cause I'm not leaving you.. - SolBin, 1996. Ini tentang kehidupanku, kehidupanmu. Tentang kehidupan kita. Semua berubah setelah aku bertemu den...
